New Policy: BI Kalbar perkuat stabilitas ekonomi hadapi ketidakpastian global

BI Kalbar Lanjutkan Kebijakan Baru untuk Stabilkan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global

New Policy – BI Kalbar mengenalkan New Policy sebagai langkah strategis untuk memperkuat stabilitas ekonomi menghadapi tantangan global. Kebijakan ini mencakup penyesuaian kebijakan moneter, penguatan sistem pembayaran digital, serta peningkatan kapasitas sektor keuangan lokal. Dengan situasi ekonomi internasional yang kian tidak pasti, BI Kalbar berupaya menjaga keseimbangan perekonomian dan memastikan daya tahan terhadap tekanan eksternal.

Analisis Tantangan Ekonomi Global

“New Policy menjadi jawaban BI Kalbar terhadap pelemahan pertumbuhan ekonomi global dan inflasi yang meningkat. Kondisi ini berpotensi mengganggu arus modal serta nilai tukar rupiah,” ujar Doni Septadijaya, Kepala BI Kalbar, dalam wawancara di Pontianak, Rabu.

Pelemahan ekonomi di Amerika Serikat, Eropa, dan negara-negara berkembang lainnya memberi dampak signifikan pada sistem keuangan Indonesia. Doni menjelaskan bahwa aliran dana global cenderung berpindah ke negara dengan stabilitas lebih baik, sehingga BI Kalbar aktif mengantisipasi perubahan ini melalui kebijakan yang lebih adaptif.

Penyesuaian Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter menjadi salah satu pilar New Policy yang diutamakan. BI Kalbar meningkatkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen untuk mengendalikan inflasi dan menjaga nilai tukar rupiah. Kenaikan ini sejalan dengan upaya mengurangi tekanan dari perubahan dinamika pasar keuangan internasional, sambil tetap memperhatikan kebutuhan pertumbuhan ekonomi lokal.

Sebagai bagian dari New Policy, BI Kalbar juga fokus pada pengelolaan mata uang asing. Strategi ini bertujuan memastikan ketersediaan likuiditas perbankan serta mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar dolar AS. Doni menekankan bahwa penguatan sistem pembayaran digital menjadi komponen kunci dalam memperkuat stabilitas ekonomi.

Perkuatan Sektor Keuangan dan Digitalisasi

Penguatan sektor keuangan lokal termasuk dalam New Policy untuk memperkaya daya tahan perekonomian. Doni Septadijaya menyatakan bahwa peningkatan likuiditas dan transaksi berbasis mata uang lokal (LCT) menjadi strategi utama. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi digital terus mendapat dukungan, dengan transaksi pembayaran dan mobile banking meningkat pesat, bahkan mencapai dua digit.

“New Policy mendukung pertumbuhan transaksi digital melalui inisiatif seperti QRIS, yang mempercepat efisiensi dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS,” tambah Doni dalam wawancara tersebut.

Dengan meningkatnya adopsi layanan finansial digital, BI Kalbar optimis kebijakan ini akan memperkuat keseimbangan sistem ekonomi dan menunjang pertumbuhan nasional.

Pertumbuhan Ekonomi dan Faktor Pendukung

Meski menghadapi ketidakpastian global, Doni menilai fondasi perekonomian domestik Indonesia masih kuat. Pertumbuhan ekonomi triwulan II diperkirakan tetap stabil, didukung oleh konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, serta program bantuan sosial. New Policy juga menargetkan penguatan sektor-sektor prioritas seperti UMKM, industri pengolahan, dan ekonomi syariah untuk mendorong keberlanjutan pertumbuhan.

Dalam rangka menciptakan keseimbangan, BI Kalbar memperketat pengawasan transaksi valuta asing besar. Upaya ini bertujuan mencegah aliran dana yang tidak sehat, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan. New Policy juga mendorong digitalisasi pembayaran, yang diharapkan meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko ketidakstabilan pasar.

BI Kalbar terus menyesuaikan kebijakan moneter dengan dinamika ekonomi global, sambil menjaga stabilitas inflasi. Kebijakan ini menjadi bagian dari New Policy yang mencakup berbagai langkah untuk mendorong keterlibatan sektor-sektor kunci dalam menjaga keseimbangan perekonomian nasional.