Pemprov Jateng pastikan tak ada penimbunan plastik

Pemerintah Jateng Pastikan Tidak Ada Penimbunan Plastik di Pasar

Semarang, Jumat – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa hingga saat ini belum terjadi penimbunan plastik di wilayahnya. Lonjakan harga plastik yang terjadi belakangan ini telah memberi dampak nyata pada kehidupan masyarakat. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng, July Emmylia, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik disebabkan oleh gangguan pasokan global akibat ketegangan geopolitik.

Mengapa Harga Plastik Naik?

Gangguan pasokan plastik terjadi karena hambatan di tingkat rantai distribusi. “Kenaikan harga plastik terjadi karena gangguan di hilir, yakni terganggunya pasokan secara global akibat ketegangan politik di Selat Hormuz,” ujarnya. Penyebab utamanya adalah kenaikan harga naphta, bahan baku plastik, yang mencapai titik tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

“Harga naphta naik drastis dari sekitar 600 dolar per ton menjadi 900 dolar per ton, yang otomatis memicu lonjakan harga plastik,” kata Emmylia.

Sektor Pangan Terdampak Terbesar

Menurut Emmylia, dampak kenaikan harga plastik paling terasa di sektor industri makanan dan minuman. “Tekanan terberat dialami oleh IKM dan UKM pangan karena plastik digunakan sebagai kemasan utama,” terangnya. Sebaliknya, sektor seperti furnitur dan tekstil hanya memanfaatkan plastik sebagai pengemasan sekunder, sehingga dampaknya relatif lebih kecil.

Langkah Jangka Pendek dan Menengah

Untuk mencegah masalah ini memburuk, Pemprov Jateng telah merencanakan tiga strategi. Dalam jangka pendek, pihaknya akan bersama kepolisian melakukan pengawasan langsung di lapangan. “Kami akan turun ke lapangan bersama kepolisian untuk mencegah penimbunan plastik dan memperkuat gerakan pengurangan plastik sekali pakai,” tambahnya.

Dalam waktu menengah, upaya pengurangan plastik akan ditingkatkan melalui kampanye penggunaan tas belanja daur ulang dan tumbler. Untuk jangka panjang, Pemprov Jateng mendorong penggunaan bioplastik berbahan baku pati singkong sebagai alternatif. Meski harganya lebih tinggi dibanding plastik petrokimia, bioplastik dianggap perlu dicoba secara bertahap untuk mengurangi ketergantungan.

Substitusi Plastik Dapat Dimulai 20-30 Persen

Emmylia mengimbau masyarakat dan UMKM untuk mulai beralih ke bahan yang ramah lingkungan. “Kesulitan akibat kenaikan plastik justru bisa menjadi kesempatan untuk bertransformasi,” katanya. Substitusi awal dianjurkan mencapai 20 hingga 30 persen, sebelum perlahan menggantinya secara menyeluruh.