Strategi Penting: BGN: Insentif SPPG Rp 6 Juta/Hari Bukan Dana Pembangunan dari APBN

BGN: Insentif SPPG Rp 6 Juta/Hari Tidak Berasal dari Dana APBN

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindaya menjelaskan mengenai insentif yang diberikan kepada satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) sebesar Rp6 juta per hari. Menurut Dadan, insentif ini bukan dana pembangunan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan bagian dari mekanisme pembayaran layanan yang sudah berjalan. “Pertama, insentif sebesar Rp6 juta per hari tidak berasal dari dana APBN, melainkan sebagai bagian dari mekanisme pembayaran jasa SPPG yang telah berjalan. Seluruh proses pembangunan fisik dilakukan secara mandiri oleh mitra, dengan investasi mereka sendiri,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (27 Februari 2026).

Peran Mitra dalam Proses Pembangunan

Dadan menegaskan bahwa risiko pembangunan, pelaksanaan operasional, evaluasi, serta bencana alam sepenuhnya ditanggung oleh mitra. Ia memberi contoh SPPG di Aceh yang rusak akibat banjir, di mana kerugian total menjadi tanggung jawab mitra, bukan BGN. “Seperti di Aceh ketika SPPG tersapu banjir, mitra lah yang rugi, bukan BGN. Mereka harus membangun kembali, jadi kita memindahkan risiko ke mitra,” tambahnya. Dadan menambahkan bahwa insentif Rp6 juta per hari dianggap efisien karena BGN tidak mengeluarkan biaya sama sekali untuk perawatan atau perbaikan.

Kemitraan Sebagai Pendekatan Efisien

Dalam menegaskan keunggulan skema kemitraan, Dadan menyebutkan bahwa model ini mencegah adanya markup biaya. Mitra diharapkan membangun fasilitas secara optimal sesuai kebutuhan layanan. “SPPG yang dibangun oleh Pondok Pesantren Persatuan Islam (Persis) lalu terlihat sangat baik. Mereka membangunnya dengan dana Rp3 miliar, sementara jika menggunakan APBN mungkin membutuhkan Rp6 miliar. Jadi kita sudah lebih efisien 50 persen,” jelas Dadan. Ia juga menyoroti kecepatan waktu dalam penyelesaian proyek, dengan mitra mampu menyelesaikan pembangunan dalam waktu dua bulan, sementara proses APBN melibatkan lebih banyak tahapan yang memakan waktu lebih lama.

Capaian BGN dalam Pemenuhan SPPG

Saat ini, BGN telah memiliki 24.122 SPPG yang semuanya dibangun melalui skema kemitraan dan beroperasi. Rata-rata, 50 SPPG terbuka setiap hari, yang menunjukkan efektivitas pendekatan ini. Capaian ini menjadi bukti bahwa kemitraan mampu mempercepat proses pengembangan sekaligus menjaga efisiensi dan akuntabilitas anggaran. “Dengan model ini, BGN bisa mengoptimalkan penggunaan dana dan mengurangi hambatan administratif,” tutur Dadan.

“Bangunan semewah Persis, Polri, atau tempat lain bisa terealisasi dalam dua bulan, selesai. Kalau APBN, harus tunjuk konsultan dulu, lalu kirim surat ke Pemda, cari tanah, survei, dan geser posisi. Semua itu memakan waktu satu bulan. Setelah selesai, baru tender, yang membutuhkan 45 hari. Sementara mitra langsung menyelesaikan pekerjaan dalam 45 hari,”

Selain itu, ada pemberitaan viral terkait telur MBG yang dianggap bercampur kotoran ayam, serta penjelasan dari Waka BGN mengenai isu tersebut. DetikSore juga menayangkan video yang membahas insentif Rp6 juta per hari untuk SPPG, meskipun dalam masa libur. Video ini menjadi sarana untuk menjelaskan lebih lanjut tentang peran BGN dan mitra dalam program pembangunan gizi nasional.