Hasil Pertemuan: Trump Ngamuk! Pemerintah Akan Umumkan Kebijakan Penting, Ada Soal BBM?

Trump Ngamuk! Pemerintah Akan Umumkan Kebijakan Penting, Ada Soal BBM?

Pasar keuangan Indonesia mengalami pelemahan pada perdagangan Senin (30/3/2026), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah terdampak oleh kenaikan harga minyak di bursa Wall Street. Mayoritas saham tergelincir, sedangkan obligasi pemerintah tetap stabil. Pasar diperkirakan akan memperlihatkan perbaikan pada perdagangan Selasa (31/3/2026).

Kinerja Pasar Saham

Indeks IHSG ditutup dengan penurunan tipis 0,05% ke level 7.093,81. Namun, penutupan ini menunjukkan perbaikan setelah sempat menyentuh level terendah 6.945,5 di sesi pertama. 467 saham mengalami penurunan, 258 saham naik, dan 233 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 9,89 triliun, dengan total 15,89 miliar saham diperdagangkan dalam 1,19 juta transaksi.

“Kebijakan ini bagian dari strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pasar, yang bertujuan memperkuat pendalaman pasar keuangan domestik sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global yang berlangsung,” ujar Erwin Gunawan Hutapea.

Dinamika Mata Uang Rupiah

Mata uang Garuda melemah 0,15% menjadi Rp16.985/US$ pada perdagangan Senin. Kondisi ini membuat rupiah hanya berjarak sedikit dari level Rp17.000/US$. Penurunan terjadi sejak awal sesi, dengan rupiah dibuka di Rp16.970/US$ dan terus melemah hingga akhir hari.

Pelemahan rupiah terkait dengan penguatan dolar AS yang kembali menembus level 100. Kenaikan dolar AS didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap konflik di Teluk yang diperkirakan berlangsung lebih lama. Situasi ini mendorong harga minyak naik, sehingga menciptakan ketakutan terhadap inflasi dan risiko perlambatan ekonomi global.

Langkah BI untuk Stabilisasi

Bank Indonesia (BI) berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui implementasi instrumen repo valuta asing. Instrumen baru tersebut melibatkan Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) yang mulai berlaku pada hari Senin. Kebijakan ini diharapkan memberi alternatif bagi perbankan dalam mengelola likuiditas dan memperkuat kinerja pasar keuangan dalam negeri.

Di bursa Wall Street, saham mayoritas tertekan karena kenaikan harga minyak dan penurunan tajam di sektor teknologi. Pelaku pasar mengabaikan komentar Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, dalam menghadapi tekanan dari perubahan dinamika global.

Kondisi pasar obligasi tetap stabil, dengan yield surat utang acuan Indonesia untuk tenor 10 tahun berada di 6,848%. Stabilitas ini menunjukkan keseimbangan antara tekanan jual dan beli. Nilai yield yang tinggi mengindikasikan harga obligasi cenderung turun, sementara yield rendah berarti harga lebih tinggi.