Program Terbaru: AS Tembakkan 850 Lebih Rudal Tomahawk dalam Perang Iran, Persediaan Sekarat?
Pertahanan AS Terancam karena Penggunaan Rudal Tomahawk di Perang Iran?
Menurut laporan The Washington Post, militer AS telah meluncurkan lebih dari 850 rudal Tomahawk dalam perang melawan Iran yang berlangsung sebulan terakhir, demikian laporan dari beberapa sumber internal. Jumlah yang signifikan tersebut menurunkan stok rudal jelajah presisi yang dimiliki AS. Pentagon memantau penggunaan rudal secara ketat. Seorang pejabat menyatakan, persediaan di wilayah Timur Tengah telah menipis.
Rudal Tomahawk menjadi andalan AS dalam menyerang Iran dari jarak jauh. Sistem ini juga pernah digunakan dalam Perang Teluk. Namun, produksi tahunan yang terbatas—hanya ratusan unit—memicu kekhawatiran mengenai pasokan rudal tersebut. Jika tidak ada tindakan segera, kondisi ini bisa mencapai titik kritis.
“Persediaan di Timur Tengah sangat rendah. Jika tak ada kebijakan mendesak, kondisinya mendekati ‘Winchester’—istilah militer untuk kehabisan amunisi yang bisa memengaruhi operasi,”
Mark Cancian, ahli dari Center for Strategic and International Studies (CSIC), menambahkan bahwa penggunaan lebih dari 800 rudal Tomahawk menghabiskan sekitar 25% dari total stok yang ada. Situasi ini berpotensi menciptakan celah bagi konflik di Pasifik Barat. Lembaga think tank memperkirakan Angkatan Laut AS memiliki sekitar 3.100 rudal Tomahawk pada awal perang. Secara keseluruhan, AL AS memperoleh hampir 9.000 rudal Tomahawk sepanjang sejarah program tersebut, meski banyak yang sudah tua dan usang saat ini.
Sean Parnell, juru bicara Pentagon, membantah klaim kehabisan amunisi. Menurutnya, militer AS memiliki pasokan yang cukup untuk memastikan operasi dapat berjalan lancar di mana pun. Parnell menyalahkan media yang ia anggap memihak, dengan tujuan merusak reputasi AS sebagai salah satu militer terkuat dunia. Ia menyatakan laporan tersebut salah, terutama menyiratkan bahwa Pentagon gagal mendukung pasukan AS mencapai tujuan perang.
Tidak hanya itu, AS juga meluncurkan lebih dari 1.000 rudal pertahanan, seperti Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), untuk mengantisipasi serangan Iran. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa strategi pertahanan dan serangan tetap terjaga meski ada kekhawatiran akan kehabisan amunisi.
