Important Visit: Delegasi Iran bertolak ke Swiss, desak AS patuhi kesepakatan

Delegasi Iran Bertolak ke Swiss, Desak AS Patuhi Kesepakatan

Important Visit – Teheran, 20 Juni – Delegasi Iran yang akan berpartisipasi dalam serangkaian perundingan dengan Amerika Serikat telah berangkat ke Swiss, menurut pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, pada Sabtu (20/6). Ia mengungkapkan bahwa para utusan negara tersebut siap memulai proses negosiasi dengan pihak AS, yang dianggap sebagai langkah krusial untuk memperkuat komitmen yang telah disepakati bersama. Dalam sebuah pernyataan resmi, Baghaei menyebut bahwa pihak Iran akan menekankan pentingnya kesepakatan internasional yang dibangun melalui nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara.

Tujuan Perundingan

Persiapan delegasi Iran untuk perjalanan ke Swiss telah berlangsung beberapa hari sebelumnya, dengan fokus pada pembahasan aspek-aspek utama dari kesepakatan nuklir yang dibicarakan. Baghaei, dalam wawancara dengan kantor berita Fars, menjelaskan bahwa tujuan utama dari pertemuan tersebut adalah menegaskan kembali kesepakatan yang dibuat sebelumnya, serta mendesak AS untuk memenuhi komitmen yang telah dijanjikan. “Kami percaya bahwa MoU harus menjadi dasar utama dalam hubungan bilateral antara Iran dan AS,” ujarnya. Pihak Iran mengharapkan langkah konkret dari pihak AS dalam menurunkan tekanan ekonomi yang selama ini diberlakukan, terutama terkait sanksi-sanksi yang terus menumpuk sejak keputusan AS untuk menarik diri dari perjanjian nuklir pada 2018.

“Dalam beberapa menit, delegasi negosiasi Iran akan berangkat ke Swiss,” kata Baghaei. Dalam perundingan tersebut, Iran akan memberikan argumen kuat agar AS mematuhi komitmen yang tercantum dalam MoU, yang dianggap sebagai jaminan kritis bagi keamanan nuklir Iran. “Kami akan meminta penjelasan terperinci mengenai rencana tindakan yang akan diambil AS untuk menegakkan janji-janjinya,” tambahnya. Pernyataan ini menunjukkan ketegangan yang terus memanas antara dua negara yang sebelumnya sempat berada di ambang perjanjian penting.

Dalam konteks global, keberhasilan perundingan antara Iran dan AS di Swiss akan berdampak besar terhadap stabilitas wilayah Timur Tengah. Pihak Iran telah menunjukkan sikap terbuka, tetapi juga tetap waspada terhadap kegagalan kesepakatan yang bisa memicu eskalasi lebih lanjut. Dalam wawancara sebelumnya, Baghaei pernah menyatakan bahwa MoU harus menjadi “dasar bagi perdamaian jangka panjang” dan bahwa AS memiliki tanggung jawab moral untuk memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati.

Kehadiran Delegasi AS

Di sisi lain, utusan khusus AS Steve Witkoff dikabarkan sedang menuju Swiss untuk menghadiri putaran pertama perundingan antara kedua pihak, menurut laporan Axios. Witkoff, yang sebelumnya terlibat dalam perundingan nuklir di Vienna, diharapkan menjadi pihak yang mampu mengenali kebutuhan Iran dan menawarkan solusi yang fleksibel. Namun, para pengamat internasional mengingatkan bahwa kehadiran Witkoff tidak menjamin keberhasilan perundingan, karena tekanan politik dari dalam pemerintahan AS masih menjadi faktor penghambat utama.

“AS harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesegera mungkin. Jika tidak, seluruh kesepakatan akan berada dalam bahaya,” kata Baghaei. Pernyataan ini menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan MoU terancam, terlepas dari ketegangan yang masih membara. Baghaei menekankan bahwa jika AS gagal memenuhi komitmen seperti membatasi kapasitas nuklir Iran atau menghapus sanksi ekonomi, maka kesepakatan tersebut bisa runtuh dalam waktu dekat.

Menurut laporan tambahan dari Axios, Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump, juga telah berada di Swiss sebagai bagian dari delegasi AS. Kushner dikenal sebagai peran kunci dalam pembentukan MoU, dan kehadirannya diharapkan bisa membantu mengurangi ketegangan antara kedua negara. Namun, belum ada pengumuman resmi mengenai jadwal rapat maupun isu utama yang akan dibahas. Dalam beberapa hari terakhir, pihak AS dan Iran telah menyampaikan berbagai permintaan dan konterpermintaan, termasuk soal pengembalian aset yang dijatuhkan dan pembatasan akses militer.

Ancaman Jika AS Tidak Memenuhi Komitmen

Baghaei berulang kali mengingatkan bahwa AS harus memperlihatkan komitmen nyata terhadap MoU. Ia menegaskan bahwa jika pihak AS tidak memenuhi tiga komitmen utama—seperti membatasi kegiatan nuklir Iran, menurunkan jumlah senjata nuklir, dan mengembalikan dana yang diblokir—maka MoU bisa terancam. “Kami tidak akan ragu untuk mengambil langkah-langkah tegas jika AS terus berulang kali melanggar perjanjian ini,” ujarnya. Ancaman ini menunjukkan bahwa Iran siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk keputusan untuk kembali memperketat sanksi ekonomi terhadap AS.

“Dalam beberapa menit, delegasi negosiasi Iran akan berangkat ke Swiss,” kata Baghaei. Dalam perundingan tersebut, Iran akan mendesak AS untuk memenuhi komitmennya berdasarkan MoU yang telah ditandatangani kedua pihak. “Kami akan meminta penjelasan terperinci mengenai langkah-langkah yang akan diambil AS untuk memenuhi komitmen tersebut,” lanjut Baghaei. Ia memperingatkan bahwa jika AS tidak melakukan penyesuaian, maka MoU akan “berada dalam bahaya.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan MoU diabaikan, meski tekanan dari dalam pemerintahan AS masih besar.

Di sisi lain, para diplomat Iran menekankan bahwa MoU tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral tetapi juga terhadap keberlanjutan perjanjian nuklir internasional. Dalam sebuah pernyataan, Baghaei meny