InJourney perkuat TJSL lewat penanganan stunting dan ARFF
InJourney Perluas Dampak Sosial Bandara Soekarno-Hatta melalui Program Gizi dan Pelatihan ARFF
Ayobantudonasi.com – PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney memperkuat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Dua perhatian utama program ini adalah perbaikan gizi anak untuk membantu penanganan stunting serta peningkatan keterampilan masyarakat melalui pelatihan Airport Rescue Fire Fighting (ARFF).
Langkah tersebut menempatkan bandara tidak semata-mata sebagai pusat transportasi dan aktivitas ekonomi. Kehadiran Bandara Soekarno-Hatta juga diarahkan untuk memberi manfaat yang lebih nyata bagi warga yang tinggal di kawasan sekitarnya, terutama dalam aspek kesehatan keluarga dan pengembangan kemampuan kerja.
“Kami ingin keberadaan bandara dapat memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat, baik melalui dukungan terhadap kesehatan maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia,” kata General Manager Bandara Internasional Soekarno-Hatta Heru Karyadi.
Program makanan tambahan untuk 140 balita
Dalam bidang kesehatan, Bandara Soekarno-Hatta menjalankan program InJourney Airports Pangan Berdaya-Penurunan Stunting dan Pencegahan Gizi Buruk Tahun 2026. Program tersebut menyasar anak-anak balita dengan kondisi gizi kurang dan sangat kurang atau underweight.
Sebanyak 140 balita di Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, menerima bantuan makanan tambahan. Total bantuan yang disiapkan mencapai 4.000 porsi makanan tambahan atau PMT. Penyaluran dilakukan secara bertahap melalui Posyandu yang berada di delapan desa selama 28 hari.
Posyandu menjadi titik penting dalam pelaksanaan kegiatan karena dekat dengan keluarga penerima manfaat. Pola distribusi bertahap juga membuat pendampingan kesehatan dapat berjalan seiring dengan penyaluran makanan, sehingga perhatian tidak berhenti pada pemberian bantuan pangan semata.
Program ini turut mencakup pembagian 140 paket hygiene kit. Selain itu, keluarga mendapatkan edukasi mengenai sanitasi, pemenuhan gizi seimbang, serta kesehatan keluarga. Pelaksanaannya melibatkan pemerintah daerah dan tenaga kesehatan setempat, dengan tujuan agar dukungan yang diterima warga dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penanganan gizi pada masa balita memiliki arti penting karena periode tersebut berkaitan dengan pertumbuhan anak. Penyediaan makanan tambahan, kebiasaan hidup bersih, dan pemahaman keluarga mengenai kebutuhan nutrisi menjadi unsur yang saling melengkapi dalam upaya mencegah masalah gizi memburuk.
Membuka akses keterampilan keselamatan kebandarudaraan
Di sisi lain, InJourney juga mengarahkan TJSL pada penguatan sumber daya manusia melalui program InJourney Airports Cerdaskan Bangsa. Program ini diwujudkan dalam Pelatihan dan Sertifikasi Keahlian Kebandarudaraan Basic Airport Rescue Fire Fighting atau ARFF.
ARFF merupakan bidang yang berkaitan dengan kesiapsiagaan penyelamatan dan pemadaman kebakaran di lingkungan penerbangan. Kompetensi ini berhubungan dengan kebutuhan keselamatan dalam menghadapi situasi darurat di kawasan bandara.
Pelatihan intensif tersebut diikuti oleh 20 peserta terpilih dari masyarakat sekitar. Selama 30 hari, mereka menjalani pembelajaran di Politeknik Penerbangan Indonesia Curug atau PPIC. Pembekalan dirancang untuk memberikan pemahaman dan kemampuan khusus yang relevan dengan keselamatan serta penanganan keadaan darurat penerbangan.
“Melalui program Cerdaskan Bangsa, kami ingin memberikan bekal yang dapat membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk berkembang dan memiliki daya saing di industri penerbangan,” paparnya.
Pelatihan seperti ARFF memberi nilai lebih karena peserta tidak hanya memperoleh pengalaman belajar, tetapi juga sertifikasi keahlian kebandarudaraan. Bagi masyarakat usia produktif, penguatan kompetensi dapat menjadi modal untuk mengenal standar kerja yang berlaku di sektor penerbangan dan bidang keselamatan terkait.
Kolaborasi untuk manfaat yang berkelanjutan
Heru Karyadi menekankan bahwa pelaksanaan seluruh program TJSL tersebut mengandalkan kerja sama lintas sektor. Keterlibatan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, Posyandu, serta lembaga pendidikan menjadi bagian dari upaya agar bantuan dan pelatihan menjangkau penerima yang tepat.
Pendekatan kolaboratif diperlukan karena persoalan kesehatan anak dan peningkatan keterampilan masyarakat tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja. Dukungan pangan perlu diiringi edukasi keluarga, sedangkan pelatihan kerja membutuhkan akses pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.
Program di Sepatan Timur menunjukkan dua jalur dampak sosial yang berjalan bersamaan. Anak-anak menerima dukungan untuk tumbuh dengan kondisi kesehatan yang lebih baik, sementara kelompok usia produktif memperoleh kesempatan meningkatkan kapasitas melalui pendidikan dan sertifikasi.
“Harapan kami, masyarakat di sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat tumbuh bersama dengan keberadaan bandara. Anak-anak dapat tumbuh lebih sehat, sementara masyarakat usia produktif memiliki kompetensi dan peluang yang semakin baik,” kata Heru.
Dengan fokus pada kesehatan dan pengembangan keterampilan, TJSL Bandara Soekarno-Hatta diarahkan untuk mempererat hubungan antara kawasan bandara dan lingkungan sekitarnya. Keberadaan infrastruktur penerbangan diharapkan dapat berjalan sejalan dengan peningkatan kesejahteraan warga, baik melalui perhatian terhadap gizi balita maupun peluang peningkatan daya saing masyarakat.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is InJourney perkuat TJSL lewat penanganan stunting?InJourney perkuat TJSL lewat penanganan stunting is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does InJourney perkuat TJSL lewat penanganan stunting matter?InJourney perkuat TJSL lewat penanganan stunting matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.