Topics Covered: Presiden Iran: Negaranya “sangat hati-hati” dalam berunding dengan AS
Presiden Iran: Negara Hati-Hati dalam Berunding dengan AS
Topics Covered – Dalam pertemuan resmi yang berlangsung di Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tetap waspada dalam proses perundingan dengan Amerika Serikat. Dalam pernyataan kepresidenan, ia menyatakan bahwa Iran berkomitmen untuk menjaga kepentingan nasional sekaligus berhati-hati dalam menempuh negosiasi dengan Washington, yang dinilai masih menyisakan risiko signifikan bagi keamanan dan kesejahteraan rakyat Iran.
Pernyataan Presiden Iran
Pezeshkian mengungkapkan bahwa ketidakpercayaan publik terhadap AS semakin dalam karena serangkaian pelanggaran komitmen yang terjadi berulang. Ia menyoroti serangan terhadap Iran selama perundingan serta pembunuhan para pejabat negara sebagai faktor yang memperkuat skeptisisme masyarakat. Meski demikian, presiden Iran tetap menegaskan upaya membangun hubungan saling menguntungkan dengan Pakistan, sebagai bagian dari strategi negosiasi dengan negara-negara tetangga.
“Kami berupaya melindungi hak-hak rakyat kami yang sah dan sesuai hukum,” tutur Pezeshkian. “Sejarah dan pengalaman kami dalam berunding dengan AS membentuk sikap hati-hati yang kami pertahankan saat ini.”
Kritik terhadap Kebijakan AS
Dalam pertemuan tersebut, Pezeshkian juga menekankan bahwa konflik tidak akan berakhir baik jika Pakistan tidak aktif mediasi. Ia menjelaskan bahwa hubungan persaudaraan dengan Pakistan menjadi fondasi penting untuk mencapai kesepakatan. Namun, tujuan utama Iran tetap memastikan kepentingan nasionalnya terlindungi melalui solusi yang efektif.
Munir, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, yang tiba di Teheran pada Jumat (22/5), mendukung upaya penyelesaian perundingan. Ia menyambut baik kemajuan yang telah dicapai dan menegaskan peran Pakistan sebagai katalisator stabilitas regional. “Keterlibatan Pakistan menjadi kunci dalam mempercepat proses perdamaian,” kata Munir.
Isu Utama dalam Perundingan
Kemarin, Fars, kantor berita Iran, melaporkan bahwa perundingan damai antara Iran dan AS terancam gagal jika Washington tidak menunjukkan fleksibilitas. Fars menyoroti tiga isu utama yang masih menyebabkan ketegangan: penahanan aset, kontrol Selat Hormuz, dan program nuklir Iran. Pezeshkian menyatakan bahwa negara ini bersikeras tidak membahas nuklir dalam tahap awal, sementara meminta pelepasan aset yang dibekukan dan kebebasan penuh atas jalur minyak strategis.
Topics Covered – Meski perundingan berjalan, beberapa hambatan masih terasa. Gencatan senjata antara Iran dan AS tercapai pada 8 April setelah 40 hari pertempuran, tetapi belum ada kesepakatan memuaskan. Delegasi kedua pihak memulai putaran perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 11 dan 12 April, namun ketiga isu utama tetap menjadi poin utama yang memicu ketegangan.
Dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak telah bertukar proposal. Namun, Iran masih tidak puas dengan kebijakan AS dalam isu keamanan dan ekonomi. Para pejabat Iran mengkritik tindakan Washington yang dianggap memperkuat posisi Israel, serta sanksi yang merugikan perekonomian negara mereka.
Topics Covered – Pezeshkian juga menyampaikan pesan bahwa perang tidak memberikan manfaat bagi siapa pun, baik Iran maupun negara lain. Ia menambahkan bahwa konflik berpotensi merusak stabilitas kawasan dan mengganggu perdagangan global. “Penyelesaian damai adalah jalan terbaik untuk menghindari kerugian yang lebih besar,” ujarnya.
Sementara itu, delegasi Iran berharap perundingan bisa berlangsung lebih intensif di Islamabad. Mereka menegaskan peran Pakistan dalam memfasilitasi komunikasi, terutama karena posisi negara tersebut yang netral dan strategis. Kolaborasi dengan Pakistan menjadi bentuk kepercayaan yang dibangun setelah beberapa tahun konflik.
