Agenda Kunjungan: Malam Paskah: Merenungkan Kembali Perdamaian di Bumi
Malam Paskah: Merenungkan Kembali Perdamaian di Bumi
Malam Paskah menandai momen sakral dan paling berpengaruh dalam perjalanan iman umat Kristen. Setelah dua hari terakhir yang dihabiskan Gereja Kudus untuk mengungkap misteri penderitaan dan kematian Yesus Kristus, malam ini berlangsung dalam kesunyian bermakna, menantikan cahaya yang mampu memecah gelap.
Bacaan Injil Matius (28:1-10) mengisahkan perjalanan para perempuan yang datang ke tempat kubur Yesus ketika fajar mulai menyingsing. Mereka berjalan dengan hati yang masih berantakan. Bayangan siksa salib masih menggema dalam ingatannya. Mereka menyaksikan bagaimana Tuhan dan Guru yang mereka cintai tiada lagi hidup, meninggalkan harapan yang pernah tumbuh menjadi terkubur bersama tubuh-Nya.
Kegelapan dan Harapan
Peristiwa para perempuan dalam Matius sangat dekat dengan pengalaman hidup kita. Ada masa ketika kita berjalan dengan rasa duka dan ketakutan, namun tetap berusaha maju. Kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan akan masa depan serupa dengan Sabtu Suci, saat suasana sunyi menghiasi hari-hari ketika doa belum terjawab.
“Jangan takut. Ia tidak ada di sini, karena Ia telah bangkit!” (Matius 28:5-6)
Malaikat Tuhan dalam Matius 28:2 menggulingkan batu penutup makam, menjadi simbol kehadiran Allah yang mampu meyakinkan manusia bahwa tak ada hal yang mustahil, selama hati terbuka untuk pembaruan dan pertobatan. Kegelapan di bumi masih ada, tapi harapan tetap hidup. Batu yang mengunci makam bisa saja diangkat, sebagaimana luka dan kekacauan di dunia bisa digulingkan.
Dunia kini tampak seperti berisi banyak makam. Ada makam perang yang menghancurkan kehidupan, makam kebencian yang memecah belah keluarga dan bangsa, serta makam ketidakadilan yang melukai martabat sesama. Batu-batu itu menciptakan air mata di bumi. Paus Leo XIV memberikan pesan yang menyentuh hati, mengajak umat manusia berdoa untuk perdamaian dalam keluarga manusia yang kehilangan rasa hormat dan cinta.
Menjadi Saksi Kebangkitan
Kebangkitan Yesus bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan wujud kasih Allah yang menguatkan luka di dunia saat ini. Para perempuan yang menyaksikan kebangkitan tidak tinggal di makam, melainkan bergerak. Mereka berlari dengan sukacita, mewartakan bahwa Tuhan benar-benar bangkit.
Paskah menggerakkan kita untuk terus bergerak, bukan tinggal diam. Malam ini mengundang kita kembali ke Galilea, memulihkan akar cinta dan pengalaman awal ketika hati disentuh oleh kasih Allah. Kegersangan hati muncul karena jarak dari Allah, atau kebiasaan tinggal dalam makam. Kita dipanggil menjadi saksi kebangkitan Kristus, membawa perdamaian di tengah keluarga dan pengampunan dalam hubungan sosial yang retak.
Mari kita merendahkan hati dan membiarkan Kristus yang bangkit tinggal di dalamnya. Alleluia! Alleluia! Alleluia!
