Yang Dibahas: Catat, Ini Alasan Indonesia Masuk BoP
Catat, Ini Alasan Indonesia Masuk BoP
Presiden Prabowo Subianto menjelaskan alasan Indonesia serta negara-negara lain yang memiliki mayoritas penduduk Muslim bergabung dengan Dewan Perdamaian (BoP). Ia menyampaikan hal ini dalam diskusi dengan para pakar dan jurnalis terkemuka di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, yang tayang dalam video pada Kamis (19/3). Keputusan Indonesia untuk menjadi anggota BoP, menurut Prabowo, diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek, dengan fokus pada dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
Permintaan Trump dalam Pertemuan Khusus
Beberapa jam setelah pidatonya di Sidang Umum PBB, Prabowo bersama tujuh pemimpin negara Muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir diundang Presiden AS Donald Trump untuk pertemuan. Dalam kesempatan itu, Trump menyampaikan usulan 21 poin, yang bertujuan menciptakan perdamaian berkelanjutan di wilayah Gaza. Prabowo menyebut bahwa utusan khusus AS, Steve Witkoff, membacakan rincian usulan tersebut secara bertahap.
“Kita lihat ini (poin) 19 dan 20 ada peluang (untuk kemerdekaan Palestina) walaupun kita tahu ini sedikit,” ujar Prabowo.
Poin ke-19 dan ke-20 mengusulkan bahwa Palestina diberi jalan untuk menjadi bangsa mandiri dan menentukan masa depannya. Selain itu, disebutkan bahwa AS akan memfasilitasi dialog antara Israel dan Palestina guna mencapai keseimbangan perdamaian. Prabowo menegaskan bahwa isinya selaras dengan pandangan Indonesia, yakni peluang perdamaian jangka panjang dapat terwujud melalui solusi dua negara.
Dewan Perdamaian dan Resolusi PBB
Selanjutnya, negara-negara tersebut menyepakati pembentukan BoP, yang kemudian diadopsi dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Prabowo menambahkan bahwa keputusan untuk bergabung diambil setelah diskusi panjang, dengan harapan memberikan pengaruh lebih besar terhadap kebijakan yang pro Palestina. “Kalau kita di dalam, mungkin kita bisa pengaruhi dan membantu rakyat Palestina,” tambahnya.
“Kalau di luar (BoP), kita tidak bisa (memperjuangkan Palestina). Jadi, akhirnya kita putuskan, kita masuk,” imbuh Prabowo.
Presiden juga menyatakan bahwa Indonesia siap keluar dari BoP jika keputusan dewan tidak sejalan dengan kepentingan nasional atau Palestina. “Selama kita di dalam BoP bisa bantu perjuangan rakyat Palestina, kita akan berusaha. Begitu kita ambil kesimpulan tidak ada harapan dan kontraproduktif, kita menilai kita habis waktu, habis energi, dan tidak menguntungkan kepentingan nasional bangsa Indonesia, kita keluar,” terangnya.
Prabowo berharap kontribusi Indonesia dan anggota Group of Eight dapat mempercepat proses perdamaian di Palestina. “Saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina,” tutup Prabowo.
