Pertamina bangun fasilitas pengembangan bioetanol di Glenmore

Pertamina Bangun Fasilitas Pengembangan Bioetanol di Glenmore untuk Ketahanan Energi

Proyek Strategis di Banyuwangi

Ayobantudonasi.com – Pertamina bangun fasilitas pengembangan bioetanol di Glenmore — Jakarta. PT Pertamina (Persero) saat ini sedang melaksanakan pembangunan infrastruktur energi yang berlokasi di kawasan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Fasilitas baru ini dirancang dengan kapasitas produksi mencapai 30 ribu kiloliter per tahun. Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan minyak nasional dalam mengejar target pencampuran bahan bakar E10 sesuai dengan peta jalan energi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Oki Muraza, Wakil Direktur Utama Pertamina, menyampaikan bahwa inisiatif ini memiliki tujuan jangka panjang yang sangat signifikan. Dalam keterangannya yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta pada hari Rabu, Oki menegaskan bahwa pengembangan fasilitas ini bukan sekadar proyek konstruksi biasa, melainkan investasi strategis untuk masa depan energi Indonesia.

Langkah ini dilakukan guna mengejar target pencampuran E10 sesuai peta jalan (roadmap) Pemerintah.

Strategi Pengurangan Impor dan Ketahanan Energi

Pengembangan program E10 merupakan salah satu strategi utama pemerintah dalam upaya menekan volume impor bensin ke dalam negeri. Dengan meningkatkan kandungan etanol dalam bahan bakar, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya energi dari luar negeri. Hal ini secara langsung berkontribusi pada terwujudnya ketahanan energi nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Selain fokus pada realisasi program E10, Pertamina saat ini juga sedang menerapkan program biodiesel B50 secara masif. Penerapan program B50 telah mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara dengan penggunaan biodiesel terbesar di dunia. Jaringan distribusi untuk program ini pun telah mencapai tingkat yang sangat masif, menjangkau 86 dari total 121 Terminal BBM yang dimiliki Pertamina di seluruh wilayah Indonesia.

Tiga Potensi Utama Bioenergi

Oki Muraza memaparkan tiga potensi utama bioenergi yang dapat menjaga ketahanan energi nasional Indonesia. Potensi pertama adalah ketersediaan biomassa domestik yang sangat melimpah di seluruh nusantara. Potensi kedua terletak pada peran krusial bioenergi dalam mendukung ketahanan energi sekaligus mempercepat proses dekarbonisasi di sektor transportasi.

Potensi ketiga adalah kemampuan bioenergi untuk menggerakkan roda ekonomi sirkular yang berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Konsep ekonomi sirkular ini memungkinkan pemanfaatan limbah dan bahan baku lokal menjadi produk bernilai tinggi, menciptakan rantai nilai yang berkelanjutan.

Pemanfaatan Tandan Kosong Sawit untuk Bioetanol

Di samping pemanfaatan CPO (Crude Palm Oil) secara konvensional, Pertamina mulai melirik potensi besar yang belum tergarap secara maksimal, yaitu Tandan Kosong Sawit atau TKS. Dengan potensi volume mencapai sekitar 25 juta ton per tahun, TKS dinilai memiliki nilai tambah strategis untuk diolah menjadi bioetanol berkualitas tinggi.

Tantangan kita sekarang ada di hilirisasi. Bagaimana TKS ini bisa kita pecah menjadi glukosa lalu menjadi bioetanol. Kalau inisiatif ini berhasil, maka tidak ada lagi limbah yang sia-sia.

Oki menjelaskan bahwa tantangan utama saat ini terletak pada proses hilirisasi. Proses penguraian TKS menjadi glukosa dan kemudian dikonversi menjadi bioetanol memerlukan teknologi dan inovasi yang tepat. Jika inisiatif ini berhasil diimplementasikan, maka limbah kelapa sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan akan menjadi sumber energi yang berharga.

Kolaborasi Ekosistem Biofuel

Pertamina menyadari bahwa transisi energi tidak dapat dilakukan secara sendiri. Skema yang harus dibangun adalah memperkuat seluruh ekosistem biofuel, mulai dari penyediaan bahan baku, pengembangan teknologi di kilang, hingga distribusi ke masyarakat. Kolaborasi multi-pihak menjadi kunci keberhasilan program ini.

Ini semua membutuhkan kerja sama. Tidak bisa hanya mengandalkan industri, namun harus ada sinergi antara pemerintah, perbankan, akademisi, dan masyarakat. Tujuannya satu, mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi beban devisa negara.

Upaya ini memerlukan sinergi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah berperan dalam regulasi dan insentif, perbankan menyediakan pendanaan, akademisi mengembangkan teknologi, dan masyarakat menjadi bagian dari rantai pasok. Semua pihak memiliki peran penting dalam mewujudkan kemandirian energi nasional dan mengurangi beban devisa negara yang selama ini digunakan untuk impor bahan bakar fosil.