Samuel Wattimena: Desa-desa wisata harus saling melengkapi
Samuel Wattimena: Kolaborasi Antar Desa Wisata Kunci Keberhasilan Pariwisata
Visi Komplementer dalam Pengembangan Destinasi
ayobantudonasi.com – Samuel Wattimena – Semarang menjadi saksi bisu atas pernyataan penting dari Samuel Wattimena, seorang anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Dalam pernyataannya, politikus tersebut menekankan bahwa setiap desa wisata yang tersebar di nusantara seharusnya saling melengkapi satu sama lain. Pendekatan ini didasarkan pada pemahaman bahwa setiap komunitas memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik, yang apabila dikelola dengan baik, dapat menciptakan sinergi positif.
Menurut Wattimena, tidak diperlukan bagi sebuah desa wisata untuk memiliki sepuluh keunggulan atau lebih. Yang lebih penting adalah fokus pada dua hingga tiga hal yang benar-benar menonjol, kemudian mengemasnya secara tepat dan menarik bagi para wisatawan. Hal ini sejalan dengan semangat kegiatan yang diselenggarakan di Semarang pada hari Minggu, yaitu “Diseminasi Strategi Promosi Pariwisata Nusantara di Era Digital: Makin Dikenal, Makin Dikunjungi”. Acara tersebut merupakan inisiatif dari Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan daya tarik destinasi lokal.
Wattimena menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan kelebihan yang dimiliki, sebuah desa wisata dapat mengisi kekosongan yang ada di desa wisata lainnya. Kondisi ini akan menciptakan suasana saling gotong royong dalam membangun sektor pariwisata secara keseluruhan. Ia memberikan contoh konkret mengenai bagaimana mekanisme ini dapat bekerja dalam praktiknya sehari-hari.
“Jadi, kalau desa saya ini punya kelebihan di nomor 1, 4, dan 7, desa lain punya kelebihan di nomor 2, 3, dan 5. Nah, kita saling isi yuk,” ujarnya dengan penuh semangat.
Sinergi dan Timwork dalam Pariwisata
Pendekatan komplementer ini memiliki implikasi yang sangat luas bagi pengalaman wisatawan. Ketika seorang pengunjung berada di Desa Wisata A, mereka tidak hanya menikmati atraksi yang tersedia di lokasi tersebut, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengunjungi desa-desa tetangga yang menawarkan kegiatan atau daya tarik berbeda. Setiap komunitas memiliki kekuatan dan fungsinya masing-masing dalam ekosistem pariwisata yang lebih besar.
Wattimena menambahkan bahwa apabila fungsi masing-masing desa wisata berjalan dengan optimal, maka kerja sama tim ini diharapkan dapat menghasilkan pencapaian yang maksimal. Konsep ini mirip dengan puzzle, di mana setiap potongan memiliki bentuk dan peran unik yang melengkapi potongan lainnya. Tanpa adanya saling ketergantungan ini, potensi pariwisata daerah akan terasa kurang optimal.
Lebih lanjut, ia menyoroti sebuah permasalahan yang sering kali terabaikan dalam pengembangan desa wisata selama ini. Banyak sekali inisiatif pengembangan yang berasal dari dorongan eksternal, sementara kesiapan dari dalam komunitas itu sendiri belum sepenuhnya terwujud. Kondisi ini menimbulkan ketidakseimbangan yang dapat berdampak negatif pada keberlanjutan program.
“Dari dalam dulu siap apa enggak? Karena seringkali dari luar kita sibuk promosi promosi, dari dalam tidak siap, akhirnya ‘backfire’ (menjadi bumerang),” paparnya.
Kesiapan Internal sebagai Fondasi Utama
Fenomena “backfire” atau bumerang ini menjadi perhatian serius bagi para pemangku kepentingan. Ketika promosi gencar dilakukan dari luar namun infrastruktur dan pelayanan di dalam belum memadai, hasilnya justru dapat merugikan. Wisatawan yang datang dengan ekspektasi tinggi mungkin akan kecewa, dan citra destinasi pun bisa menurun.
Oleh karena itu, pendekatan holistik yang menggabungkan promosi eksternal dengan penguatan internal menjadi sangat krusial. Setiap desa wisata perlu mengevaluasi kesiapan dirinya sebelum menarik perhatian pasar yang lebih luas. Kolaborasi antar desa bukan hanya soal berbagi daya tarik, tetapi juga saling mendukung dalam membangun kapasitas dan kualitas layanan secara bersama-sama.
Dengan demikian, visi Samuel Wattimena tentang desa-desa wisata yang saling melengkapi bukan sekadar konsep teoritis, melainkan strategi praktis yang dapat diimplementasikan untuk memajukan pariwisata Indonesia di era digital ini.
