Visit Agenda: Studi: Gen Z pilih musik dan konten andalkan nostalgia
Visit Agenda: Generasi Z Merindukan Masa Lalu Melalui Nostalgia
Visit Agenda – Sebuah riset terkini mengungkap fenomena menarik di kalangan Generasi Z. Kelompok usia muda ini menunjukkan ketertarikan luar biasa terhadap elemen-elemen nostalgia ketika memilih musik maupun konten hiburan. Temuan ini dipublikasikan melalui siaran Variety pada hari Jumat, tanggal 10 bulan Juli, sesuai waktu setempat di negara-negara yang disurvei. Visit Agenda mencatat bahwa tren ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara generasi muda mengonsumsi media.
Metodologi dan Lingkup Penelitian
Studi yang berjudul “Then is Now: A Study on Modern Nostalgia” melibatkan seribu delapan ratus responden. Peserta survei tersebar secara merata di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Dari jumlah tersebut, responden berasal dari tiga generasi berbeda, yakni Gen X, Milenial, dan Generasi Z. Penelitian ini disponsori oleh Vevo, platform streaming video musik yang merupakan milik bersama Sony Music dan Universal Music Group. Visit Agenda menyoroti bahwa metodologi penelitian ini memberikan gambaran komprehensif tentang preferensi generasi muda.
Vevo memiliki koleksi lagu-lagu dari era 1980-an, 1990-an, hingga awal 2000-an. Katalog musik tersebut sering kali digunakan dalam produksi film maupun serial televisi, baik yang bergenre fiksi maupun nonfiksi. Kehadiran lagu-lagu lawas ini membantu menciptakan atmosfer tertentu yang dikenali penonton. Menurut Visit Agenda, strategi ini terbukti efektif dalam menarik perhatian audiens lintas generasi.
Peran Nostalgia dalam Konten Modern
Rob Christensen, Executive Vice President of Global Sales Vevo, menjelaskan bahwa konten dan musik bernuansa nostalgia memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi penonton. Menurutnya, konten baru saat ini justru menjadi pintu masuk agar katalog lama dan konten nostalgia ditemukan kembali, baik oleh penonton baru maupun oleh para penggemar lama. Visit Agenda mencatat pernyataan ini sebagai indikator penting tren industri hiburan.
“Konten baru saat ini justru menjadi pintu masuk agar katalog lama dan konten nostalgia ditemukan kembali, baik oleh penonton baru maupun oleh para penggemar lama,” ujar Christensen.
Sebagai contoh, ketika serial baru yang dipenuhi lagu-lagu lawas dirilis, jumlah penayangan video musik terkait di Vevo ikut meningkat. Serial seperti “Stranger Things” dari Netflix atau “Love Story: John F. Kennedy and Carolyn Bessette” dari FX menjadi kasus nyata. Konsumen yang datang ke Vevo karena dorongan nostalgia atau setelah menemukan lagu lama dari film maupun serial TV juga semakin terdorong untuk mencari lebih banyak konten serupa. Visit Agenda menambahkan bahwa fenomena ini menciptakan siklus positif bagi platform streaming.
Fenomena “Borrowed Nostalgia” pada Gen Z
Studi tersebut menunjukkan tren yang terus berkembang di kalangan Gen Z yang mengadopsi “borrowed nostalgia” atau nostalgia pinjaman. Konsep ini merujuk pada kerinduan terhadap suasana dan budaya dari masa yang sebenarnya belum pernah mereka alami secara langsung. Dalam temuan studi itu sebanyak 64 persen responden Gen Z mengatakan nostalgia memiliki pengaruh besar terhadap konten yang mereka tonton. Bahkan, 88 persen Gen Z menyebut nostalgia membuat pengalaman emosional terasa lebih mendalam. Visit Agenda menjelaskan bahwa istilah “borrowed nostalgia” menggambarkan bagaimana generasi muda mengadopsi memori kolektif dari era sebelumnya.
Siklus nostalgia budaya pop yang sebelumnya berlangsung sekitar 20 hingga 25 tahun kini juga semakin cepat. Percepatan ini didorong oleh Gen Z dan Milenial muda yang sejak kecil telah tumbuh sebagai generasi digital. Dalam penelitian ini, Gen X didefinisikan sebagai kelompok usia 46–61 tahun, Milenial 30–45 tahun, dan Gen Z 14–29 tahun. Visit Agenda mencatat bahwa percepatan ini membuka peluang baru bagi industri kreatif.
Dampak Layanan Streaming terhadap Akses Konten
Dalam laporan studi itu menyebut bahwa generasi digital ini merindukan pengalaman bersama yang pernah ada sebelum konten bisa diakses secara instan sesuai permintaan. Kehadiran platform streaming memungkinkan akses yang lebih mudah ke konten klasik. Visit Agenda menambahkan bahwa transformasi digital ini tidak hanya mengubah cara konsumsi, tetapi juga membentuk ulang hubungan emosional dengan masa lalu.
“Karena layanan streaming menghapus batas antargenerasi, audiens muda kini dapat dengan mudah mengakses konten-konten klasik dan membangun ikatan emosional yang kuat dengan momen budaya dari beberapa dekade sebelum mereka lahir,” demikian isi laporan tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi tidak hanya mengubah cara kita mengonsumsi konten, tetapi juga membentuk ulang hubungan emosional kita dengan masa lalu. Gen Z tidak sekadar menonton atau mendengarkan, tetapi mereka mengalami kembali momen-momen budaya yang menjadi bagian penting dari identitas kolektif mereka. Visit Agenda menyimpulkan bahwa tren nostalgia ini diprediksi akan terus berkembang seiring dengan evolusi platform digital dan perubahan preferensi audiens global.
