New Policy: LPPOM bakal buat proyek contoh toko bahan baku halal di tiga provinsi
LPPOM Bakal Buat Proyek Contoh Toko Bahan Baku Halal di Tiga Provinsi
New Policy – Jakarta – Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) tengah merancang sebuah inisiatif strategis berupa proyek contoh toko bahan baku halal di tiga provinsi. Proyek ini bertujuan untuk memperkuat rantai pasok kehalalan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). “Proyek ini akan terus diperluas, dengan fokus pada pembangunan di tiga provinsi, yaitu Bengkulu, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur, sebagai contoh yang dapat diikuti,” jelas Direktur Utama LPPOM Muti Arintawati saat menghadiri Puncak Acara Festival Syawal 2026 di Jakarta, Kamis.
Kemitraan dan Kolaborasi dalam Proyek Ini
Muti menegaskan bahwa pengembangan proyek toko bahan baku halal tidak bisa dilakukan secara mandiri. Dia menyatakan kerja sama lintas sektor sangat penting untuk menciptakan model toko yang ideal dan bisa diadopsi di wilayah lain. “Dengan menggandeng berbagai pihak, kita dapat memastikan standar yang konsisten dan transparan,” ujarnya. Proyek ini tidak hanya melibatkan LPPOM, tetapi juga memerlukan dukungan dari pemerintah daerah, pengusaha, dan lembaga kehalalan lainnya. Kolaborasi ini diharapkan akan mendorong peningkatan kualitas produk UMKM serta memudahkan proses sertifikasi halal bagi masyarakat.
“UMKM harus merasa yakin ketika membeli bahan, misalnya daging, bahwa itu sudah dijamin halal. Bahkan jika membutuhkan sertifikat halal, toko tersebut dapat menyediakannya,” kata Muti.
Menurut Muti, toko bahan baku halal menjadi pilar penting dalam ekosistem kehalalan. “Toko bahan baku ini adalah salah satu mata rantai kritis. Bisa berbentuk toko daging, toko bahan kue, bahkan koperasi, yang menjamin bahwa dari produsen hingga ke UMKM, kehalalannya terjaga,” tambahnya. Ia menambahkan bahwa model ini juga bertujuan untuk memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam mengakses bahan baku yang sudah terverifikasi, sehingga meminimalkan risiko kesalahan dalam proses produksi.
Toko Bahan Baku Halal Sebagai Solusi Praktis
Dalam rangkaian kegiatan Festival Syawal 2026, LPPOM juga memfasilitasi sertifikasi halal untuk toko bahan baku yang terkait. Kegiatan ini diikuti oleh 61 pelaku usaha dari 19 provinsi. Muti menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah bagian dari upaya membangun infrastruktur kehalalan yang lebih solid. “Adanya toko bahan baku halal sangat penting, karena menjadi titik awal bagi UMKM dalam memperoleh bahan yang memiliki jaminan kehalalan,” imbuhnya.
Pengembangan proyek ini diawali dengan pembukaan dua cabang toko bahan baku daging dan produk beku di Bogor. Meski demikian, Muti menekankan bahwa ini hanya awal dari upaya besar yang sedang digagas LPPOM. “Kami ingin mengembangkan proyek contoh ini menjadi referensi nasional, sehingga berbagai pihak dapat mengikuti langkah-langkah yang telah dijalankan,” katanya. Ia juga menyoroti tantangan yang sering dihadapi pelaku usaha, seperti pembelian bahan dalam kemasan kecil tanpa informasi produsen yang jelas. Praktik ini berpotensi menimbulkan ketidakpastian kehalalan, yang menjadi hambatan bagi pengembangan bisnis UMKM.
Persiapan dan Standar Operasional yang Diperhatikan
Menurut Muti, proyek ini tidak hanya mengenai sertifikasi, tetapi juga mencakup standar operasional yang ketat. “Kami akan memastikan alat-alat yang digunakan dalam toko tidak terkontaminasi bahan non-halal,” jelasnya. Selain itu, pemilihan peralatan sederhana harus dilakukan dengan kriteria yang jelas, seperti berasal dari bahan halal. Standar ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan usaha yang lebih aman dan terpercaya bagi konsumen.
Dalam proses implementasinya, LPPOM juga berencana memberikan pelatihan bagi pengelola toko bahan baku halal. “Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para pengusaha, sehingga mereka mampu menjaga kehalalan produk secara mandiri,” tambah Muti. Ia menjelaskan bahwa proyek contoh ini akan menjadi dasar bagi ekspansi lebih luas ke daerah-daerah lain. “Dengan adanya toko yang diakui sertifikasi halal, UMKM tidak perlu lagi melakukan penelusuran panjang terhadap asal-usul bahan,” ujarnya.
“UMKM harus merasa yakin ketika membeli bahan, misalnya daging, bahwa itu sudah dijamin halal. Bahkan jika membutuhkan sertifikat halal, toko tersebut dapat menyediakannya,” kata Muti.
Penguatan Sektor Hulu dalam Ekosistem Halal
Muti menyebut pilot project ini sebagai bagian dari penguatan sektor hulu dalam ekosistem halal. “Sertifikasi pada jasa penjualan di toko bahan baku halal diharapkan akan mempercepat proses sertifikasi produk UMKM,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa keberadaan toko yang terakreditasi halal memastikan setiap langkah dalam rantai pasok diperiksa secara menyeluruh. “Dari produksi hingga distribusi, bahan baku yang digunakan harus memiliki jaminan kehalalan yang dapat dibuktikan,” tambahnya.
Dalam upaya menjaga kualitas, LPPOM juga menggandeng para ahli dan mitra untuk menilai sistem pengelolaan toko bahan baku. “Kolaborasi ini membantu kita mengidentifikasi kelemahan dan mengatasi masalah yang mungkin muncul selama proses,” jelas Muti. Proyek ini diharapkan menjadi titik awal untuk mendorong transparansi di seluruh rantai pasok, baik untuk UMKM maupun industri besar. “Keberhasilan proyek ini akan menjadi langkah konkret dalam mewujudkan ekosistem halal yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kegiatan Festival Syawal 2026 yang digelar LPPOM menjadi wadah untuk memperkenalkan proyek ini. Acara tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengakses sertifikasi halal secara lebih mudah. “Dengan adanya standar toko bahan baku halal, proses sertifikasi produk UMKM dapat dipercepat, karena kita sudah memiliki titik awal yang jelas,” ujar Muti. Ia menambahkan bahwa proyek ini tidak hanya berdampak pada kehalalan produk, tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap merek UMKM lokal.
Dalam jangka panjang, LPPOM berharap proyek contoh ini bisa menjadi model yang berkelanjutan. “Toko bahan baku halal akan membantu masyarakat lebih mudah membedakan bahan yang layak digunakan dalam produksi,” jelasnya. Ia juga berharap pihak-pihak terkait bisa memanfaatkan proyek ini sebagai ajang kolaborasi untuk mengembangkan industri halal secara holistik. “Dengan memperkuat sektor hulu, kita bisa memastikan kualitas produk yang dijual di pasar tetap terjaga,” pungkas Muti.
Langkah-Langkah Peningkatan Kualitas
Sebagai bagian dari program ini, L
