New Policy: Wamenhaj harap jamaah calon haji lansia fokus pada ibadah inti
Wamenhaj Harap Jamaah Calon Haji Lansia Fokus pada Ibadah Inti
Tarakan, Kaltara (ANTARA) – 10 September 2025
New Policy – Dalam wawancara di Bandara Juwata Tarakan, Kaltara, pada Senin (10 September 2025), Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengingatkan para jamaah haji yang berusia lanjut untuk tidak memaksakan diri dalam kegiatan ritual utama. Ia menekankan bahwa fokus utama jamaah lansia seharusnya pada ibadah-ibadah inti, agar tidak menguras tenaga secara berlebihan.
“Yang penting beliau-beliau (jamaah lansia) jangan terlalu memaksakan kegiatan ibadah, karena sekitar 95 persen dari seluruh rangkaian ibadah haji bersifat fisik,” ujarnya. Menurut Dahnil, banyak dari kegiatan ibadah haji memerlukan pergerakan tubuh yang signifikan, sehingga jamaah usia lanjut perlu memperhatikan stamina dan kesehatan diri sendiri.
Dahnil menjelaskan bahwa Kemenhaj juga telah mengeluarkan peringatan beberapa kali kepada petugas haji, termasuk Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), agar tidak mengajak jamaah mengikuti tur keliling kota serta program umrah secara berulang. Ia menambahkan bahwa pihaknya berupaya keras untuk mencegah jamaah dijadikan sebagai objek komersial yang diharuskan terus beraktivitas fisik tanpa batas.
“Kami juga memperingatkan KBIHU supaya pemimpin rombongannya tidak melakukan itu. Kalau mereka melakukan itu kami akan peringatkan,” katanya. Peringatan tersebut diberikan sebagai upaya memastikan kegiatan haji tetap bermakna dan tidak terganggu oleh kegiatan tambahan yang tidak esensial.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) telah memberikan peringatan tegas kepada sejumlah KBIHU yang dianggap terlalu memaksakan jamaah lansia. Dahnil menyatakan bahwa langkah ini diambil karena ada indikasi beberapa KBIHU sudah mengubah fokus perjalanan haji menjadi usaha menjual layanan tur dan umrah secara terus-menerus, sehingga jamaah bisa terkesan dianggap sebagai komoditas.
Menurut Dahnil, peringatan ini bukan sekadar simbolik, melainkan sebagai langkah konkret untuk menjaga kualitas ibadah haji. “Kami ingin, berhenti menjadikan jamaah itu sebagai komoditas,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa selama ini terjadi kesalahpahaman di antara KBIHU yang mengira tur keliling kota dan umrah berulang adalah bagian dari program wajib, padahal sebenarnya hanya sebagai penambah.
Dahnil menegaskan bahwa ibadah haji memiliki inti yang jelas, yaitu pelaksanaan ritual utama seperti thawaf, sa’i, dan pembukaan ihram. Karena itu, ia meminta jamaah lansia untuk tidak terjebak dalam kegiatan ekstra yang bisa mengganggu keseluruhan tujuan perjalanan haji. Selain itu, Dahnil menyebutkan bahwa Kemenhaj telah melakukan penyesuaian di berbagai aspek program haji, termasuk menambahkan pengawasan khusus untuk jamaah usia lanjut.
Di sisi lain, Dahnil juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara KBIHU dan pemangku kepentingan lain dalam menyelenggarakan haji yang lebih humanis. Ia mengatakan bahwa petugas haji harus memahami bahwa jamaah lansia memerlukan penyesuaian dalam jadwal dan intensitas aktivitas, agar tetap bisa menikmati pengalaman spiritual tanpa mengorbankan kesehatan. “Kami ingin ibadah haji tetap menjadi momen istimewa yang bisa dirasakan oleh semua jamaah, terutama yang berusia tua,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemenhaj telah memperkenalkan beberapa protokol baru untuk mengoptimalkan kenyamanan jamaah lansia. Salah satunya adalah pengurangan jadwal kegiatan fisik yang berat, serta penggunaan fasilitas pendukung seperti kereta khusus dan layanan pengantaran antar-jemput. Dahnil menilai ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa jamaah lansia tetap bisa menjalankan ibadah haji secara utuh tanpa kelelahan berlebihan.
Dahnil juga menyoroti peran penting jamaah lansia dalam ibadah haji. Menurutnya, mereka adalah bagian dari sejarah dan keberagaman perjalanan haji, yang perlu dihormati dan dijaga. “Jamaah lansia tidak hanya merepresentasikan keberlanjutan tradisi, tapi juga menjadi contoh keberanian dalam melaksanakan kewajiban agama,” katanya. Ia berharap para jamaah tersebut tetap semangat, namun tidak terlalu berlebihan dalam aktivitas.
Kemenhaj, kata Dahnil, juga sedang melakukan evaluasi terhadap seluruh KBIHU yang bertugas di Kaltara. Evaluasi ini mencakup aspek kesehatan, keamanan, dan kepuasan jamaah. “Kami ingin semua program haji tetap sesuai dengan tujuan awal, yaitu memberikan pengalaman spiritual yang bermakna,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa jika diperlukan, Kemenhaj siap melakukan tindakan tegas, termasuk pencabutan izin, untuk memastikan bahwa jamaah lansia tidak terabaikan dalam pengelolaan perjalanan haji.
Dahnil menutup wawancara dengan mengingatkan bahwa pentingnya ibadah inti tidak boleh terlupakan. “Jamaah lansia harus menikmati setiap momen perjalanan haji, karena mereka adalah bagian dari keberagaman dan keutamaan peristiwa ini,” kata wamenhaj tersebut. Ia berharap seluruh jamaah, terutama yang lebih tua, bisa menjalani haji dengan baik dan aman, sekaligus merasakan makna ibadah secara utuh tanpa terganggu oleh aktivitas tambahan yang tidak esensial.
Dalam wawancara tersebut, Dahnil juga menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat tentang keberagaman kebutuhan jamaah haji. Ia menjelaskan bahwa tidak semua jamaah memiliki kemampuan fisik yang sama, sehingga perlunya penyesuaian di setiap aspek program. “Kami berharap masyarakat bisa memahami bahwa haji bukan hanya tentang kuantitas,
