Latest Program: Anggota DPR usul pembekalan SPPI bisa dengan pendampingan di koperasi
Anggota DPR Usulkan Pembekalan SPPI Melalui Pendampingan di Koperasi
Latest Program – Dari Jakarta, anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim menyarankan kepada pemerintah untuk mengubah metode pembekalan peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang berperan sebagai calon manajer di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) atau Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Usulan ini bertujuan mengoptimalkan pelatihan dengan fokus pada pengalaman langsung di lingkungan koperasi yang telah terbukti sukses. Menurut Rivqy, pendekatan ini lebih efektif dibandingkan metode yang terlalu berorientasi pada aspek fisik.
Koperasi Sebagai Medium Pembelajaran Praktis
Rivqy menjelaskan bahwa pembekalan para calon manajer KDKMP atau KNMP perlu lebih menekankan pada penguasaan manajerial melalui pendampingan di koperasi-koperasi yang telah berkembang. Dia menyarankan penggunaan skema magang bersama pelaku usaha serta bimbingan dari mentor berpengalaman. “Program ini bisa lebih bermakna jika fokus pada manajemen yang berkelanjutan,” ujarnya dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Selasa.
“Lebih baik kalau difokuskan ke skema manajerial saja,” kata Rivqy. Ia menambahkan, pendekatan ini diadopsi dari praktik negara-negara lain yang telah membuktikan keberhasilan koperasi melalui penguatan kapasitas SDM, bukan hanya pendekatan fisik yang berlebihan.
Praktik Koperasi di Negara-Negara Lain
Rivqy mengungkapkan beberapa contoh praktik koperasi yang dapat diaplikasikan di Indonesia. Di Jepang, ia menyebut koperasi pertanian berkembang karena adanya pendidikan manajemen berkelanjutan, pelatihan bisnis, dan bantuan dari profesional. Di Korea Selatan, gerakan Saemaul Undong sukses meningkatkan ekonomi desa melalui pengembangan kepemimpinan lokal, pelatihan kewirausahaan, serta keterlibatan aktif masyarakat. Sementara di Belanda, koperasi besar tumbuh karena dioperasikan oleh manajer profesional yang memiliki kompetensi dalam bisnis, tata kelola, dan akuntabilitas.
“Indonesia perlu mengadopsi praktik-praktik terbaik tersebut,” katanya. “Program KDKMP/KNMP akan mencapai kesuksesan jika dikelola oleh SDM yang profesional, berintegritas, dan memiliki pemahaman mendalam tentang bisnis.”
Evaluasi Program Latsarmil Usai Kematian Peserta
Sementara itu, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program latihan dasar kemiliteran (latsarmil) calon manajer KDKMP/KNMP setelah terdapat lima peserta yang meninggal dunia. Evaluasi ini dilakukan pada 27 Juni 2026, setelah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memerintahkan timnya untuk menganalisis penyebab kematian tersebut. Hasilnya, Kemenhan memutuskan menghentikan latsarmil untuk para calon manajer dan beralih ke pembekalan bela negara serta manajerial.
Langkah Pemulihan dan Harapan untuk Masa Depan
Setelah kejadian tersebut, Kemenhan menyatakan fokusnya pada pendidikan bela negara dan manajerial, sebagaimana diungkapkan pada 29 Juni 2026. Langkah ini bertujuan memastikan keberlanjutan program SPPI tanpa mengorbankan kualitas SDM. Rivqy menilai perubahan ini merupakan respons yang tepat guna menghindari risiko serupa di masa depan.
Dukacita atas Kematian Calon Manajer
Dalam kesempatan terpisah, Rivqy menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga para peserta yang meninggal. Ia mengatakan semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, sementara keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. “Peningkatan SDM koperasi adalah kunci untuk membangun desa secara berkelanjutan,” imbuhnya.
Proses Evaluasi dan Perubahan Strategi
Program latsarmil yang sempat dihentikan Kemenhan menjadi sorotan karena kejadian kematian peserta. Menurut keterangan resmi, evaluasi dilakukan untuk menilai keefektifan metode pelatihan yang dijalankan. Rivqy menekankan bahwa keberhasilan KDKMP/KNMP tergantung pada pembekalan yang terpadu, baik secara teori maupun praktis. Ia menilai pendekatan koperasi sebagai solusi yang lebih sesuai dengan visi pembangunan lokal.
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih dirancang sebagai wadah untuk mengembangkan usaha mikro dan kecil di pedesaan. Rivqy menjelaskan bahwa para calon manajer harus memiliki kemampuan untuk mengelola bisnis secara efisien, memahami dinamika pasar, dan menjaga integritas dalam pengambilan keputusan. Pendampingan di koperasi, menurutnya, memungkinkan mereka menggabungkan teori dengan pengalaman nyata sejak awal.
Kesiapan SDM untuk Masa Depan Pembangunan
Rivqy menekankan pentingnya program pembekalan yang berkelanjutan. “SDM koperasi perlu dibina secara berkesinambungan untuk memastikan mereka mampu menjawab tantangan ekonomi lokal,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa metode ini dapat mengurangi risiko kesalahan dalam perekrutan dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program SPPI. Selain itu, pendampingan di koperasi dianggap lebih efektif karena memungkinkan peserta langsung terlibat dalam aktivitas bisnis sejak awal.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pembekalan, Rivqy menyarankan penggunaan sistem mentorship yang terstruktur. “Mentor yang berpengalaman bisa memberikan arahan praktis dan membantu calon manajer memahami dinamika pengelolaan koperasi,” katanya. Ia juga mengusulkan kerja sama lebih erat dengan Kementerian Koperasi untuk mengembangkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pedesaan.
Perspektif Internasional untuk Koperasi Indonesia
Dalam konteks global, Rivqy menilai praktik koperasi di Jepang, Korea Selatan, dan Belanda memberikan pelajaran berharga. Di Jepang, koperasi pertanian berkembang melalui pendidikan berkelanjutan yang menggabungkan pelatihan teknis dan manajerial. Di Korea Selatan, gerakan Saemaul Undong membuktikan bahwa partisipasi masyarakat dan pengembangan kepemimpinan lokal bisa memperkuat ekonomi des
