UNIFIL: Eskalasi Konflik Israel-Hizbullah Ancam Keselamatan Pasukan Perdamaian PBB
UNIFIL: Peningkatan Konflik Israel-Hizbullah Mengancam Kehadiran Pasukan Perdamaian PBB
Pasukan perdamaian PBB di Lebanon, UNIFIL, mengeluarkan peringatan bahwa eskalasi perang antara Israel dan Hizbullah bisa membahayakan keselamatan pasukan penjaga perdamaian yang bertugas di wilayah selatan Libanon. Juru Bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menyatakan khawatir karena tembakan berulang yang terjadi di sekitar area operasi PBB.
Kemungkinan Serangan Terhadap Posisi PBB
“Tentara Israel dan kombatan Hizbullah terus menembakkan peluru serta proyektil ke atau dekat posisi misi ini,” ujar Ardiel dalam keterangan resmi pada Minggu (5/4). Ia menegaskan bahwa insiden tembak-menembak telah menyebabkan beberapa anggota pasukan penjaga perdamaian terluka atau gugur.
Ardiel juga menyebut bahwa serangan dari dekat lokasi tempat pasukan PBB berada berpotensi memicu pembalasan. Ia menyoroti keberadaan para pejuang di sekitar area tempat pasukan perdamaian melakukan tugas sehari-hari.
Sejarah Konflik dan Kesepakatan Gencatan Senjata
Konflik antara Israel dan Hizbullah telah memanas sejak insiden lintas batas yang dilakukan oleh organisasi tersebut pada 2 Maret, meskipun kesepakatan gencatan senjata sebenarnya berlaku sejak November 2024. Selama tiga bulan terakhir, Hizbullah terus melepaskan roket ke wilayah Israel sebagai reaksi atas operasi militer Israel di Lebanon.
Kegiatan serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, yang mengakibatkan kematian Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, menjadi pemicu untuk meningkatkan aktivitas militer. UNIFIL menegaskan bahwa konflik yang berlangsung lama hanya akan memperburuk dampak kemanusiaan, termasuk meningkatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Permintaan untuk Konsistensi Gencatan Senjata
Dalam upaya memastikan keamanan, UNIFIL meminta semua pihak yang terlibat untuk menghentikan kekerasan dan mengambil langkah konkret menuju gencatan senjata. Ardiel menekankan bahwa “tidak ada solusi militer untuk konflik ini” dan bahwa perang berkelanjutan akan merugikan masyarakat sipil.
