Lima Daerah di Jawa Timur Masuk Proyek Percontohan Ekonomi Sirkular
Ayobantudonasi.com – Lima pemerintah daerah di Jawa Timur menyatukan komitmen dengan Indonesia dan Jerman untuk memperkuat pengelolaan sampah melalui pendekatan ekonomi sirkular. Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Probolinggo, dan Kabupaten Sidoarjo akan menjadi wilayah percontohan dalam Proyek InCircular.
Komitmen tersebut melibatkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta Pemerintah Federal Jerman yang menjalankan kerja sama melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit atau GIZ GmbH. Program ini diarahkan untuk membawa agenda ekonomi sirkular nasional menjadi langkah yang dapat diterapkan di tingkat kota dan kabupaten.
“Lima kota/kabupaten yang menyampaikan komitmennya adalah Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Probolinggo, dan Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menerjemahkan visi nasional ekonomi sirkular ke dalam aksi lokal, di bawah Proyek InCircular,” kata Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo Teguh Sambodo.
Dari Pengelolaan Sampah ke Nilai Baru
Ekonomi sirkular menempatkan sampah bukan semata-mata sebagai sisa yang harus dibuang. Pendekatan ini menekankan pemakaian sumber daya secara lebih hemat, penggunaan kembali material yang masih bernilai, serta penguatan proses daur ulang. Dengan pola tersebut, pengurangan sampah diharapkan dimulai dari sumbernya, termasuk dari cara barang dirancang, digunakan, dipilah, dan diolah setelah tidak dipakai.
Dalam pelaksanaannya, lima daerah percontohan akan memiliki ruang untuk memetakan persoalan lokal, mencoba metode yang sesuai kebutuhan, menjalin kemitraan, dan mengumpulkan pembelajaran bagi penerapan ekonomi sirkular di wilayah lain. Hasilnya diharapkan dapat membantu memperkuat pelaksanaan Rencana Aksi dan Peta Jalan Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045.
Proyek InCircular sendiri merupakan kerja sama teknis Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Federal Jerman. GIZ Indonesia & ASEAN menjalankan proyek itu atas mandat Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau BMZ.
Keterlibatan pemerintah daerah dipandang penting karena kebijakan nasional perlu diterjemahkan menjadi layanan, sistem, dan inovasi yang relevan dengan kondisi setempat. Pengelolaan sampah, misalnya, berkaitan langsung dengan kebiasaan warga, ketersediaan sarana pemilahan, peran pelaku usaha, hingga kemampuan pemerintah daerah membangun rantai pengolahan material.
“Membangun ekonomi sirkular membutuhkan visi dan aksi bersama. Pemerintah daerah berperan penting dalam menerjemahkan arah pembangunan nasional ke dalam kebijakan, sistem, layanan, dan inovasi yang sesuai dengan konteks daerah. Ekonomi sirkular tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah, tetapi juga bagaimana sumber daya digunakan secara lebih efisien, produk dan material dipertahankan nilainya selama mungkin, serta peluang ekonomi baru dapat diciptakan melalui kolaborasi lintas sektor,” ujar Teguh.
Jawa Timur Dinilai Memiliki Peluang Strategis
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai penetapan Jawa Timur sebagai wilayah kerja InCircular merupakan kepercayaan sekaligus kesempatan strategis. Program ini dapat mempercepat perubahan menuju pola pembangunan yang lebih efisien menggunakan sumber daya, menghasilkan limbah lebih rendah, dan berorientasi pada keberlanjutan.
“Melalui ekonomi sirkular, kita mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber, serta memperkuat pemanfaatan kembali dan daur ulang,” kata Emil di Surabaya, Selasa (15/9).
Tantangan yang dihadapi Jawa Timur cukup besar. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional atau SIPSN 2024 mencatat timbulan sampah di provinsi itu sekitar 4,34 juta ton setiap tahun. Angka tersebut menunjukkan skala kebutuhan pengelolaan dari hulu hingga hilir, sekaligus membuka peluang pengembangan sistem pemulihan material yang lebih terorganisasi.
Sampah plastik menjadi salah satu perhatian utama dalam kerja sama ini. Data SIPSN yang tercantum dalam Laporan Kinerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat plastik menyumbang sekitar 19 persen komposisi sampah nasional pada 2023. Penanganan plastik membutuhkan langkah yang tidak berhenti pada pengangkutan dan pembuangan, melainkan juga pengurangan penggunaan, pemilahan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang.
Kolaborasi Lintas Sektor Didorong
Penerapan ekonomi sirkular tidak hanya bertumpu pada pemerintah. InCircular dirancang melalui kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, mitra pembangunan, dunia usaha, akademisi, dan organisasi masyarakat. Setiap pihak memiliki peran yang saling berkaitan, mulai dari penyusunan kebijakan, inovasi pengolahan, penguatan pasar material daur ulang, hingga peningkatan partisipasi masyarakat.
Pemerintah Jerman melihat persoalan sampah sebagai isu yang memengaruhi kehidupan sehari-hari dan membutuhkan jawaban yang menyeluruh. Solusi jangka panjang dinilai memerlukan kemitraan yang kuat agar perubahan tidak berhenti pada proyek sesaat.
Dukungan Jerman kepada Indonesia melalui GIZ Indonesia & ASEAN telah berlangsung selama 50 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah menjadi salah satu bidang prioritas kerja sama tersebut.
“Sepanjang kerja sama tersebut, kami melihat komitmen tinggi dari pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi, maupun di kota/kabupaten. Proyek InCircular dikembangkan dari kebutuhan untuk memperkuat implementasi Peta Jalan Ekonomi Sirkular Indonesia. Karena itu, kami menyambut baik lima kota/kabupaten yang hari ini menyatukan langkah mereka untuk terlibat di Proyek InCircular sebagai wilayah percontohan,” ucap Director Urban Development Cluster GIZ Indonesia & ASEAN, Thomas Foerch.
Keberhasilan lima daerah ini nantinya dapat menjadi pembelajaran praktis tentang bagaimana kebijakan ekonomi sirkular diterapkan dalam kondisi lokal yang berbeda. Fokusnya bukan hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menjaga nilai material agar tetap berputar dalam perekonomian, menciptakan manfaat sosial, dan mendukung lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Indonesia dan Jerman kerja sama kelola?
Indonesia dan Jerman kerja sama kelola is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Indonesia dan Jerman kerja sama kelola matter?
Indonesia dan Jerman kerja sama kelola matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

