Menteri: Belum ada laporan kampus rusak signifikan akibat gempa Palu
Menteri: Belum ada laporan kampus rusak signifikan akibat gempa Palu
Menteri – Jakarta – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa hingga saat ini, kementeriannya belum menerima laporan terkait kerusakan signifikan pada institusi pendidikan tinggi akibat gempa bumi yang mengguncang Palu, Selasa (16/6). Dalam konfirmasi yang diberikan di Jakarta, Rabu, ia menyatakan bahwa laporan sementara yang diterima menunjukkan bahwa secara umum kondisi bangunan kampus masih dalam batas aman. “Tidak ada indikasi kerusakan besar yang mengganggu operasional keseluruhan kampus,” jelasnya.
Pemantauan Terhadap Kondisi Kampus
Menurut Brian, sebagian besar universitas yang terdampak melaporkan bahwa infrastruktur mereka masih layak digunakan. Meski demikian, beberapa bangunan mengalami retakan kecil pada dinding. “Kerusakan yang tercatat lebih bersifat minor dan tidak mengancam fungsi operasional kampus secara keseluruhan,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa beberapa institusi pendidikan tinggi telah memberikan laporan terkait dampak gempa, seperti jatuhnya peralatan laboratorium dan komputer akibat getaran kuat, serta runtuhnya plafon di beberapa ruangan kelas. Namun, tidak ada laporan yang menunjukkan kerusakan berat yang merusak struktur utama.
“Berdasarkan laporan sementara yang kami terima, secara umum belum ada laporan kerusakan yang signifikan pada bangunan kampus, yang disebabkan karena gempa,” katanya dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Pemerintah telah melakukan pemantauan terhadap kondisi kampus di Palu, dan hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar bangunan masih dapat digunakan. Brian menyebutkan bahwa kerusakan yang terjadi terutama terbatas pada bagian-bagian minor, seperti retakan dinding, pelepasan material pelapis, dan kerusakan pada sarana pembelajaran. Ia juga memastikan bahwa laporan kerusakan serius seperti jatuhnya atap atau kerusakan struktur utama belum diterima hingga kini.
Seismologi dan Lokasi Gempa
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tektonik dengan magnitudo 6,7 terjadi di Palu pada Selasa (16/6). Pusat gempa berada pada koordinat 1,13 derajat lintang selatan dan 120,23 derajat bujur timur, sekitar 42 kilometer arah tenggara Kota Palu. Getaran gempa tersebut juga dirasakan di beberapa wilayah Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.
BMKG melaporkan bahwa hingga Rabu siang, instrumen seismograf telah mencatat 118 gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama. Tren magnitudo gempa susulan menunjukkan penurunan yang terus berlanjut, sehingga risiko kerusakan lebih besar tampaknya berkurang. Namun, intensitas getaran yang cukup kuat tetap menjadi perhatian bagi pihak terkait.
Detil Kerusakan di Kampus Universitas Tadulako
Kerusakan di Kampus Universitas Tadulako (Untad) Palu menjadi sorotan. Sejumlah bangunan di kampus melaporkan adanya kerusakan akibat guncangan gempa. Menurut data yang dikumpulkan universitas, kerusakan terjadi pada gedung-gedung yang telah direhabilitasi dan direkonstruksi setelah bencana gempa, tsunami, serta likuefaksi tahun 2018. Beberapa bagian bangunan, seperti dinding dan lantai, mengalami retakan, sementara sarana pembelajaran dan fasilitas pendukung lainnya juga terdampak.
Khususnya, Auditorium Untad melaporkan kerusakan berupa runtuhnya sebagian plafon dan gangguan pada videotron. Fasilitas ini berada dalam proses perbaikan sebelum dapat digunakan kembali. Di sisi lain, Rumah Sakit (RS) Untad mengalami retakan pada bagian-bagian non struktural, seperti dinding dan atap. Meski tidak mengguncang fungsi utama rumah sakit, kerusakan ini tetap memerlukan perhatian khusus.
Kerusakan di Fakultas Teknik dan Area Lain
Di Fakultas Teknik, sejumlah plafon tercatat roboh, sementara struktur lainnya masih dalam evaluasi lebih lanjut. Pihak universitas sedang memeriksa apakah kerusakan tersebut berpotensi memperburuk kondisi bangunan yang sudah sebelumnya dianggap stabil. Sementara itu, Gelanggang Mahasiswa juga mengalami retakan pada sejumlah bagian bangunan, tetapi kondisi ini belum dikategorikan sebagai kerusakan berat.
Menurut Brian, meskipun terdapat kerusakan di beberapa tempat, kondisi kampus secara keseluruhan masih terkendali. “Kami terus memantau dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan tidak ada risiko yang mengancam kegiatan akademik,” ujarnya. Pihaknya juga berharap agar laporan kerusakan lebih rinci dapat segera diterima untuk menentukan langkah-langkah perbaikan yang lebih tepat.
Upaya Pemulihan dan Keselamatan
Setelah gempa, para petugas dari BMKG serta tim inspeksi universitas telah melakukan pengecekan terhadap keamanan bangunan. Dalam beberapa hari terakhir, tidak ada laporan mengenai penurunan bangunan atau retakan yang berdampak serius. Brian menekankan bahwa keamanan kampus tetap menjadi prioritas, dan pihaknya akan terus menunggu laporan lebih lanjut dari seluruh institusi pendidikan tinggi di daerah terdampak.
Dalam situasi darurat, beberapa kampus telah mengambil langkah-langkah pencegahan seperti memastikan keamanan jaringan listrik dan fasilitas kritis. Hal ini bertujuan untuk mencegah kejadian tambahan yang bisa memperburuk kondisi. Brian menyatakan bahwa meskipun gempa telah terjadi, kampus tetap dapat beroperasi seperti biasa selama tidak ada kerusakan serius yang dilaporkan.
Sebagai tambahan, pihak universitas juga memberikan informasi bahwa penggunaan kampus masih bisa dilakukan dengan penyesuaian, seperti mengurangi beban pada struktur bangunan yang terdampak. “Kami menghargai upaya pihak universitas dalam memperbaiki dan memastikan keamanan lingkungan belajar,” imbuh Brian. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap risiko gempa susulan yang masih berpotensi mengakibatkan kerusakan lebih lanjut.
