Today’s News: Anak-anak mengisi libur sekolah tanpa gawai

Generasi Muda Menikmati Libur Sekolah dengan Aktivitas Tradisional di Semarang

Today s News – Kota Semarang kembali menjadi saksi bisu semangat pelestarian budaya melalui kegiatan yang diselenggarakan di Sanggar Seni dan Budaya Omah Alas. Terletak di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, sanggar ini berhasil menghadirkan suasana hangat bagi para anak-anak yang ingin menikmati masa libur sekolah tanpa ketergantungan berlebihan pada perangkat gawai. Kegiatan yang diberi nama “Liburan Sehat Ceria Tanpa Handphone” ini berlangsung pada hari Kamis, tanggal 9 Juli 2026, dan menarik perhatian banyak keluarga di wilayah Semarang dan sekitarnya.

Permainan Tradisional sebagai Alternatif Hiburan Digital

Sanggar Seni dan Budaya Omah Alas merancang program yang penuh makna dengan memasukkan berbagai permainan tradisional ke dalam rangkaian kegiatannya. Egrang, bakiak, dan gobag sodor menjadi pilihan utama yang tidak hanya menghibur, tetapi juga melatih koordinasi fisik dan kerja sama tim. Setiap permainan memiliki keunikan tersendiri yang membuat anak-anak tertantang untuk belajar dan berkembang.

Bakiak misalnya, menuntut para peserta untuk berjalan bersama dalam satu kesatuan. Mereka harus menyelaraskan langkah kaki agar tidak terjatuh, sebuah pelajaran berharga tentang harmoni dan kekompakan. Sementara itu, egrang menguji keseimbangan tubuh dan ketangkasan. Anak-anak yang biasanya asyik dengan layar gadget kini terlihat bersemangat melompat-lompat di atas tiang bambu dengan penuh kegembiraan.

Gobag sodor menambah variasi permainan dengan unsur strategi dan kecepatan. Permainan ini melibatkan dua tim yang saling berhadapan, di mana satu tim berusaha melewati pertahanan lawan untuk mencapai zona tertentu. Suasana riuh rendah dan tawa anak-anak terdengar jelas di sekitar sanggar, menciptakan atmosfer yang jauh berbeda dari kebiasaan mereka yang sering terpaku pada smartphone atau tablet.

Mewarnai Topeng: Mengasah Kreativitas dan Melestarikan Warisan Budaya

Selain permainan fisik, kegiatan mewarnai topeng juga menjadi salah satu daya tarik utama. Topeng-topeng dengan berbagai motif dan bentuk tersedia untuk diwarnai oleh para peserta. Aktivitas ini tidak hanya melatih kreativitas visual, tetapi juga memperkenalkan anak-anak pada seni rupa tradisional Nusantara. Setiap goresan kuas dan pemilihan warna menjadi momen berharga bagi perkembangan imajinasi mereka.

Dengan mewarnai topeng, anak-anak secara tidak langsung belajar tentang identitas budaya Indonesia. Topeng-topeng tersebut sering kali terinspirasi dari karakter-karakter dalam cerita rakyat atau tarian tradisional daerah. Proses mewarnai menjadi jembatan antara generasi muda dengan warisan leluhur yang perlu dijaga keberadaannya.

Dampak Positif terhadap Interaksi Sosial Anak

Salah satu tujuan utama penyelenggaraan kegiatan ini adalah mengurangi paparan gawai pada anak selama masa libur sekolah. Di era digital yang serba cepat, banyak anak yang cenderung lebih memilih bermain sendiri dengan perangkat elektronik mereka. Melalui kegiatan di Omah Alas, anak-anak diajak untuk berinteraksi langsung dengan teman sebaya dan pendamping mereka.

Pendamping yang hadir membantu mengarahkan anak-anak dalam setiap aktivitas. Kehadiran mereka memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi para peserta. Anak-anak belajar berkomunikasi, berbagi, dan bekerja sama dalam kelompok kecil. Interaksi sosial yang terbangun secara alami ini terbukti lebih bermakna dibandingkan interaksi virtual melalui media sosial.

Kegiatan ini juga sekaligus mengenalkan budaya Nusantara secara lebih mendalam. Anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung dalam setiap permainan dan aktivitas yang mereka lakukan. Kreativitas mereka berkembang melalui berbagai tantangan yang diberikan, sementara ikatan sosial dengan teman-teman baru semakin kuat.

Foto dan Dokumentasi Kegiatan

Kegiatan ini berhasil didokumentasikan dengan baik oleh tim ANTARA FOTO. Fotografer Aprillio Akbar dari wsj berhasil menangkap momen-momen berharga selama berlangsungnya acara. Beberapa foto menampilkan anak-anak yang sedang bermain bakiak dengan penuh semangat, sementara yang lain menunjukkan mereka yang asyik mewarnai topeng dengan konsentrasi tinggi.

Selain itu, terdapat pula foto-foto yang menggambarkan suasana kebersamaan antara anak-anak bersama para pendamping. Momen-momen ini menjadi bukti nyata bahwa kegiatan offline masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia. Setiap gambar yang diambil menceritakan kisah tentang kebahagiaan sederhana yang bisa ditemukan di luar dunia digital.

Dengan demikian, Sanggar Seni dan Budaya Omah Alas berhasil membuktikan bahwa pendekatan tradisional masih relevan dan efektif untuk membina generasi muda. Melalui kegiatan “Liburan Sehat Ceria Tanpa Handphone”, anak-anak Semarang mendapatkan pengalaman yang berkesan dan bermakna di luar kebiasaan mereka sehari-hari.