Main Agenda: Wagub harap Rembuk Utama KTNA hasilkan rekomendasi pertanian maju
Wagub Harap Rembuk Utama KTNA Hasilkan Rekomendasi untuk Pertanian Maju
Main Agenda – Acara Rembuk Utama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) yang menjadi Main Agenda dalam PENAS Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi strategis yang mendorong perkembangan sektor pertanian dan perikanan Indonesia. Wakil Gubernur Provinsi Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, menegaskan pentingnya forum ini sebagai pilar untuk mempercepat transformasi pertanian menuju era modern. Ia berharap diskusi yang berlangsung di Gorontalo akan memberikan arahan konkret untuk meningkatkan kualitas hasil pertanian, memastikan keberlanjutan pangan nasional, serta menarik partisipasi generasi muda dalam sektor pertanian.
Sebagai Main Agenda utama acara, Rembuk Utama KTNA dianggap sebagai platform strategis bagi petani dan nelayan dari berbagai daerah untuk berbagi pengalaman, mengidentifikasi tantangan, serta merancang solusi inovatif. Idah menegaskan bahwa keberhasilan pertanian Indonesia kini tidak hanya tergantung pada produksi, tetapi juga pada kemampuan menjaga daya saing produk dan meningkatkan kesejahteraan petani. “Forum ini menjadi penggerak utama untuk menciptakan rekomendasi yang selaras dengan kebutuhan sektor pertanian masa depan,” jelasnya.
“Kita perlu memastikan bahwa Main Agenda Rembuk Utama KTNA tidak hanya menghasilkan kebijakan, tetapi juga membangun kemitraan yang kuat antara petani, pemerintah, dan sektor swasta,” tambah Idah, yang juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengembangan pertanian modern.
PENAS XVII Tahun 2026, yang diadakan di Gorontalo, menjadi ajang untuk mendorong integrasi teknologi, peningkatan akses pasar, serta penguatan kelembagaan petani. Acara ini diharapkan menjadi titik awal bagi perubahan yang berkelanjutan dalam pertanian. Idah menyampaikan bahwa keberlanjutan pangan nasional bergantung pada kemampuan mengelola sumber daya alam secara efisien dan mengoptimalkan ekosistem pertanian yang inklusif. “Dengan Main Agenda yang terarah, kita dapat menciptakan model pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan tuntutan pasar global,” tambahnya.
Kehadiran KTNA sebagai pengambil kebijakan di tingkat lokal dinilai sangat strategis dalam mewujudkan visi pertanian maju. Idah menyoroti bahwa keberhasilan ini memerlukan kolaborasi antar pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, institusi penelitian, dan komunitas petani. “Rekomendasi dari Main Agenda Rembuk Utama harus menjadi acuan untuk penguatan kelembagaan dan pemberdayaan petani,” tuturnya. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan pertanian dan pelatihan teknologi bagi para pelaku usaha pertanian, agar mampu menghadapi tantangan kompetitif di era digital.
Peran KTNA dalam Transformasi Pertanian
Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) dikenal sebagai organisasi yang mewadahi kepentingan petani dan nelayan, serta menjadi pengambil kebijakan utama dalam sektor pertanian. Dalam Main Agenda Rembuk Utama KTNA, para peserta akan membahas isu-isu krusial seperti perluasan akses ke teknologi pertanian, pengurangan risiko produksi, serta penguatan kapasitas pengelolaan lahan. Idah menegaskan bahwa forum ini harus menjadi pusat pengambilan keputusan untuk mempercepat pertumbuhan pertanian yang berkelanjutan.
PENAS XVII Tahun 2026 juga menjadi momen untuk mengevaluasi keberhasilan program pemerintah daerah dalam meningkatkan produksi pertanian. Idah mengatakan, hasil dari Main Agenda Rembuk Utama KTNA akan menjadi pedoman untuk reformasi sistem distribusi, pengurangan ketergantungan pada bahan baku impor, serta pemberdayaan usaha kecil menengah (UKM) pertanian. “Kita perlu menciptakan ekosistem yang mendukung pertanian maju, bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan,” imbuhnya.
Isu Utama dalam Rembuk Utama KTNA
Dalam Main Agenda acara, beberapa isu utama yang dibahas termasuk perubahan iklim, ketersediaan air, dan keterbatasan akses ke modal. Idah mengatakan, tantangan ini membutuhkan solusi yang berbasis inovasi dan kerja sama lintas sektor. “Pertanian modern harus mampu menghadapi perubahan iklim dengan metode yang lebih ramah lingkungan, serta meningkatkan efisiensi sumber daya melalui penggunaan teknologi informasi,” jelasnya.
Rembuk Utama KTNA diharapkan juga dapat menjadi ajang untuk mengevaluasi kebijakan yang telah diimplementasikan dan menyesuaikannya dengan kondisi terkini. Idah menyampaikan bahwa rekomendasi dari Main Agenda ini harus didukung oleh kebijakan yang konkret, seperti insentif bagi petani yang menerapkan pertanian berkelanjutan, serta pengembangan infrastruktur pendukung. “Dengan strategi yang tepat, kita bisa membangun pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat,” tambahnya.
