Studi: Ghosting Lebih Menyakitkan dari Penolakan Langsung – Dampaknya Bisa Lebih Lama
Studi: Ghosting Lebih Menyakitkan dari Penolakan Langsung, Dampaknya Bisa Lebih Lama
Berdasarkan penelitian terbaru, perilaku ghosting ternyata menyebabkan luka emosional yang lebih lama dibandingkan penolakan langsung. Ketika seseorang tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan, pihak yang ditinggalkan sering kali merasa bingung dan kesulitan memahami kondisi hubungan. Ketidakjelasan ini memperpanjang proses pemulihan emosional, tanpa memandang jenis kelamin.
Penelitian Terbaru di Jurnal Computers in Human Behavior
Temuan ini didukung oleh studi yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada November 2025. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa meskipun ghosting dan penolakan langsung sama-sama menyakitkan, tindakan mengakhiri hubungan secara tiba-tiba cenderung lebih berat karena tidak menyediakan kepastian atau penutupan.
Proses pengakhiran hubungan melalui ghosting meninggalkan rasa tidak jelas yang membuat perasaan ditolak bertahan lebih lama dibandingkan jika penolakan disampaikan secara langsung.
Fenomena ini semakin umum karena pengembangan media sosial dan aplikasi kencan, yang memudahkan orang terhubung sekaligus mengakhiri hubungan tanpa memberi penjelasan. Ghosting dapat terjadi dalam berbagai jenis hubungan, seperti romantis, pertemanan, atau profesional, dengan cara memutus komunikasi secara mendadak.
Eksperimen untuk Mengamati Dampak Emosional
Untuk mendapatkan data lebih akurat, tim peneliti dari University of Milano-Bicocca melakukan dua eksperimen langsung. Mereka menggunakan metode catatan harian untuk membandingkan reaksi terhadap ghosting dan penolakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dalam eksperimen pertama, 46 orang dewasa berusia 19–34 tahun diwajibkan berkomunikasi melalui aplikasi Telegram dengan asisten peneliti selama 15 menit sehari.
Di hari pertama hingga ketiga, percakapan berlangsung normal dengan topik sehari-hari. Peserta lalu diwajibkan mengisi kuesioner untuk mengevaluasi emosi, kedekatan, dan kepuasan hubungan. Mulai hari keempat, skenario diubah: sebagian orang melanjutkan percakapan seperti biasa, sebagian menerima penolakan langsung, dan sebagian lainnya mengalami ghosting karena lawan bicara tiba-tiba berhenti merespons.
Hasil menunjukkan bahwa baik ghosting maupun penolakan langsung memicu emosi negatif, seperti merasa diabaikan, harga diri menurun, dan kesan kedekatan emosional berkurang. Namun, mereka yang menerima penolakan langsung cenderung pulih lebih cepat karena kejelasan dalam komunikasi memudahkan proses penerimaan situasi.
Pola Serupa dalam Eksperimen Kedua
Dalam eksperimen kedua yang melibatkan 90 peserta selama sembilan hari, pola yang sama terjadi: ghosting menyebabkan reaksi emosional yang lebih lambat namun berlangsung lebih lama dibandingkan penolakan langsung. Faktor gender tidak berpengaruh signifikan pada respons emosional dalam kedua skenario tersebut.
Peneliti mengakui keterbatasan studi ini karena dilakukan dalam kondisi terkontrol dan hubungan yang relatif singkat. Untuk memahami dampak ghosting dalam hubungan yang lebih kompleks dan panjang, penelitian lanjutan diperlukan. Meski begitu, temuan ini menegaskan bahwa kejelasan dalam komunikasi tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga kesehatan emosional, terutama saat mengakhiri hubungan.
