Solusi untuk: Ini 4 Calon Pengganti setelah Khamenei Tewas di Tangan AS-Israel

Ini 4 Calon Pengganti Setelah Khamenei Tewas di Tangan AS-Israel

TEHERAN – Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, berpulang dalam serangan bersama Amerika Serikat (AS) dan Israel pada pagi hari Sabtu. Sebelumnya, dalam perang 12 hari antara Iran dan Israel di bulan Juni, Khamenei telah menyebutkan tiga nama yang mungkin menjadi penerusnya. Pada hari Minggu (1/3/2026), Presiden AS Donald Trump dan media Iran mengonfirmasi kematian Khamenei, sosok yang memimpin Iran sejak 1989. Iran kemudian mengumumkan masa berkabung resmi selama 40 hari serta tujuh hari libur nasional untuk mengenang kepergian pemimpin tertingginya.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah meninggal,” tulis Trump di Truth Social. Media pemerintah Iran menyatakan, “Khamenei mati syahid setelah diserang AS-Israel. Dia tidak bisa menghindari intelijen dan sistem pelacakan canggih kami, serta bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada yang bisa dia atau para pemimpin lain yang terbunuh bersamanya lakukan,” lanjut Trump.

Khamenei (86), yang memimpin Iran selama hampir 37 tahun, sudah menyiapkan rencana suksesi. Saat perang 12 hari berlangsung, ketika ia berada di tempat persembunyian, dia mengungkap tiga kandidat potensial. Trump pada hari Sabtu menyebut ada “beberapa kandidat yang baik” untuk menggantikan Khamenei setelah pengumuman pembunuhan tersebut.

Empat Calon yang Disebutkan

Menurut laporan New York Times, pemimpin tertinggi Iran haruslah seorang ulama dan cendekiawan Syiah senior yang ditunjuk oleh Majelis Pakar. Selain tiga kandidat yang disebut Khamenei, terdapat satu nama tambahan yang berpeluang menjadi penerusnya: Hashem Hosseini Bushehri, seorang ulama senior dengan koneksi kuat ke lembaga kunci dalam proses suksesi, terutama Majelis Pakar. Sedangkan Mojtaba, putra kedua Khamenei yang berusia 56 tahun, dikenal memiliki peluang tipis karena Khamenei pernah menyatakan tidak ingin jabatan diwariskan secara turun-temurun.

1. Alireza Arafi

Alireza Arafi, ulama berusia 67 tahun dengan pengalaman luas, merupakan rekan dekat Khamenei. Saat ini, ia menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar. Arafi juga pernah menjadi anggota Dewan Wali, lembaga yang bertugas menyeleksi kandidat pemilu dan meng审核 undang-undang dari Parlemen. Meskipun memiliki reputasi keagamaan kuat, ia tidak dianggap sebagai kekuatan politik dominan dan tidak terlalu dekat dengan institusi keamanan.

2. Mohammad Mehdi Mirbagheri

Mohammad Mehdi Mirbagheri, ulama garis keras berusia 60-an, mewakili faksi konservatif di Majelis Pakar. Menurut IranWire, ia sangat menentang Barat dan percaya konflik antara orang beriman dan orang kafir tak dapat dihindari. Saat ini, ia memimpin Akademi Ilmu Pengetahahuan Islam di kota suci Qom.

3. Hassan Khomeini

Hassan Khomeini, tokoh berusia 50-an, adalah cucu pendiri Republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia memiliki status religius dan kredibilitas revolusioner, tetapi belum pernah memegang jabatan publik. Dibandingkan dengan rekan sejawatnya, ia dianggap lebih moderat. Khamenei sebelumnya pernah menyebutnya sebagai salah satu calon yang mungkin diangkat.

4. Hashem Hosseini Bushehri

Hashem Hosseini Bushehri, ulama senior berusia 60 tahun, memiliki hubungan erat dengan lembaga keamanan dan elite pemerintahan. Ia berperan dalam proses suksesi, terutama melalui keterlibatannya dengan Majelis Pakar. Meskipun tidak dijelaskan secara rinci, nama ini juga masuk dalam daftar calon potensial Khamenei.