Main Agenda: Mendikdasmen ajak perkuat sastra untuk bangun generasi berkarakter
Mendikdasmen Ajak Perkuat Sastra untuk Bangun Generasi Berkarakter
Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter
Main Agenda – Dalam upaya memperkuat nilai-nilai pendidikan karakter di Indonesia, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menekankan bahwa karya sastra tetap menjadi alat penting dalam membentuk watak generasi muda. Sastra, menurutnya, tidak hanya menghibur tetapi juga memainkan peran sentral dalam melatih kemampuan kritis, rasa empati, serta pemahaman moral masyarakat. Pernyataan ini disampaikan saat ia melakukan kunjungan ke Aceh Besar, Senin (22/6), sebagai bagian dari kampanye pengembangan pendidikan yang lebih holistik.
“Karya sastra tetap berperan signifikan dalam membentuk individu yang memiliki daya imajinasi, kemampuan berbahasa, serta nilai-nilai moral yang kuat. Sastra adalah cerminan kehidupan yang bisa memandu generasi muda memahami kompleksitas dunia sekitar mereka,” ujar Abdul Mu’ti kepada para wartawan, yang terdiri dari Aprizal Rachmad, Satrio Giri Marwanto, dan Ludmila Yusufin Diah Nastiti.
Dalam dunia pendidikan yang semakin modern, banyak pihak berpendapat bahwa fokus pada sains, teknologi, dan matematika (STEM) telah menggeser peran sastra. Namun, Mu’ti menegaskan bahwa sastra tidak boleh diabaikan. “Kita harus menyeimbangkan antara pendidikan teknis dan pendidikan humanis. Sastra adalah bagian dari pendidikan humanis yang mampu melatih empati dan kesadaran akan kebenaran,” jelasnya.
Kemampuan Berimajinasi dan Keterampilan Berbahasa
Dalam wawancara tersebut, Mu’ti menyoroti pentingnya memperkaya proses belajar mengajar dengan literatur yang relevan. Menurutnya, karya sastra tidak hanya membantu siswa mengembangkan imajinasi tetapi juga memperkuat kemampuan berbahasa, termasuk pemahaman terhadap bahasa Indonesia yang menjadi alat komunikasi utama dalam masyarakat. “Siswa yang terbiasa membaca buku cerita, puisi, atau novel akan lebih mampu mengekspresikan pikiran mereka secara jelas dan kreatif,” tambahnya.
Nilai-nilai moral yang terkandung dalam karya sastra, kata Mu’ti, juga menjadi fondasi untuk membangun sikap bertanggung jawab dan berperilaku baik. “Dalam cerita-cerita klasik, kita bisa menemukan pelajaran tentang kejujuran, keadilan, dan kesabaran. Semua hal ini bisa dijadikan bahan diskusi untuk mengembangkan karakter siswa,” ujarnya. Ia menyarankan bahwa guru-guru harus aktif mengintegrasikan karya sastra ke dalam kurikulum sehari-hari agar siswa tidak hanya menghafal tetapi juga menghayati makna dari setiap karya yang dibacanya.
Membangun Kemandirian Berpikir
Mu’ti menjelaskan bahwa melalui sastra, siswa dapat belajar untuk berpikir secara kritis dan mengeksplorasi berbagai perspektif dalam memahami isu sosial. “Buku-buku yang dipilih harus mampu memicu pertanyaan, bukan hanya memberikan jawaban. Ini adalah cara untuk mengasah kemampuan berpikir siswa,” katanya. Ia menekankan bahwa sastra yang baik mampu menggambarkan realitas kehidupan yang kompleks, sehingga memungkinkan siswa untuk mengambil posisi dalam menyikapi berbagai permasalahan.
Dalam konteks pendidikan karakter, Mu’ti juga menyebutkan bahwa sastra bisa menjadi jembatan antara nilai-nilai tradisional dan realitas kontemporer. “Kita tidak boleh memisahkan sastra dari konteks sosial saat ini. Sastra harus relevan, agar siswa merasa terhubung dengan isu yang mereka hadapi sehari-hari,” jelasnya. Ia memberi contoh karya sastra yang dibuat dengan menggambarkan peran remaja dalam memperkuat keadilan sosial atau menjaga lingkungan hidup.
Respons Pihak Terkait
Kunjungan Mu’ti ke Aceh Besar tidak hanya menjadi ajang diskusi tentang peran sastra, tetapi juga membuka dialog dengan para pendidik dan penulis lokal. “Kita perlu kolaborasi antara pemerintah, guru, dan penulis untuk menciptakan karya yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda,” kata salah satu peserta wawancara, Aprizal Rachmad. Ia menambahkan bahwa penulis muda di Aceh Besar telah mulai menggali potensi sastra untuk menyampaikan pesan-pesan kritis tentang perubahan lingkungan dan budaya.
Satrio Giri Marwanto, reporter lain yang turut hadir, menyoroti bahwa kebijakan ini bisa menjadi langkah penting dalam menyelamatkan sastra dari kesan “diasah” oleh tuntutan praktis di dunia pendidikan. “Banyak sekolah menekankan hasil ujian dan pemenuhan kurikulum, tetapi sering kali mengabaikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam karya sastra. Ini adalah peluang untuk mereformasi pendekatan pengajaran,” katanya.
Sebagai penutup, Mu’ti menyatakan bahwa sastra tidak hanya tentang hiburan, tetapi juga sebagai alat untuk membangun karakter generasi muda. “Dengan memperkuat sastra, kita bisa menciptakan individu yang tidak hanya pintar tetapi juga berhati baik dan berpikir jernih,” pungkasnya. Pernyataan ini diharapkan menjadi dasar untuk reformasi pendidikan yang lebih holistik, di mana sastra tidak lagi dianggap sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai bagian integral dari pengembangan manusia yang utuh.
Dalam beberapa tahun terakhir, sastra memang sering kali dikritik karena kurang relevan dengan kebutuhan pasar. Namun, Mu’ti yakin bahwa dengan pendekatan yang tepat, sastra bisa tetap menjadi fondasi pendidikan yang kuat. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak perlu menggeser nilai-nilai sastra, justru bisa menjadi sarana untuk memperluas akses literatur kepada siswa di daerah terpencil. “Dengan digitalisasi, karya sastra bisa tersebar lebih luas, sehingga tidak ada siswa yang terlantar dari pelajaran ini,” jelasnya.
Dari sisi pendidikan, Mu’ti menekankan bahwa penguatan sastra harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. “Kita perlu program jangka panjang yang melibatkan pelatihan guru, penerbitan buku-buku berkualitas, serta penilaian yang adil terhadap karya sastra dalam sistem pendidikan,” katanya. Ia juga berharap pihak-pihak terkait, seperti pemerintah daerah, bisa memberikan dukungan maksimal untuk kebijakan ini.
Dengan semua langkah yang diusulkan, Mu’ti yakin bahwa pendidikan karakter melalui sastra akan memberikan dampak jangka panjang. “Generasi muda yang terbiasa membaca dan berpikir secara kritis akan menjadi pilar bangsa yang lebih kuat di masa depan,” pungkasnya. Ini adalah pesan yang diharapkan bisa diwujudkan dalam praktik pendidikan di seluruh Indonesia.
