Ayo Bantu Donasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Roy Julian masih simpan satu karya untuk pertunjukan tahun depan

Published 13/10/2026 · Updated 13/10/2026 · By Joko Ananda - ayobantudonasi.com

Foto : Joko Ananda - ayobantudonasi.com

Roy Julian Menyiapkan Karya Lain Setelah “Kebun Hantu”

Ayobantudonasi.com – Setelah menampilkan “Kebun Hantu” di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Senin dan Selasa (13/10) malam, sutradara sekaligus pemain teater Roy Julian mengungkapkan masih ada satu naskah yang belum dibawa ke panggung. Karya tersebut direncanakan untuk kesempatan pementasan pada tahun depan.

Pertunjukan “Kebun Hantu” dipilih Kantor Teater sebagai sajian untuk Kanal Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Proses menuju pementasan itu berlangsung selama 10 bulan dan semula melibatkan persiapan untuk dua naskah pendek. Salah satunya berjudul “Kaktus dan Kuping Gajah”, tetapi perjalanan produksi berubah ketika sebagian pemain tidak dapat meneruskan latihan.

Perubahan Komposisi Pemain

Roy menjelaskan bahwa naskah “Kaktus dan Kuping Gajah” awalnya disiapkan bersama 11 pemain. Namun, lima pemain mengundurkan diri dalam masa latihan. Situasi itu membuatnya menulis naskah baru, yang kemudian berkembang menjadi “Kebun Hantu”.

“Sepuluh bulan dua naskah pendek, satu lagi (judulnya) Kaktus dan Kuping Gajah, cuma waktu itu sebelas orang pemainnya, ah, lima orang mundur. Jadi gue bikin naskah baru lagi,” kata Roy Julian setelah pementasan perdana “Kebun Hantu”, Senin.

Pengunduran diri tersebut bukan persoalan yang mudah ditutup dengan mengganti pemain. Dalam gagasan pertunjukan Kanal Teater DKJ, pengalaman tubuh para pelakon menjadi landasan penting. Tema “arsip tubuh” bertumpu pada ingatan personal yang melekat pada orang yang mengalaminya, sehingga peran pemain yang telah keluar tidak bisa sepenuhnya dialihkan kepada orang lain.

Bagi Roy, tubuh bukan hanya perangkat untuk menghidupkan tokoh di atas panggung. Tubuh membawa riwayat, kebiasaan, respons, dan memori yang membentuk cara seorang pelakon hadir dalam karya. Ketika pelakon berubah, jejak pengalaman yang ingin dibawa ke panggung pun turut berubah.

“Kalau arsip tubuh dia kan mesti dia yang mainin, kalau orang yang lain yang mainin kan lain rasanya. Nah, jadi waktu yang pertama itu lima pemain mengundurkan diri, enggak kuat latihan,” ujar pendiri Kantor Teater itu.

“Kaktus dan Kuping Gajah” Tidak Dibatalkan

Meski belum dipentaskan dalam rangkaian kali ini, “Kaktus dan Kuping Gajah” tidak ditinggalkan. Roy menyimpan naskah tersebut untuk dipersiapkan kembali dengan lebih matang. Rencana pementasan tahun depan membuka ruang bagi karya itu untuk menemukan bentuk produksi yang sesuai dengan kebutuhan artistiknya.

Keputusan menunda sebuah karya memperlihatkan bahwa proses teater tidak hanya bergantung pada teks. Kehadiran aktor, kecocokan komposisi pemain, serta kesiapan menjalani latihan menjadi bagian dari struktur pertunjukan. Dalam pendekatan yang menjadikan pengalaman pelakon sebagai materi utama, perubahan susunan pemain dapat memengaruhi dasar penciptaan karya itu sendiri.

Dengan hanya memusatkan perhatian pada “Kebun Hantu”, Kantor Teater dapat mengembangkan satu pertunjukan yang berpijak pada kondisi nyata para pelakonnya. Pilihan tersebut juga menjaga gagasan “arsip tubuh” tetap utuh, karena pengalaman yang dibawa ke panggung berasal dari mereka yang benar-benar menjalani proses penciptaan.

Tubuh, Bahasa, dan Pengalaman Digital

Dalam “Kebun Hantu”, pengalaman fisik aktor ditempatkan sebagai sumber pengetahuan. Roy tidak memakainya semata untuk membentuk karakter atau menggerakkan alur cerita. Pengalaman tubuh diberi peluang untuk menghadirkan bentuk dan cara kerjanya sendiri, termasuk ketika tidak langsung mengarah pada satu penafsiran yang pasti.

Pendekatan itu membuat pertunjukan tidak harus selalu menyusun kritik secara lugas. Pengalaman tidak wajib diterangkan melalui urutan sebab dan akibat, juga tidak harus menghasilkan makna tunggal yang disetujui semua orang. Yang penting adalah membiarkan fragmen pengalaman hadir, saling berdekatan, dan menyisakan ruang bagi penonton untuk merasakan keterhubungannya.

Salah satu pengalaman yang dibahas dalam naskah adalah kebiasaan berselancar di media sosial. Dalam ruang digital, seseorang dapat melihat tayangan bencana alam, lalu berpindah dalam sekejap ke unggahan tentang pasangan yang sedang berpacaran, sebelum kembali dihadapkan pada kabar kriminal seperti begal. Peralihan yang cepat itu dapat menghadirkan banyak emosi sekaligus tanpa hubungan yang terasa runtut.

Kesaksian pengguna media sosial menjadi bagian dari bahan perenungan “Kebun Hantu”. Berbagai gambar, peristiwa, dan perasaan datang bertumpuk di benak, sementara waktu untuk memahami semuanya sering kali sangat terbatas. Kritik terhadap pengalaman digital, dalam kerangka ini, muncul sebagai akibat dari kesaksian tersebut, bukan sebagai pesan yang dipaksakan dari awal.

“Di antara tubuh yang mengalami, bahasa yang menjelaskan, dan teknologi yang merekam, selalu ada sesuatu yang luput, tidak kelihatan, seperti hantu. Jadi hantu dalam Kebun Hantu bukanlah sosok yang datang dari dunia lain, tapi sesuatu yang hadir, mungkin sudah berlalu, tetapi belum selesai meninggalkan tubuh,” kata Roy.

Hantu sebagai Sisa Pengalaman

Istilah hantu dalam judul pertunjukan tidak merujuk pada sosok dari dunia lain. Roy memakainya untuk menggambarkan pengalaman yang mungkin telah berlalu, tetapi belum benar-benar meninggalkan tubuh. Ada kesan yang tersisa setelah seseorang menyaksikan sesuatu, termasuk tayangan yang melintas cepat di layar media sosial.

Gagasan itu dekat dengan pengalaman sehari-hari penonton modern. Sebuah video, foto, atau berita dapat mengundang reaksi spontan, tetapi pemahamannya tidak selalu selesai pada saat yang sama. Setelah layar berganti, rasa cemas, bingung, sedih, atau tidak nyaman dapat tetap tinggal tanpa mudah dijelaskan.

Roy berharap “Kebun Hantu” mampu mendekati pengalaman yang paling menghantui bagi orang-orang yang baru melihat sesuatu melalui media sosial namun belum sepenuhnya mampu memahaminya. Sementara itu, “Kaktus dan Kuping Gajah” tetap menunggu waktu yang tepat untuk kembali diwujudkan di panggung pada tahun depan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Roy Julian masih simpan satu karya?

Roy Julian masih simpan satu karya is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Roy Julian masih simpan satu karya matter?

Roy Julian masih simpan satu karya matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.