Hasil Pertemuan: Tambah Lagi Negara Saling Konflik, Kini Turki Vs Yunani

Sengketa Lama di Laut Aegea Antara Turki dan Yunani Masih Belum Tuntas

Situasi konflik antara Turki dan Yunani di Laut Aegea kembali memanas. Dilansir Deutsche Welle, Rabu (4/2/2026), kedua negara kabarnya berencana untuk kembali berdiskusi. Dewan Kerja Sama Tingkat Tinggi Yunani-Turki dijadwalkan mengadakan sidang di Ankara mulai Senin (9/2) depan. Jika tidak ada perubahan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis akan duduk dalam satu meja. Langkah ini membuka kemungkinan pertemuan khusus di hari lain.

Kasus Sarah Mardini: Ketika Selamatkan Nyawa Pengungsi Dipidana di Yunani

Dewan kerja sama tersebut dibentuk pada 2010, setelah periode panjang ketegangan di Mediterania Timur. Namun, catatan prestasi dewan itu dianggap tipis. Dewan lebih berfungsi sebagai wadah ‘agenda positif’ di antara dua anggota NATO tersebut, terutama di sektor ekonomi dan pariwisata. Sejauh ini, dewan hanya lima kali bersidang. Pertemuan terakhir berlangsung Desember 2023 di Athena, dan perbedaan tafsir antara kedua negara tetap tajam.

“Turki mengajukan tuntutan sepihak dan klaim teritorial yang tak memiliki dasar hukum dan tak layak diperdebatkan,” kata Direktur Riset Institut Hubungan Internasional Athena, Konstantinos Filis.

Ilmuwan politik Universitas Teknik Yildiz Turki, Fuat Aksu, menyebut ‘Yunani berharap Turki memenuhi tuntutan dan membuat konsesi.’

Situasi di Laut Aegea tetap tidak stabil. Bahkan, satu sumber gesekan baru muncul. Pada Kamis (29/1) lalu, Turki mengeluarkan peringatan melalui sistem Navtex, mekanisme standar keselamatan pelayaran, tentang risiko keamanan dan aktivitas militer Yunani. Peringatan serupa pernah terjadi sebelumnya, tetapi dianggap sebagai aksi unjuk otoritas.

“Provokasi baru Turki,” tulis media mingguan Yunani, To Vima.

Ankara menepis tudingan tersebut. Bagi Turki, peringatan Navtex merupakan urusan rutin sesuai kerangka hukum yang berlaku. Media pro-pemerintah Trkiye menyiratkan makna lain dengan menyebut ‘Navtex memicu kepanikan di Yunani dan mengubah status quo di Aegea.’

Bagi PM Mitsotakis, sengketa ini menambah tekanan dari sayap kanan. PM Yunani dianggap membiarkan Turki merampas setengah Aegea. “Turki merampas setengah Aegea, tapi pemerintah kita tak melihat alasan untuk khawatir,” kata Kyriakos Velopoulos, pemimpin partai kanan-populis Greek Solution (EL), yang menurut survei menempati posisi ketiga elektabilitas.

Sengketa ini telah berlangsung puluhan tahun. Yunani dan Turki terus berselisih soal landas kontinen di depan pantai Turki, eksploitasi sumber daya, dan kemungkinan perluasan laut teritorial di Aegea. Dalam doktrin militernya, Blue Homeland, Turki mengklaim wilayah laut lebih dari 450 ribu kilometer persegi di sekitar pantainya. Rujukan hukum utama masih menjadi poin kontroversi.