Ekonom: Prospek infrastruktur telko masih besar 3-5 tahun ke depan

Ekonom: Prospek Infrastruktur Telekomunikasi Masih Menjanjikan

Ayobantudonasi.com – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, menyatakan bahwa peluang pertumbuhan sektor infrastruktur telekomunikasi di Tanah Air masih sangat besar dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun ke depan. Pernyataan ini disampaikan oleh ekonom tersebut berdasarkan analisis mendalam terhadap kebutuhan pasar yang terus berkembang. Menurutnya, kebutuhan pembangunan menara telekomunikasi maupun jaringan fiber optic masih tinggi karena meningkatnya kebutuhan pelanggan maupun korporasi. “Masih besar tiga hingga lima tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat,” kata Dipo dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Transisi Teknologi dan Tantangan Geografis

Transisi dari jaringan 4G menuju 5G, jelas ekonom tersebut, membutuhkan densitas menara yang lebih tinggi melalui pembangunan microcells. Selain itu, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi industri tersebut. Ia menambahkan bahwa kebutuhan terhadap infrastruktur dasar, seperti listrik, menara telekomunikasi, jaringan serat optik, hingga kabel bawah laut, masih menjadi kebutuhan utama, sementara meningkatnya penggunaan internet, AI, dan cloud computing akan menjadi faktor pendorongnya.

“Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital,” kata Dipo.

Menurutnya, sektor pendukung telekomunikasi memiliki peran yang sangat strategis. Ekonom tersebut menjelaskan bahwa pasokan listrik yang belum stabil serta jaringan fiber optic yang belum terintegrasi di beberapa daerah membuat peran perusahaan pendukung sangat penting di Indonesia. “Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun,” ujar Dipo.

Untuk diketahui, belum lama ini terdapat emiten sektor infrastruktur telekomunikasi yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) yakni PT Bach Multi Global Tbk (BACH). BACH melangsungkan pencatatan perdana saham (initial public offering/IPO) pada 8 Juli 2026. Sejak melantai di bursa dengan harga IPO per saham Rp442, saham BACH langsung menguat 24,43 persen pada hari pertama perdagangan dan sempat menyentuh level Rp685 dalam beberapa hari berikutnya, sebelum akhirnya mengalami konsolidasi.

Pengamat pasar modal Fauzan Luthsa memandang, meningkatnya perhatian terhadap BACH juga tidak terlepas dari masuknya Grup Djarum melalui PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) sebagai pemegang saham pengendali perseroan. “Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh,” kata dia.

Perubahan Persepsi Investor terhadap BACH

Ia menjelaskan bahwa selama ini banyak investor mengenal BACH sebagai perusahaan genset. Padahal, apabila merujuk pada prospektus, perseroan menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi. “Artinya, BACH sudah menjadi bagian dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi. Menurut saya, pemahaman inilah yang mulai berkembang di pasar,” kata dia. Fauzan pun mengingatkan bahwa pada akhirnya, pasar tetap akan melihat kinerja perusahaan.

Namun, perubahan cara pandang terhadap model bisnis BACH menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong meningkatnya perhatian investor. Ekonom dan pengamat pasar sepakat bahwa sektor ini masih memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Prospek Infrastruktur Telekomunikasi

1. Berapa lama prospek pertumbuhan infrastruktur telekomunikasi masih dinilai besar? Menurut ekonom CORE Indonesia, prospek pertumbuhan infrastruktur telekomunikasi masih besar dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

2. Apa saja faktor pendorong kebutuhan infrastruktur telekomunikasi? Faktor pendorongnya meliputi meningkatnya penggunaan internet, AI, cloud computing, serta transisi dari jaringan 4G menuju 5G yang membutuhkan densitas menara lebih tinggi.

3. Kapan BACH melakukan IPO dan berapa harga per sahamnya? BACH melangsungkan IPO pada 8 Juli 2026 dengan harga per saham Rp442.

4. Berapa banyak site telekomunikasi yang ditangani oleh BACH? Berdasarkan prospektus, BACH menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi.

5. Siapa pemegang saham pengendali BACH setelah masuknya Grup Djarum? Grup Djarum masuk melalui PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) sebagai pemegang saham pengendali perseroan.