Solution For: 220 siswa penyintas bencana di Nagan Raya Aceh selesaikan ujian akhir
220 Siswa Penyintas Bencana di Nagan Raya Aceh Selesaikan Ujian Akhir
Solution For – Di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, sejumlah 220 siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang berhasil menyelesaikan ujian akhir mereka, meski belajar dalam kondisi yang terbatas. Ratusan murid ini terpaksa mengikuti proses belajar mengajar di tenda darurat setelah bencana alam melanda daerah mereka pada bulan Desember 2025 lalu. Meski tantangan besar menghiasi hari-hari mereka, Zulkifli, Kepala Dinas Pendidikan setempat, mengatakan bahwa para siswa tetap bersemangat dalam menjalani ujian akhir. “Alhamdulillah, meskipun terkena dampak banjir bandang, para siswa di Beutong Ateuh tetap tekun menyelesaikan ujian akhir meski harus belajar di bangunan darurat,” ujar Zulkifli kepada ANTARA di Suka Makmue, Rabu.
Sekolah Darurat dan Penyesuaian Pendidikan
Pemerintah setempat telah berupaya keras untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan lancar meski dengan fasilitas yang terbatas. Sejumlah siswa, terutama dari SMP Negeri Beutong Ateuh, kini belajar di tempat yang sementara digunakan sebagai sekolah darurat. Menurut Zulkifli, jumlah siswa yang terus belajar di fasilitas tersebut mencapai 97 orang, terdiri dari 54 siswa laki-laki dan 43 siswa perempuan. Sementara itu, di SD Negeri 1 Beutong Ateuh Banggalang, terdapat sebanyak 55 siswa laki-laki dan 68 siswa perempuan yang masih menjalani pendidikan di tenda darurat, sehingga total mencapai 123 orang.
Zulkifli menjelaskan bahwa meskipun gedung sekolah lama rusak parah dan tidak bisa digunakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyiapkan lingkungan belajar yang layak. “Kami berupaya memberikan fasilitas sekolah sementara agar aktivitas belajar tidak terganggu,” tegasnya. Langkah ini diambil setelah instruksi langsung dari Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan, yang memerintahkan agar pendidikan tetap berjalan meski kondisi terpuruk. Dengan adanya sekolah darurat, proses belajar mengajar bisa dilanjutkan secepat mungkin, sehingga tidak ada siswa yang terhenti aktivitasnya.
“Alhamdulillah, kondisi anak-anak sekarang sudah ceria kembali dan bisa menerima keadaan yang ada saat ini,” kata Zulkifli. Ia menambahkan bahwa para siswa telah memperlihatkan ketangguhan mereka, baik secara akademik maupun secara psikologis, meski harus beradaptasi dengan lingkungan belajar yang berbeda dari biasanya.
Dalam upaya memulihkan kondisi psikologis siswa, pihak Dinas Pendidikan memberikan pendampingan khusus kepada para penyintas bencana. Program ini bertujuan untuk membantu mereka beradaptasi dengan kehidupan baru setelah bencana mengguncang wilayah pedalaman Nagan Raya. Dengan dukungan dari berbagai pihak, kondisi emosional siswa terus diperbaiki, sehingga tidak mengganggu fokus mereka dalam belajar.
Peran Guru dan Upaya Adaptasi
Peran para guru menjadi sangat penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah situasi darurat. Zulkifli memastikan bahwa sebagian besar tenaga pengajar di sekolah darurat merupakan putra-putri asli daerah Beutong Ateuh Banggalang. “Mayoritas guru yang bertugas adalah warga setempat, sehingga proses adaptasi di sekolah darurat berjalan lancar,” jelasnya. Hal ini membantu membangun rasa percaya dan kenyamanan antara siswa dengan lingkungan belajar baru.
Secara keseluruhan, pihak pemerintah dan masyarakat setempat berupaya memperkuat sistem pendidikan agar tetap stabil meski dihadapkan dengan keterbatasan. Meski belajar di tenda darurat, para siswa tidak hanya menerima materi pelajaran, tetapi juga bimbingan untuk mempercepat pemulihan psikologis mereka. Zulkifli menekankan bahwa langkah ini tidak hanya mengenai ketersediaan fisik gedung sekolah, tetapi juga tentang memastikan anak-anak tetap merasa aman dan percaya diri dalam proses belajar.
“Kami berupaya memberikan fasilitas sekolah sementara agar aktivitas belajar tidak terganggu,” kata Zulkifli. Dengan adanya sekolah darurat, proses belajar mengajar bisa dilanjutkan secepat mungkin, sehingga tidak ada siswa yang terhenti aktivitasnya.
Keterlibatan masyarakat lokal dalam pendirian sekolah darurat juga menjadi faktor penting. Sejumlah warga setempat membantu merancang dan mengisi tenda serta ruang belajar yang tersedia, sehingga suasana belajar tetap kondusif. Selain itu, organisasi nirlaba dan donatur juga turut serta memberikan bantuan dalam hal bahan ajar dan perlengkapan sekolah. “Dukungan dari berbagai pihak membuat kami lebih yakin bahwa pendidikan di wilayah ini bisa pulih dengan cepat,” ungkap Zulkifli.
Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan, menekankan bahwa pendidikan merupakan fondasi penting dalam pemulihan pasca-bencana. Ia meminta Dinas Pendidikan untuk terus berinovasi dalam penyelenggaraan pembelajaran, baik melalui metode konvensional maupun teknologi sederhana yang bisa diakses. “Pendidikan tidak boleh terhenti hanya karena bencana, karena itu menjadi investasi jangka panjang untuk masa depan generasi muda kita,” katanya.
Dalam beberapa bulan terakhir, keberhasilan para siswa dalam mengikuti ujian akhir menjadi bukti bahwa pendidikan tetap bisa berjalan meski dalam kondisi yang tidak ideal. Meski banyak yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru, para siswa tetap menunjukkan semangat dan komitmen untuk menyelesaikan tugas belajar mereka. Zulkifli optimis bahwa dengan konsistensi dari pihak pemerintah dan masyarakat, proses pendidikan di Nagan Raya akan kembali normal dalam waktu dekat.
