Wamenpar harap lulusan Poltekpar jadi pelopor pariwisata berkelanjutan
Lulusan Poltekpar Makassar Didorong Menguatkan Pariwisata yang Berkelanjutan
Ayobantudonasi.com – Pengembangan pariwisata Indonesia membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya menguasai keterampilan industri, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap lingkungan, budaya, dan kebutuhan masyarakat. Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa kepada 603 lulusan Politeknik Pariwisata Makassar pada upacara wisuda yang berlangsung Sabtu.
Para wisudawan dan wisudawati dari program Diploma III serta Sarjana Terapan atau Diploma IV tersebut diharapkan dapat mengambil peran sebagai penggerak pariwisata berkelanjutan. Peran tersebut menjadi semakin relevan ketika aktivitas wisata nasional terus bertumbuh dan membuka lapangan kerja maupun peluang usaha di berbagai daerah.
“Dalam membangun pariwisata Indonesia, terapkan prinsip keberlanjutan dalam setiap karya. Pastikan kontribusi tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan, tetapi, juga melestarikan alam, merawat budaya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Wamenpar Ni Luh.
Pertumbuhan Pariwisata Membawa Tanggung Jawab
Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,20 miliar, sementara devisa pariwisata tercatat sebesar 18,27 miliar dolar Amerika Serikat. Angka tersebut menunjukkan besarnya ruang pengembangan sektor pariwisata, sekaligus menegaskan perlunya sumber daya manusia yang siap menjaga kualitas pertumbuhannya.
Perkembangan positif juga berlanjut pada semester pertama 2026. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta, naik 5,71 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada rentang waktu yang sama, terdapat 630,41 juta perjalanan wisatawan nusantara dan devisa pariwisata sebesar 8,43 miliar dolar AS.
Bagi lulusan pendidikan vokasi pariwisata, pertumbuhan tersebut bukan sekadar indikator meningkatnya aktivitas ekonomi. Mereka dihadapkan pada kebutuhan industri yang terus berubah, termasuk tuntutan pelayanan yang lebih baik, pemanfaatan teknologi, pemahaman lintas budaya, serta pengelolaan destinasi yang tetap menjaga karakter lokal.
Ni Luh menekankan bahwa ukuran keberhasilan pariwisata ke depan tidak dapat hanya dilihat dari besarnya jumlah kedatangan wisatawan. Dampak yang dirasakan masyarakat, perlindungan terhadap alam, dan keberlanjutan budaya juga harus menjadi bagian dari arah pembangunan sektor ini.
“Pariwisata masa depan bukan hanya tentang jumlah kunjungan, tetapi, juga bagaimana menghadirkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Karena itu, lulusan Politeknik Pariwisata diharapkan tidak hanya terampil, tetapi, juga tangguh, adaptif, berintegritas, dan mampu berkomunikasi lintas budaya,” tutur Wamenpar.
Kompetensi Harus Berjalan Bersama Integritas
Dalam dunia kerja pariwisata, keterampilan teknis tetap penting, mulai dari pelayanan, pengelolaan usaha, hingga pemahaman kebutuhan wisatawan. Namun, kemampuan tersebut perlu ditopang oleh kesiapan menerima perubahan. Industri bergerak cepat, sehingga lulusan diminta terus memperbarui pengetahuan, terbuka terhadap masukan, dan memahami perkembangan teknologi serta perilaku wisatawan.
Pesan utama yang dititipkan kepada para lulusan adalah menjadi pelopor praktik wisata yang menghasilkan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dan budaya. Prinsip ini dapat diterapkan di berbagai bidang, baik ketika bekerja pada sektor perhotelan, perjalanan, pengelolaan destinasi, kuliner, penyelenggaraan acara, maupun saat membangun usaha sendiri.
Ni Luh juga mengaitkan kesiapan profesional tersebut dengan nilai luhur masyarakat Sulawesi Selatan: sipakainge, sipakatau, dan sipakalebbi. Nilai itu mencerminkan semangat untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, memperlakukan orang lain secara manusiawi, serta saling menghargai. Dalam sektor yang bertumpu pada pengalaman dan interaksi antarmanusia, nilai keramahtamahan ini menjadi kekuatan penting bagi pariwisata Indonesia.
Lulusan pun diingatkan agar tidak kehilangan akar budaya ketika memasuki ruang kerja nasional maupun internasional. Menjadi profesional berwawasan global tidak berarti melepas identitas sendiri, melainkan membawa kearifan lokal sebagai nilai tambah yang dapat diperkenalkan kepada dunia.
“Jangan terburu-buru mengukur perjalanan sendiri dengan orang lain. Sebagaimana ketangguhan kapal Pinisi mengarungi samudra dunia, jadilah nakhoda-nakhoda andal yang membawa sektor kepariwisataan Indonesia semakin maju dan berdaya saing global,” ujar Wamenpar.
Jembatan Menuju Dunia Industri
Politeknik Pariwisata Makassar terus berupaya mempertemukan kebutuhan lulusan dengan peluang yang tersedia di industri. Direktur Politeknik Pariwisata Makassar Herry Rachmat Widjaja menyampaikan bahwa salah satu langkah yang ditempuh adalah penyelenggaraan Job Fair Politeknik Pariwisata Makassar pada 27–28 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan 307 posisi lowongan kerja dari berbagai mitra industri. Bursa kerja menjadi ruang penting bagi lulusan untuk mengenali jenis pekerjaan yang relevan dengan kompetensi mereka, memperluas jejaring, serta membuka jalur awal menuju karier profesional.
Penyerapan lulusan Poltekpar Makassar memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan. Sebanyak 122 lulusan telah bekerja secara aktif di berbagai sektor industri. Selain itu, 374 lulusan tercatat aktif mengikuti bursa kerja dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melamar posisi yang sesuai.
Jalur karier para lulusan tidak terbatas pada pekerjaan formal. Sebanyak 19 lulusan telah membangun unit usaha sendiri sebagai wirausahawan mandiri. Pilihan ini memperlihatkan bahwa pendidikan pariwisata juga dapat menjadi dasar untuk menciptakan peluang ekonomi baru. Sementara itu, 25 lulusan memilih melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Dengan bekal kompetensi, kemampuan beradaptasi, dan pemahaman terhadap keberlanjutan, lulusan Poltekpar Makassar diharapkan mampu ikut menentukan arah pariwisata Indonesia. Tantangannya bukan hanya menghadirkan layanan yang baik bagi wisatawan, tetapi juga memastikan kemajuan sektor tersebut memberi manfaat luas tanpa mengorbankan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Wamenpar harap lulusan Poltekpar jadi pelopor?Wamenpar harap lulusan Poltekpar jadi pelopor is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Wamenpar harap lulusan Poltekpar jadi pelopor matter?Wamenpar harap lulusan Poltekpar jadi pelopor matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.