Key Discussion: Said Iqbal sambangi Danantara cari solusi cegah PHK di sektor swasta

Kunjungan Said Iqbal ke Danantara Indonesia: Upaya Mencegah PHK di Sektor Swasta

Key Discussion – Jakarta – Penasihat Khusus Presiden bidang ketenagakerjaan dan kesejahteraan buruh, Said Iqbal, melakukan kunjungan ke Danantara Indonesia untuk meneliti cara mengurangi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor swasta. Ia mengungkapkan, dalam pertemuan dengan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, telah disepakati langkah-langkah agar perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan tetap bisa bertahan dan menghindari pengangguran massal. Said Iqbal menekankan pentingnya peran Danantara dalam menyalurkan modal guna mendukung perusahaan swasta yang sehat namun terjebak masalah keuangan.

Pertemuan dan Harapan untuk Peran Danantara

Dalam pertemuan tersebut, Said Iqbal menegaskan bahwa Danantara diminta mengambil bagian aktif dalam membantu perusahaan swasta yang sedang terpuruk. Menurutnya, perusahaan-perusahaan yang dimaksud memiliki potensi untuk pulih jika diberi dukungan keuangan. “Kami mengharapkan Danantara menjadi bagian dari solusi ini, sesuai dengan tupoksi yang telah ditetapkan,” ujar Iqbal setelah bertemu dengan Dony Oskaria di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu. Ia menjelaskan, beberapa perusahaan swasta mengalami kesulitan bukan karena kondisi operasional yang buruk, melainkan karena faktor eksternal seperti kenaikan permintaan barang atau penurunan modal kerja.

“Dalam artian bermasalah, sebenarnya perusahaannya sehat, bisa jalan lagi. Tetapi karena faktor, misal modal kerjanya tergerus, misal karena ada faktor keuangan kurang modal kerjanya, ada permintaan barang yang meningkat, ada perusahaan yang tidak sanggup lagi, bisa saja diambil alih oleh Danantara,” ujar Said Iqbal.

Said Iqbal menambahkan, keputusan ini diambil sebagai bentuk respons terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto yang ingin mencegah PHK secara masif di sektor swasta. “Kalau terjadi PHK, hak-hak buruh wajib dibayar minimal sesuai undang-undang dan maksimal di atas undang-undang,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengurangi dampak negatif dari kecolongan perusahaan besar.

Kasus Spesifik: PT Pakerin di Mojokerto

Dalam diskusi, Said Iqbal menyebutkan contoh konkret perusahaan yang akan dibantu, yaitu PT Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Ia menjelaskan bahwa Danantara berkomitmen untuk mendorong Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memberikan pinjaman modal kerja kepada perusahaan tersebut. “Danantara nanti akan memeriksa kesehatan PT Pakerin, akan mendorong Himbara memberikan dana pinjaman. Dengan jaminan sisa aset yang bagus di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ada sekitar Rp600 miliar. Sedangkan, modal kerjanya Rp400 miliar,” ujarnya.

Pekerjaan tersebut diharapkan bisa memberi dampak positif pada rekrutmen karyawan. Said Iqbal memproyeksikan, bantuan modal dari Danantara akan memungkinkan PT Pakerin menambah jumlah tenaga kerja, termasuk pekerja yang telah di-PHK maupun karyawan baru. “Sekitar 2.700 karyawan bisa direkrut lagi oleh PT Pakerin,” kata Iqbal. Ia menekankan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi nasional untuk mencegah keruntuhan ekonomi akibat pengangguran yang terjadi di sektor swasta.

Perspektif Ekonomi dan Pengelolaan Risiko

Menurut Said Iqbal, PHK yang terjadi di perusahaan swasta tidak hanya mengancam kesejahteraan buruh, tetapi juga memengaruhi rantai pasok dan perekonomian secara umum. Ia menyoroti bahwa banyak perusahaan yang mampu beroperasi normal tetapi dipaksa tutup karena kekurangan modal atau tekanan eksternal seperti krisis pasar. “Kita perlu berpikir lebih jauh, tidak hanya menyelamatkan perusahaan, tetapi juga mencegah hilangnya lapangan kerja yang bisa mengakibatkan peningkatan angka pengangguran,” ujarnya.

Menurut Iqbal, peran Danantara dalam menyediakan modal kerja bisa menjadi solusi jangka panjang. Ia menilai bahwa dengan dana tambahan dari lembaga keuangan seperti Himbara, perusahaan-perusahaan kecil dan menengah bisa bertahan lebih lama. “Ini adalah langkah proaktif untuk mencegah kegagalan perusahaan-perusahaan yang masih memiliki potensi berkembang,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa pengelolaan keuangan perusahaan swasta perlu lebih hati-hati, terutama dalam menghadapi fluktuasi permintaan dan biaya operasional yang meningkat.

Kunjungan Said Iqbal ke Danantara disambut positif oleh pihak perusahaan. Dony Oskaria, COO Danantara, mengatakan bahwa mereka siap bekerja sama dengan pemerintah dalam upaya menjaga kesejahteraan pekerja. “Kami berharap bisa berpartisipasi aktif dalam membantu perusahaan swasta yang sedang mengalami kesulitan, khususnya yang memiliki potensi untuk bangkit kembali,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa Danantara akan mengawasi proses pemberian modal secara ketat agar hasilnya optimal.

Peran Lembaga Keuangan dalam Stabilitas Ekonomi

Said Iqbal menyoroti bahwa lembaga keuangan seperti Danantara memiliki peran penting dalam mengamankan kestabilan perekonomian. Ia mengatakan, perusahaan swasta yang terjebak dalam krisis keuangan seringkali menjadi korban langsung dari PHK. “Maka, dengan menambah modal, kami bisa mencegah perusahaan kehilangan tenaga kerjanya secara besar-besaran,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ini adalah strategi yang seimbang, karena tidak hanya membantu perusahaan, tetapi juga melindungi hak pekerja.

Menurutnya, penggunaan modal dari Danantara tidak hanya memberikan dana pinjaman, tetapi juga memberikan kepastian kepada perusahaan bahwa mereka memiliki dukungan finansial. “Ini bisa memberi perusahaan kepercayaan untuk memperbaiki operasional dan menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi,” ujar Iqbal. Ia juga mengingatkan bahwa kinerja perusahaan swasta perlu diawasi secara berkala, agar tidak terjadi penurunan kualitas manajemen yang bisa memperburuk situasi.

Kebijakan Pemerintah dan Harapan Masa Depan

Said Iqbal menegaskan bahwa kebijakan pemerintah untuk menghindari PHK di sektor swasta adalah bagian dari upaya menyelamatkan ekonomi nasional. “Kami ingin memastikan bahwa perusahaan-perusahaan yang sehat tetap bisa berjalan, dan pekerja yang terdampak tidak langsung kehilangan penghasilan,” ujarnya. Ia menyebut