Historic Moment: Kunjungi Asmat, Gibran beri tanda tangan ke anak dan terima aspirasi

Kunjungi Asmat, Gibran Beri Tanda Tangan kepada Anak dan Terima Aspirasi

Historic Moment – Kabupaten Asmat, Papua Selatan (ANTARA) – Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengunjungi Distrik Agats, Kabupaten Asmat, pada hari Minggu, 18 Juni 2026, dalam rangkaian kunjungan kerja ke beberapa wilayah. Selama kunjungan ini, Gibran tidak hanya berinteraksi dengan masyarakat setempat tetapi juga berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang mencerminkan komitmen pemerintah dalam membangun daerah tertinggal.

Interaksi dengan Anak-Anak dan Perempuan Adat

Sebagai bagian dari kunjungan, Gibran menyempatkan diri untuk berdialog langsung dengan perempuan dari Suku Asmat, yang merupakan komunitas dengan budaya unik dan tradisi kuat. Selain itu, ia juga memberikan tanda tangan kepada seorang anak perempuan yang menemui dengan buku tulisnya. Saat bertemu dengan anak bernama Herlina, yang berusia 16 tahun dan merupakan siswi SMK di Distrik Agats, Gibran berinteraksi secara hangat dan bersemangat.

“Tanda tangan di sini?” tanya Gibran kepada Herlina, sambil menatap buku yang diberikan.

Setelah menandatangani buku tersebut, Wapres menyampaikan pesan semangat kepada Herlina. “Belajar yang rajin,” ujarnya, sembari memberikan senyuman yang menggambarkan antusiasme terhadap pendidikan.

Di samping interaksi dengan anak-anak, Gibran juga menyempatkan waktunya untuk mendengarkan aspirasi dari perempuan adat Suku Asmat. Mereka mengungkapkan keinginan untuk mendapatkan dana modal yang dapat mendukung pengembangan ekonomi lokal. “Baik, saya catat,” kata Gibran, sambil menunjukkan keseriusan dalam menanggapi usulan tersebut.

Pembangunan Gereja Katedral dan Kontribusi Masyarakat

Sebuah hal yang menarik diperhatikan Gibran saat ia mengunjungi lokasi pembangunan Gereja Katedral Keuskupan Salib Suci Agats. Proses konstruksi yang berlangsung di sana dinilai sebagai simbol integrasi antara agama dan budaya lokal. Pada kesempatan itu, Wapres berkeliling sambil memperhatikan setiap tahap pembangunan yang telah dimulai sejak tahun 2015, tetapi sempat terhenti sebelum kembali aktif pada 2025.

Pembangunan gereja tersebut didukung oleh berbagai sumber daya, termasuk dana yang dikumpulkan oleh umat beragama, bantuan dari pemerintah daerah, serta donasi dari berbagai pihak. Konstruksi menggunakan material lokal, khususnya kayu besi asli Agats, yang dikenal memiliki kekuatan dan keawetan tinggi. Gibran menyatakan bahwa pemanfaatan bahan-bahan setempat merupakan bentuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Visit ke Sekolah Lapang Sagu dan RSUD Perpetua J. Safanpo

Terlepas dari dua lokasi utama yang dikunjungi, Gibran juga memprioritaskan kunjungan ke Sekolah Lapang Sagu dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Perpetua J. Safanpo. Institusi pendidikan dan kesehatan ini berada dalam wilayah Kabupaten Asmat dan menjadi fokus pembangunan infrastruktur.

Pada Sekolah Lapang Sagu, Gibran mengapresiasi upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan kepada masyarakat adat. Sementara di RSUD Perpetua J. Safanpo, ia meninjau fasilitas medis yang diharapkan dapat melayani kebutuhan kesehatan warga setempat. Dalam semua kegiatan tersebut, Gibran menekankan pentingnya pemerintah daerah berperan aktif dalam pengembangan wilayah.

Kunjungan Kerja ke Wilayah Lain

Sebelumnya, Gibran melakukan kunjungan kerja ke provinsi lain, yakni Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, Papua Barat, dan Papua Selatan. Rangkaian kunjungan ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi daerah dan memberikan dukungan dalam berbagai sektor pembangunan. Kabupaten Asmat menjadi bagian dari rangkaian perjalanan tersebut, sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antara pusat pemerintahan dan masyarakat lokal.

Significance of the Visit

Kunjungan Wapres Gibran ke Agats dilihat sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap daerah-daerah yang masih memerlukan pengembangan. Di sini, ia tidak hanya memperkenalkan diri sebagai tokoh negara tetapi juga menunjukkan komitmen untuk melibatkan masyarakat dalam proses pembangunan.

Interaksi dengan Herlina dan perempuan adat menunjukkan bahwa Gibran memperhatikan peran individu dalam menggerakkan perubahan. Hal ini selaras dengan visinya untuk membangun Indonesia dari bawah ke atas, dengan memprioritaskan kebutuhan warga di tingkat lokal.

Di sisi lain, pembangunan Gereja Katedral Keuskupan Salib Suci Agats menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara pihak berwenang dan masyarakat dapat mewujudkan proyek besar. Gibran menyatakan bahwa proyek ini tidak hanya memperkuat infrastruktur spiritual tetapi juga mendorong perekonomian melalui penggunaan bahan baku lokal.

Impact and Future Outlook

Kegiatan di Agats diharapkan menjadi momentum untuk menginspirasi masyarakat lainnya. Dengan berinteraksi langsung, Gibran membangun koneksi emosional yang berpotensi meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program pemerintah.

Pada akhir kunjungannya, Gibran menegaskan bahwa pembangunan di Papua Selatan, khususnya di wilayah Asmat, akan terus didukung. Ia menyerukan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan kondisi yang lebih baik. “Pembangunan harus berjalan harmonis, baik dari sisi spiritual maupun sosial,” katanya.

Kunjungan ke Agats ini juga menjadi pengingat bahwa pengembangan daerah tidak bisa terlepas dari partisipasi aktif warga.