Jatuh – seorang haji asal Lebak wafat di Makkah saat hendak berwudhu

Jatuh Saat Berwudhu, Haji Asal Lebak Meninggal di Makkah

Jatuh – Kabupaten Lebak, Banten, menjadi sorotan setelah seorang jemaah haji berusia 66 tahun, Adsuki, ditemukan meninggal di Makkah, Arab Saudi, pada Senin (1/6). Kejadian tersebut terjadi ketika korban terjatuh di ruang mandi saat melakukan persiapan berwudhu untuk melaksanakan Shalat Ashar. Informasi terkait insiden ini diungkapkan oleh Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Lebak, Halimatussa’diah, dalam wawancara di Lebak, Rabu (3/6).

Proses Penanganan di Arab Saudi

Adsuki, warga Cibeber, Lebak, awalnya dirawat di Rumah Sakit An Nur, Makkah, setelah kecelakaan terjadi. Namun, korban meninggal dunia pada pukul 18.30 waktu setempat. “Almarhum dimakamkan di Makkah, Arab Saudi,” tambah Halimatussa’diah, yang menegaskan bahwa kejadian ini adalah kasus pertama dari peserta haji asal Lebak yang dilaporkan meninggal selama ibadah tahun ini.

“Korban meninggal setelah terjatuh di kamar mandi saat mengambil air wudhu untuk Shalat Ashar,” kata Halimatussa’diah. “Keluarga mengungkapkan bahwa korban didiagnosis menderita gangguan pencernaan sebelum kejadian.”

Menurut sumber di Kemenhaj, Adsuki termasuk dalam Kelompok Terbang (Kloter) 18 yang terdiri dari 391 orang. Kelompok ini berangkat ke Tanah Suci pada 15 Mei 2026 dan dilepas oleh Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki, dalam upacara yang digelar di bandara. Mayoritas peserta Kloter 18 adalah lansia, yang kerap menghadapi tantangan fisik selama perjalanan ibadah.

Pihak Kemenhaj Lebak menjelaskan bahwa kecelakaan Adsuki terjadi karena kondisi tubuh yang tidak stabil. “Korban tampak lelah sebelum kejadian, dan keluarga mengatakan ia memiliki riwayat gangguan lambung yang perlu dijaga,” ujar Halimatussa’diah. Ia menyarankan jemaah haji untuk memperhatikan pola makan, menjaga kesehatan, serta tidak mengabaikan tanda-tanda kelelahan yang muncul selama berada di Makkah.

Dalam wawancara, Halimatussa’diah juga menyebutkan bahwa pihaknya masih menunggu laporan lebih lanjut dari petugas medis di lapangan. “Kami telah berkoordinasi dengan tim kesehatan untuk memastikan semua jemaah dalam kondisi prima sebelum berangkat,” tambahnya. Meski hanya satu kasus yang dilaporkan, ia memperingatkan jemaah untuk tetap waspada terhadap risiko kesehatan yang mungkin muncul akibat cuaca ekstrem atau kelelahan berlebihan.

Persiapan dan Tanggung Jawab Petugas

Sebelum memulai perjalanan ke Makkah, jemaah dari Lebak menjalani pelatihan kesehatan intensif. Tujuan pelatihan tersebut adalah menghadapi kondisi fisik dan lingkungan yang berbeda dari Indonesia. “Petugas medis terus mengawasi keadaan para jemaah, terutama yang memiliki penyakit kronis,” jelas Halimatussa’diah. Namun, kecelakaan Adsuki menunjukkan bahwa risiko kesehatan tetap bisa muncul meski persiapan telah dilakukan secara rapi.

Kelompok Terbang 18 memang dikenal sebagai salah satu kloter yang menghadapi tantangan terberat di Makkah. Lokasi penginapan mereka berada di dekat tempat ibadah, sehingga jemaah harus berjalan jarak jauh setiap hari. “Faktor ini bisa memicu kelelahan dan membuat kondisi kesehatan lebih rentan terganggu,” imbuh Halimatussa’diah. Meski begitu, ia menegaskan bahwa pihak Kemenhaj telah menyiapkan sistem darurat dan unit medis mobile untuk menangani situasi seperti ini.

Korban meninggal setelah memasuki ruang mandi, tempat di mana jemaah biasanya mengumpulkan air wudhu. Kondisi ruangan yang sempit dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan langsung dianggap sebagai salah satu faktor penambah risiko. “Meski ruangan mandi telah dilengkapi dengan perlengkapan kebersihan, kami masih perlu memastikan adanya akses darurat untuk semua jemaah,” kata Halimatussa’diah.

Pelajaran dan Harapan Masa Depan

Kejadian ini menjadi peringatan bagi jemaah haji lainnya. “Kami berharap semua peserta memperhatikan kelelahan yang dialami dan segera beristirahat jika merasa tidak mampu melanjutkan aktivitas,” lanjut Halimatussa’diah. Ia juga meminta jemaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu untuk rutin memantau kesehatannya dan tidak ragu menanyakan bantuan ke petugas medis.

Dalam konteks keseluruhan, jumlah jemaah haji asal Lebak yang meninggal pada tahun ini terbilang rendah. “Hingga saat ini, hanya satu laporan yang diterima, dan kami yakin kondisi kebanyakan jemaah masih stabil,” kata Halimatussa’diah. Meski begitu, pihaknya berkomitmen untuk memperbaiki sistem pemantauan kesehatan dan memastikan keamanan selama ibadah.

Adsuki meninggal saat memasuki tahap akhir ibadah haji, yaitu melaksanakan ibadah wajib seperti Shalat Ashar. Proses berwudhu yang merupakan bagian dari ibadah tersebut seringkali dianggap sepele, padahal bisa menjadi momen kritis untuk para lansia. “Kami berdoa agar almarhum mendapat tempat yang baik di sisi Allah, serta semoga jemaah lain tetap sehat dan mabrur,” ujar Halimatussa’diah.

Peserta haji asal Lebak yang berjumlah 391 orang ini melibatkan berbagai kalangan, termasuk pensiunan dan warga lansia. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah jemaah yang memilih berhaji di usia tua semakin meningkat. “Jemaah berusia di atas 60 tahun memiliki kebutuhan khusus selama ibadah, termasuk makanan yang mudah dicerna dan porsi tidur yang cukup,” jelas Halimatussa’diah. Ia menegaskan bahwa Kemenhaj telah menyiapkan berbagai fasilitas untuk mendukung mereka.

Kelompok Terbang 18 akan menjadi perhatian utama bagi Kemenhaj dalam evaluasi keseluruhan kegiatan haji tahun ini. “Kami akan memeriksa kembali protokol keamanan dan kesehatan di lokasi penginapan, serta memastikan tidak ada pengurangan kualitas layanan medis,” kata Halimatussa’diah. Selain itu, ia juga men