Hiburan

Kawai Labiba ceritakan tantangan berperan sebagai hantu

IMG_20261030_195437

Kawai Labiba Hadapi Tantangan Emosional Saat Menjadi Arwah Putri

Ayobantudonasi.com – Aktris Kawai Labiba menjalani pengalaman baru dalam karier aktingnya lewat film horor Putri Jangan Gentayangan Lagi. Di film garapan Rizal Mantovani tersebut, ia memerankan Amanda Rizky Saputri, atau Putri, seorang tokoh yang hadir sebagai hantu. Peran itu menjadi kali pertama Kawai membawakan karakter arwah di layar lebar.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Kawai. Seusai pemutaran film di Jakarta Selatan pada Jumat malam, ia menceritakan bahwa keterlibatannya dalam proyek tersebut terasa luar biasa dan masih membekas hingga sekarang.

“Jujur, sampai sekarang ini masih dihantui pengalaman yang luar biasa, ya, bisa bergabung di proyek film ‘Putri Jangan Gentayangan Lagi’,” kata Kawai.

Ia mengakui bahwa tuntutan memainkan tokoh hantu memiliki karakteristik yang berbeda dari peran-peran sebelumnya. Tidak hanya menampilkan penampilan yang menyeramkan, Kawai juga perlu membawa emosi seorang manusia yang pernah menjalani kehidupan sebelum menjadi arwah.

“Karena sebenarnya ini pertama kalinya aku juga berperan sebagai arwah, gitu,” ujar Kawai.

Menjaga Sisi Manusia dalam Karakter Putri

Untuk membangun karakter Putri, Kawai tidak sekadar mengandalkan riasan, kostum, atau gerak tubuh khas tokoh horor. Ia mendapat arahan dari Rizal Mantovani agar sisi kemanusiaan Putri tetap terasa dalam setiap adegan. Pendekatan itu penting karena tokoh tersebut digambarkan sebagai sosok yang sebelumnya adalah manusia.

Kawai juga mendengarkan cerita langsung dari Mak Eli, ibu kandung mendiang Putri. Cerita itu membantunya membayangkan beban batin dan perasaan seorang anak perempuan pertama yang memikul tanggung jawab besar dalam keluarganya. Dari sana, ia berusaha menerjemahkan pengalaman emosional tersebut ke dalam ekspresi dan permainan akting.

“Kata Mas Rizal, kamu harus pertahankan emosi manusiawi karena Putri kan dulunya manusia. Untuk itu, aku banyak mendengarkan langsung cerita Mak Eli supaya bisa mengimajinasikan seperti apa perasaan anak perempuan pertama yang memikul tanggung jawab besar,” katanya.

Pendekatan ini memberi dimensi lain pada karakter hantu dalam film. Sosok arwah tidak hanya ditampilkan untuk membangun ketegangan, melainkan juga memiliki jejak emosi, kenangan, dan latar perasaan yang perlu dipahami pemerannya. Bagi Kawai, memahami bagian tersebut menjadi salah satu kunci agar karakter Putri dapat terasa lebih hidup di hadapan penonton.

Akting di Tengah Keterbatasan Fisik

Tantangan Kawai tidak berhenti pada proses memahami emosi karakter. Selama sebagian besar pengambilan gambar, ia harus memakai lensa kontak khusus yang membatasi penglihatannya. Dalam kondisi visual yang tidak leluasa, ia tetap dituntut menyampaikan rasa takut, sedih, marah, atau emosi lain yang diperlukan dalam adegan.

Penggunaan properti teknis turut menjadi bagian dari pekerjaannya di lokasi syuting. Kawai harus menjaga akting tetap alami sembari memperhatikan alat pengaman mekanis serta selang darah buatan yang ditempatkan di dalam mulut. Kebutuhan teknis semacam itu dapat memengaruhi kenyamanan dan gerak seorang pemeran, sehingga konsentrasi menjadi unsur penting saat kamera mulai merekam.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa peran dalam film horor tidak hanya bergantung pada ekspresi wajah atau dialog. Pemeran perlu menyesuaikan diri dengan riasan, perangkat pendukung, efek visual praktis, dan arahan teknis tanpa kehilangan keterhubungan dengan karakter yang dimainkan. Dalam kasus Kawai, seluruh unsur itu hadir bersamaan ketika ia membawakan Putri.

Film Horor yang Diangkat dari Cerita Siniar

Putri Jangan Gentayangan Lagi dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 5 November 2026. Film ini diproduksi oleh MVP Pictures, Folago Pictures, PK Films, dan SHOW Token.

Cerita film tersebut diadaptasi dari kisah yang pernah disampaikan dalam siniar Lentera Malam, program yang dipandu Jamaluddin Darris. Tayangan kisah tersebut telah memperoleh lebih dari 25 juta penonton di YouTube. Kehadiran film layar lebar memberi ruang bagi cerita itu untuk disajikan melalui bentuk dramatik, dengan karakter, suasana, dan pengalaman visual yang dirancang khusus untuk bioskop.

Adaptasi dari cerita yang telah dikenal publik menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pembuat film dan pemainnya. Penonton yang sudah mengenal kisahnya dapat membawa rasa penasaran terhadap penggambaran karakter dan atmosfer cerita di layar. Karena itu, pendalaman Kawai terhadap sosok Putri menjadi bagian penting dalam upaya membentuk pengalaman horor yang tetap memiliki pijakan emosional.

Klasifikasi Penonton Usia 13 Tahun ke Atas

Lembaga Sensor Film mengklasifikasikan Putri Jangan Gentayangan Lagi untuk penonton berusia 13 tahun ke atas. Klasifikasi ini menjadi informasi penting bagi calon penonton dan keluarga sebelum memilih film yang akan disaksikan di bioskop.

Dengan jadwal penayangan pada awal November 2026, film ini akan memperlihatkan transformasi Kawai Labiba dalam peran yang belum pernah ia mainkan sebelumnya. Dari persiapan emosional melalui cerita Mak Eli hingga tuntutan teknis saat memakai lensa kontak dan properti efek, Kawai menghadapi proses yang membentuk penampilannya sebagai Putri.

Perjalanan tersebut menegaskan bahwa karakter hantu dalam film horor dapat dibangun melalui lebih dari sekadar penampilan menyeramkan. Bagi Kawai, tantangan terbesar justru terletak pada upaya menjaga emosi manusiawi Putri tetap hadir, meski tokoh itu muncul sebagai arwah.

Frequently Asked Questions

What is Kawai Labiba ceritakan tantangan berperan?

Kawai Labiba ceritakan tantangan berperan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kawai Labiba ceritakan tantangan berperan matter?

Kawai Labiba ceritakan tantangan berperan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.