Historic Moment: Wamen ATR/BPN: Memuliakan sungai berarti memuliakan negara

Wamen ATR/BPN: Memuliakan Sungai Berarti Memuliakan Negara

Historic Moment – Jakarta, Sabtu (21/06) – Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/BPN), Ossy Dermawan, mengungkapkan pentingnya kesadaran kolektif dalam merawat sungai sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Menurutnya, sungai tidak hanya menjadi alur air, tetapi juga memiliki peran vital dalam menopang keberlanjutan bangsa dan negara. Dalam wawancara di Jakarta, Ossy menekankan bahwa perlindungan sungai adalah tanggung jawab bersama, yang memerlukan partisipasi aktif dari berbagai pihak.

Ayo kita bersama-sama menghormati sungai, karena memuliakan aliran air itu sama artinya dengan menjaga kehidupan bangsa. Sungai bukan hanya simbol peradaban, tetapi juga sumber kehidupan yang mendasar bagi masyarakat Indonesia.

Gerakan Nasional “AYO Muliakan Sungai” yang diinisiasi oleh Wamen ATR/BPN Ossy Dermawan baru saja dilaksanakan di Yayasan Pesantren Pengrajin Bambu, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (19/06). Acara ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan sungai. Ossy mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan bisa menjadi awal dari upaya kolektif yang lebih luas untuk melestarikan sumber daya alam terpenting di Indonesia.

Gerakan ini mengajak seluruh lapisan masyarakat, mulai dari generasi muda hingga tokoh masyarakat, untuk turut serta dalam menjaga lingkungan sungai. Aktivitas utama pada hari tersebut meliputi perjalanan menelusuri Sungai Ciliwung dan pembersihan sampah di sepanjang bantaran serta aliran air. Selain itu, terdapat dialog interaktif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti perwakilan komunitas lingkungan, pelaku usaha kecil menengah (UMKM), dan akademisi.

Menurut Ossy, semangat gotong royong yang mewarnai acara ini menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan pengelolaan sungai. “Gerakan ini bukan sekadar aksi bersih-bersih, tetapi merupakan upaya bersama untuk memastikan sungai tetap menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari program nasional, kegiatan “AYO Muliakan Sungai” menekankan peran penting sungai dalam menopang pembangunan ekonomi dan budaya. Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang turut hadir, menegaskan bahwa pengelolaan sungai tidak bisa dilakukan secara terpisah. “Kita harus mengintegrasikan upaya melestarikan sungai ke dalam kebijakan pembangunan nasional,” kata AHY.

AHY menambahkan, gerakan ini adalah bukti bahwa masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta bisa bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. “Mempertahankan kebersihan dan fungsi sungai memerlukan komitmen dari semua pihak, termasuk perusahaan dan akademisi yang memberikan kontribusi berbasis penelitian dan inovasi,” ujarnya.

Kolaborasi yang terbangun selama kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana partisipasi masyarakat bisa menghasilkan dampak besar. Ossy menyebutkan bahwa peran komunitas lokal, seperti Yayasan Bambu Indonesia, sangat berarti dalam menggerakkan kegiatan yang berkelanjutan. “Tidak ada yang bisa berdiri sendiri dalam melestarikan lingkungan hidup. Ini adalah bentuk perjuangan bersama yang menggabungkan kekuatan ekonomi, budaya, dan ekologi,” tutur Ossy.

Pembersihan sungai yang dilakukan oleh relawan dan komunitas lingkungan juga menjadi perhatian utama. Tindakan ini tidak hanya mengurangi sampah plastik dan limbah organik, tetapi juga memperkuat kesadaran akan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh tindakan kurang peduli. Ossy berharap, kegiatan serupa bisa dilakukan secara rutin di berbagai wilayah untuk mempercepat pencapaian target konservasi air.

Menurut AHY, keberhasilan gerakan ini tergantung pada partisipasi aktif dari semua komponen masyarakat. “Sungai adalah warisan alam yang perlu dijaga dengan cara yang berkelanjutan. Jika kita tidak memulihkan lingkungan sungai, maka keberlanjutan negara pun terancam,” jelasnya. Peran pemerintah, menurut AHY, adalah menyediakan kebijakan dan sumber daya yang mendukung partisipasi masyarakat.

Kegiatan di Cibinong juga menampilkan partisipasi dari generasi muda yang berperan aktif dalam menyebarkan pesan lingkungan. Mereka menggunakan media sosial dan komunikasi modern untuk menjangkau lebih banyak orang. “Kita harus memastikan bahwa pesan ini bisa disampaikan dengan efektif, agar kesadaran lingkungan terus tumbuh di kalangan generasi penerus,” ujarnya.

Menurut Ossy, gerakan ini tidak hanya memperkuat sinergi antar lembaga, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya ekosistem sungai. “Sungai adalah alat komunikasi alam yang memperlihatkan kehidupan kita. Jika kita menghargai sungai, maka kita juga menghargai kehidupan yang dijalani bersama,” pung