Latest Program: Ekspor Sri Lanka tumbuh 6 persen pada empat bulan pertama 2026
Ekspor Sri Lanka Tumbuh 6 Persen dalam Empat Bulan Pertama Tahun 2026
Latest Program – Kolombo, Sri Lanka, menjadi sorotan dalam laporan terbaru mengenai kinerja ekspor negara tersebut. Dalam empat bulan pertama tahun 2026, nilai ekspor Sri Lanka mencatatkan kenaikan sebesar 6 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, meskipun menghadapi tekanan ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh seorang pejabat tinggi Dewan Pengembangan Ekspor (Export Development Board/EDB) pada hari Minggu (21/6), menegaskan bahwa pertumbuhan ini menunjukkan keberhasilan strategi ekspor nasional.
Pertumbuhan Ekspor Jasa Menjadi Pendorong Utama
Menurut Mangala Wijesinghe, ketua EDB, tren ekspor saat ini memiliki potensi untuk membantu Sri Lanka melampaui pendapatan ekspor tahun 2025, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah negara. Ia menjelaskan bahwa sektor jasa kini menyumbang sekitar 22 persen dari total pendapatan ekspor, menggambarkan pergeseran keberagaman ekonomi. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan sebelumnya, di mana ekspor jasa pada 2025 mencapai lebih dari 3 miliar dolar AS.
“Ekspor jasa yang naik hampir 10,5 persen dari periode yang sama tahun lalu membuktikan bahwa sektor ini menjadi pilar penting dalam keberlanjutan perekonomian Sri Lanka,” ujar Wijesinghe.
Dalam empat bulan pertama tahun ini, ekspor jasa mencapai rekor 1,28 miliar dolar AS, menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Ini memperkuat keyakinan bahwa sektor jasa bisa berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional, terutama dengan adanya peluang baru di bidang teknologi informasi (TI) dan logistik. Wijesinghe menekankan bahwa kenaikan ini berdampak langsung pada penerimaan devisa serta penciptaan lapangan kerja.
Konsolidasi Sektor TI sebagai Fokus Utama
Sri Lanka juga menyoroti pertumbuhan pesat di sektor teknologi informasi, yang dianggap sebagai salah satu bidang kunci dalam ekspor jasa. Dalam periode 2025, pendapatan dari TI telah meningkat dari sekitar 2 miliar dolar AS menjadi lebih dari 5 miliar dolar AS. Wijesinghe menegaskan bahwa pengembangan sektor ini akan menciptakan dampak positif yang luas, termasuk peningkatan jumlah tenaga kerja serta meningkatkan daya saing ekonomi.
“Kenaikan pendapatan ekspor TI mencerminkan komitmen Sri Lanka untuk meningkatkan kapasitas produksi dan ekspor ke pasar internasional,” kata Wijesinghe.
Perkembangan tersebut tidak terlepas dari upaya pemerintah dan lembaga terkait untuk memperkuat infrastruktur dan daya tarik sektor TI. Sri Lanka, yang terletak di Laut Hindia, memiliki potensi unik untuk menjadi pusat logistik dan manufaktur teknologi global. Dengan lokasi strategis ini, negara dapat memanfaatkan akses cepat ke pasar Asia Selatan serta negara-negara di sekitar Samudra India.
Perencanaan Strategis Melalui Rencana Pengembangan Ekspor Nasional
Sebagai bagian dari upaya penguatan ekspor, EDB telah mempersiapkan Rencana Pengembangan Ekspor Nasional (National Export Development Plan/NEDP) selama 10 bulan terakhir melalui konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Rencana ini bertujuan mengidentifikasi sektor-sektor prioritas yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan nilai ekspor serta memperluas pangsa pasar. Menurut Wijesinghe, sektor TI dan logistik menjadi dua bidang utama yang perlu didorong.
“Dengan mengembangkan TI dan logistik secara simultan, Sri Lanka dapat menciptakan ekosistem ekspor yang lebih solid, serta mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor tradisional,” jelas Wijesinghe.
Rencana ini juga mencakup peningkatan kapasitas manufaktur kapal, perbaikan kapal, serta layanan logistik. Wijesinghe menyatakan bahwa peningkatan pada bidang-bidang tersebut akan membuka akses ke pasar yang lebih luas dan menghasilkan devisa yang lebih besar. Sebagai contoh, industri pembuatan kapal dan logistik diharapkan mampu meningkatkan pendapatan ekspor seiring permintaan global yang meningkat.
Manfaat Diversifikasi Ekspor untuk Perekonomian
Pendapatan ekspor yang stabil sejauh ini menunjukkan bahwa Sri Lanka mampu mengatasi tantangan ekonomi global. Diversifikasi produk, yang menjadi salah satu tujuan NEDP, diharapkan dapat mengurangi risiko volatilitas pasar. Wijesinghe menegaskan bahwa ekspor ke berbagai sektor seperti pertanian, manufaktur, dan jasa berkontribusi pada ketahanan ekonomi, terutama dalam situasi ketidakpastian global.
“Dengan memperluas produk ekspor dan meningkatkan kualitasnya, Sri Lanka dapat menarik lebih banyak investasi asing serta memperkuat hubungan diplomatik dengan negara-negara mitra,” ujar Wijesinghe.
Sri Lanka juga mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing dalam produksi dan pengiriman barang. Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas infrastruktur, termasuk pelabuhan dan jaringan transportasi, guna mendukung pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan. Selain itu, pelatihan tenaga kerja dan inovasi teknologi menjadi komponen penting dalam mendorong sektor-sektor ini.
Potensi Pertumbuhan di Tahun Mendatang
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa Sri Lanka memiliki potensi untuk mencapai rekor baru dalam ekspor tahun 2026. Wijesinghe menyatakan bahwa dengan kebijakan yang tepat dan pengelolaan sumber daya secara efisien, nilai ekspor bisa meningkat lebih lanjut. Hal ini diperkuat oleh keberhasilan sektor jasa, yang mengalami pertumbuhan dua digit, serta dinamika positif di sektor TI.
“Kita harus memperkuat sektor yang sudah ada, sekaligus membuka peluang di bidang baru agar bisa menjangkau pasar global dengan lebih cepat,” tambah Wijesinghe.
Kenaikan 6 persen dalam empat bulan pertama tahun ini menjadi pertanda baik, terutama dalam konteks penurunan permintaan global di beberapa sektor lain. EDB berharap pertumbuhan ini dapat berlanjut hingga akhir tahun, dengan penekanan pada penguatan ekspor jasa dan kolaborasi dengan mitra internasional. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat keseimbangan perekonomian serta menstabilkan pert
