APBN 2026 Dinilai Masih Memiliki Daya Tahan terhadap Gejolak Minyak
Ayobantudonasi.com – Lonjakan harga minyak dunia sepanjang tahun ini belum serta-merta membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 kehilangan ketahanannya. Peneliti dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, melihat posisi fiskal Indonesia masih berada dalam batas yang aman, meski ruang untuk menyerap tekanan tambahan tidak terlalu besar.
“APBN masih tangguh untuk tahun ini (2026), defisit diperkirakan 2,85 persen PDB, di bawah batas 3 persen,” ujar Yayan.
Perkiraan defisit sebesar 2,85 persen produk domestik bruto tersebut masih berada di bawah ambang 3 persen. Namun, selisih menuju batas maksimum defisit hanya sekitar Rp39 triliun. Kondisi ini membuat pemerintah perlu berhati-hati ketika harga minyak kembali mengalami kenaikan tajam, karena kenaikan sebesar 10 dolar AS per barel dapat menggerus lebih dari separuh ruang fiskal yang tersedia.
Pergerakan ICP Jauh Melampaui Asumsi Anggaran
Tekanan utama datang dari perubahan harga minyak mentah. Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) bergerak naik dalam beberapa bulan awal 2026. Pada Januari, ICP tercatat 64,41 dolar AS per barel, kemudian meningkat menjadi 68,79 dolar AS per barel pada Februari.
Kenaikan semakin tajam pada Maret ketika ICP mencapai 102,26 dolar AS per barel. Harga tersebut lalu menyentuh titik tertinggi pada April, yakni 117,31 dolar AS per barel. Setelah itu, harga mulai menurun menjadi 106,56 dolar AS pada Mei, 83,45 dolar AS pada Juni, serta 81,68 dolar AS per barel pada Juli.
Penurunan tersebut tidak berlangsung lama. ICP kembali naik menjadi 89,43 dolar AS per barel pada Agustus. Untuk September, Yayan memperkirakan harga berada di rentang 100 hingga 104 dolar AS per barel. Perhitungan itu menggunakan perkembangan harga Brent pada September serta selisih Brent dan ICP yang berada di kisaran 1,9 dolar AS per barel.
“Oleh karena itu, rata-rata ICP Januari–September sekitar 90,6 dolar AS per barel, 29 persen di atas asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel,” kata Yayan.
Perbedaan antara rata-rata ICP dan asumsi APBN menjadi penting karena harga minyak tidak hanya memengaruhi penerimaan negara, tetapi juga belanja yang terkait energi. Ketika harga keekonomian bahan bakar dan LPG meningkat sementara harga jual kepada masyarakat tetap ditahan, kebutuhan subsidi ikut bertambah.
Subsidi Energi Berpotensi Mencapai Rp426 Triliun
Yayan memperkirakan beban subsidi bagi pertalite, solar, dan LPG 3 kilogram selama 2026 dapat mencapai sekitar Rp426 triliun. Nilai itu dihitung dari selisih harga keekonomian dengan harga jual, lalu dikalikan dengan jumlah produk yang disalurkan.
Komponen terbesar berasal dari solar, dengan perkiraan subsidi sekitar Rp206 triliun sepanjang tahun. Subsidi pertalite diproyeksikan mencapai Rp122 triliun, sedangkan LPG 3 kilogram diperkirakan membutuhkan Rp98 triliun. Besarnya kebutuhan untuk solar berkaitan dengan kenaikan harga produk solar olahan di pasar Asia yang melampaui peningkatan harga minyak mentah.
Dalam situasi tersebut, subsidi per liter solar pada periode Agustus hingga Desember diperkirakan berada pada rentang Rp11.100 hingga Rp12.600. Angka itu lebih dari dua kali subsidi solar yang direncanakan dalam APBN, yakni Rp5.150 per liter.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa gejolak minyak bukan sekadar persoalan harga di pasar internasional. Dampaknya dapat menjalar ke pembiayaan subsidi, pengendalian defisit, serta kemampuan pemerintah menjaga program belanja lain. Karena itu, ketahanan APBN perlu disertai langkah pengelolaan risiko yang disiplin.
Cadangan Fiskal dan Pengawasan Penyaluran
Untuk menghadapi tekanan pada akhir tahun, Yayan menyarankan agar sebagian tambahan penerimaan dari harga komoditas tidak langsung dibelanjakan. Dana tersebut dapat disiapkan sebagai cadangan apabila harga minyak kembali melonjak dan kebutuhan subsidi meningkat.
“Yang sebaiknya dilakukan untuk jangka pendek adalah menyisihkan sebagian tambahan penerimaan dari harga komoditas sebagai cadangan menghadapi guncangan minyak akhir tahun. Perketat penyaluran solar dan LPG 3 kg agar volume tidak terus melampaui kuota,” ujar dia.
Pengawasan distribusi solar dan LPG 3 kilogram menjadi bagian penting dari langkah jangka pendek. Pengendalian volume penyaluran diperlukan agar konsumsi tidak terus melebihi kuota yang telah ditetapkan, terutama saat beban subsidi per unit meningkat.
Dalam jangka menengah, Yayan mendorong perbaikan ketepatan sasaran subsidi energi dengan perhatian utama pada solar. Arah kebijakan tersebut bertujuan memastikan bantuan energi lebih terkonsentrasi kepada kelompok dan kegiatan yang memang memerlukan dukungan, sekaligus membatasi tekanan berulang terhadap anggaran negara.
APBN 2026 masih memiliki fondasi untuk merespons perubahan harga minyak, tetapi ruang perlindungannya tidak tanpa batas. Pergerakan ICP, besarnya subsidi, dan efektivitas pengawasan distribusi akan menjadi faktor penting dalam menjaga defisit tetap berada di bawah ambang yang ditetapkan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pakar nilai APBN masih tangguh hadapi?
Pakar nilai APBN masih tangguh hadapi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pakar nilai APBN masih tangguh hadapi matter?
Pakar nilai APBN masih tangguh hadapi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

