Program Terbaru: EcoNusa latih warga Semangga Merauke tingkatkan kualitas kopra
Jakarta – Yayasan EcoNusa menggelar pelatihan peningkatan kualitas kopra bagi warga Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, guna mendorong pengolahan kelapa agar memiliki nilai jual lebih tinggi dan mampu menembus pasar yang lebih luas. Pelatihan yang berlangsung di Kampung Urumb pada 18–24 Maret 2026 itu diikuti masyarakat dari Kampung Urumb, Matara, Sidomulyo, dan Waninggap Nanggo. Salah satu warga yang mengikuti pelatihan tersebut yakni Robert M.B., mengatakan selama ini pengolahan kopra masih dilakukan secara tradisional dengan mengandalkan sinar matahari sehingga kualitas hasil produksi belum optimal.
“Kadang baru dua hari, kopra su (sudah) berjamur,” katanya dalam keterangan resmi Yayasan EcoNusa di Jakarta pada Rabu. Sementara itu, Ketua UMKM Sinai, Sumarni, berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan keterampilan teknis warga agar kopra yang dihasilkan lebih baik dan memiliki harga jual yang lebih tinggi. “Selama ini tong (kita) su bikin kopra, tapi memang masih perlu belajar lagi supaya hasilnya lebih bagus dan bisa laku dengan harga baik,” ujarnya.
Program Associate EcoNusa, Moses Ramsis Boi, menekankan pentingnya kerja sama masyarakat dalam menerapkan metode produksi yang benar untuk meningkatkan kualitas kopra. “Kalau tong kerja sama-sama dan ikut cara yang benar, kopra dari kampung bisa naik kualitas, harga juga pasti ikut naik,” katanya. Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali pemahaman mengenai standar kualitas kopra dari aspek fisik, kimia, dan kebersihan.
Kopra yang baik harus berwarna putih bersih atau cokelat muda, bebas kotoran, serta memiliki kadar air di bawah enam persen. Fasilitator EcoNusa, Jamina Rumbewas, menjelaskan kualitas kopra sangat menentukan nilai jual di pasar, sekaligus mengingatkan bahaya jamur yang dapat menurunkan mutu bahkan menghasilkan zat berbahaya seperti aflatoksin. Selain teori, peserta juga melakukan praktik langsung mulai dari pemilihan buah kelapa, pembelahan, pencucian, hingga proses pengasapan.
Dalam proses pengasapan, api tidak boleh menyala besar, namun cukup menghasilkan asap untuk menurunkan kadar air secara optimal. Warga juga diajarkan membuat para-para atau tempat pengeringan menggunakan bahan lokal seperti bambu dan kayu agar teknik tersebut mudah diterapkan secara mandiri. Pada sesi evaluasi, sebagian besar kopra yang dihasilkan menunjukkan peningkatan kualitas dengan tingkat kekeringan antara dua hingga tujuh persen.
Distrik Semangga merupakan salah satu wilayah di Merauke yang menggantungkan hidup dari hasil alam. Selain bertani dan melaut, sebagian masyarakat di kampung seperti Matara dan Urumb mengandalkan kelapa sebagai sumber penghasilan, dengan sekitar 6.000 pohon kelapa tumbuh di sekitar Kampung Matara. Namun pemanfaatan kelapa masih didominasi penjualan dalam bentuk buah utuh, sementara pengolahan menjadi kopra masih terbatas dan belum memenuhi standar pasar.
EcoNusa menyebut peningkatan kualitas produksi menjadi langkah penting untuk memperluas akses pasar. Sepanjang 2025, komoditas berbasis kelapa dari wilayah dampingan EcoNusa telah menembus pasar nasional hingga internasional, dengan capaian kopra 69 ton dari Kaimana, Papua Barat, 44 ton dari Sarmi, Papua, serta 5,1 ton dari Seram Timur, Maluku. Dengan peningkatan kualitas kopra di Semangga, EcoNusa berharap produk kopra dari wilayah tersebut dapat mengikuti jejak daerah lain dalam memperkuat ekonomi masyarakat berbasis sumber daya lokal secara berkelanjutan.
