Pakar: Pelemahan rupiah pengaruhi harga bahan baku produk impor
Pakar: Pelemahan Rupiah Pengaruhi Harga Bahan Baku Produk Impor
Pakar – Dalam sebuah wawancara di Jakarta, Sabtu, Pakar ekonomi dan bisnis dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Profesor Hamid Paddu memberikan pernyataan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memiliki dampak signifikan terhadap harga bahan baku impor, termasuk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Hal ini terutama menjadi perhatian karena Indonesia telah lama berstatus sebagai negara net importir minyak sejak tahun 2004. Menurut Hamid, kondisi tersebut semakin terasa berat dengan adanya penurunan nilai rupiah yang terus berlanjut.
Konteks Impor Minyak di Indonesia
Sejak tahun 2004, Indonesia terus mengalami ketergantungan pada impor minyak. Pasar domestik belum mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar yang sangat besar, sehingga impor tetap menjadi sumber utama pasokan. Selama lima tahun terakhir, kebutuhan bahan bakar minyak mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya mencapai 650 ribu barel per hari. Hal ini membuat lebih dari 50 persen kebutuhan minyak harus dipenuhi melalui impor, yang secara langsung tergantung pada kurs rupiah.
Kondisi Kurs Rupiah Mei 2026
Pertengahan Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan. Pada Kamis, 14 Mei 2026, rupiah menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS, dan penutupan terjadi di Rp17.529. Dalam keterangannya, Hamid menyatakan bahwa perubahan ini berdampak pada biaya impor, khususnya bahan baku BBM. “Dengan rupiah yang melemah, pembelian bahan bakar minyak dari luar negeri menjadi lebih mahal,” imbuhnya. Ia menekankan bahwa penggunaan dolar AS sebagai alat pembayaran dalam transaksi impor memperkuat ketergantungan pada kurs.
Perbandingan dengan Asumsi APBN 2026
Menurut Hamid, baik kurs rupiah maupun harga minyak dunia kini melebihi proyeksi APBN 2026. Asumsi kurs dalam dokumen anggaran tersebut adalah Rp16.500 per dolar AS, sementara harga minyak global saat ini mencapai 105 dolar AS per barel, jauh di atas angka 70 dolar AS per barel yang diharapkan. “Ini berarti, biaya impor minyak mengalami kenaikan dua kali lipat. Pertama, karena harga minyak yang melonjak, kemudian karena kurs rupiah yang terus melemah,” jelasnya. Kondisi ini menimbulkan tekanan ekonomi yang signifikan, terutama bagi perusahaan BUMN yang mengandalkan impor.
Dampak pada Kondisi Finansial BUMN
Pelemahan rupiah menimbulkan beban tambahan bagi perusahaan-perusahaan BUMN, termasuk Pertamina, dalam memperoleh bahan bakar minyak. Hamid menegaskan bahwa jika Pertamina tidak menyesuaikan harga BBM nonsubsidi, hal tersebut bisa merusak kesehatan keuangan perusahaan. “Kenaikan harga bahan bakar minyak akan berdampak langsung ke harga jual BBM, karena perusahaan harus menyesuaikan biaya pembelian bahan bakunya,” lanjutnya. Ia menambahkan bahwa rupiah yang melemah menciptakan tekanan pada likuiditas perusahaan, terutama dalam pembelian barang-barang yang diimpor.
Kenaikan Harga BBM sebagai Respons Pasar
Menurut Hamid, kenaikan harga BBM nonsubsidi adalah respons alami dari mekanisme pasar. Sejak beberapa tahun lalu, perusahaan-perusahaan seperti Pertamina terus menyesuaikan harga BBM sesuai dengan kondisi bahan baku. “Jika harga bahan bakar minyak naik, otomatis harga BBM juga akan naik, karena mereka harus mengimbangi biaya produksi dan impor,” ujar dia. Ia menekankan bahwa kenaikan harga merupakan bagian dari proses normal dalam sistem ekonomi, terlepas dari peran subsidi atau tidak.
Peran Literasi Masyarakat dalam Kebijakan BBM
Di sisi lain, Hamid menyoroti peningkatan literasi masyarakat terkait harga bahan bakar minyak. Masyarakat kini lebih paham bahwa kenaikan BBM nonsubsidi bukanlah keputusan acak, melainkan hasil dari perubahan harga pasar. “Masyarakat sudah terbiasa dengan mekanisme ini, jadi tidak ada gejolak besar saat harga BBM berubah,” katanya. Ia mengatakan bahwa transparansi informasi tentang harga minyak dan kurs rupiah telah membuat masyarakat menerima penyesuaian harga secara lebih baik.
Analisis Jangka Panjang Pelemahan Rupiah
Hamid juga memprediksi bahwa pelemahan rupiah akan berlangsung hingga akhir tahun 2026. Hal ini memaksa perusahaan-perusahaan, termasuk Pertamina, untuk terus menyesuaikan harga BBM sesuai dengan fluktuasi kurs dan harga minyak dunia. “Pelemahan rupiah adalah tren yang sudah terjadi, jadi perusahaan harus siap menghadapinya,” tambahnya. Ia menekankan bahwa pengelolaan harga BBM tidak bisa dipisahkan dari dinamika ekonomi global, terutama dalam konteks ketergantungan pada impor.
Kesimpulan: Kenaikan Harga BBM sebagai Solusi
Dalam kesimpulannya, Hamid menyatakan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi adalah langkah wajib untuk menjaga keseimbangan biaya. “Ini merupakan respons pasar yang harus dilakukan, karena jika tidak, biaya impor akan terus bertambah dan mengancam kinerja perusahaan,” tutur dia. Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah perlu memantau dengan cermat dampak dari kenaikan harga BBM terhadap inflasi dan daya beli masyarakat, meskipun kebutuhan minyak di Indonesia memang sangat tinggi.
Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya
Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, pelemahan kurs rupiah yang terjadi
