Program Terbaru: Psikolog: Permainan tradisional jadi alternatif positif bagi anak

Psikolog: Permainan Tradisional Bisa Jadi Pilihan Positif Bagi Anak

Kupang, NTT (ANTARA) – Dalam rangka penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, psikolog Abdi Keraf mengatakan bahwa permainan tradisional dapat menjadi alternatif bermanfaat bagi anak-anak. Ia menekankan bahwa permainan ini penting untuk mendukung pertumbuhan sosial dan perkembangan emosi.

Dalam wawancara di Kupang, NTT, Senin, Abdi Keraf menyatakan bahwa anak tidak harus bergantung sepenuhnya pada media sosial untuk mengekspresikan diri. Aktivitas berkelompok, bersosialisasi, dan belajar bersama dalam konteks nyata tetap memberikan manfaat besar. Menurutnya, permainan tradisional memberikan kontribusi signifikan terhadap proses pembentukan keterampilan sosial dan emosional.

PP Tunas Tidak Hanya Batasi Medsos

“Pembatasan penggunaan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun bukan berarti mengurangi ruang gerak mereka. Kebijakan ini justru mengajak anak-anak kembali ke interaksi langsung,” ujarnya.

Abdi Keraf menegaskan bahwa PP Tunas bertujuan mengontrol penggunaan media sosial, bukan membatasi hak anak. Ia menyarankan bahwa ada metode lain yang lebih bermanfaat untuk ekspresi diri, seperti permainan tradisional. Menurutnya, nilai-nilai sosial, kekerabatan, moral, dan spiritualitas terkandung dalam permainan lama yang masih relevan.

Menurut Abdi, anak yang bermain secara langsung bisa membangun kecerdasan emosional dan sosial. “Bermain dengan teman-teman mendorong proses pengembangan diri yang tidak tergantikan oleh media sosial. Saat mereka berinteraksi langsung, proses penyaringan dan edukasi akan lebih efektif,” jelasnya.

Kegiatan Langsung Membentuk Kematangan Pikiran

“Keterampilan mengekspresikan diri dan memproses informasi bisa berkembang lebih baik melalui pengalaman nyata. Jika hanya mengakses medsos, anak mungkin terpapar stimulus tanpa pengawasan langsung,” tambahnya.

Ia mengajak orang tua, guru, serta masyarakat untuk mendorong anak-anak kembali pada aktivitas interaksi sosial. Dengan demikian, anak tidak hanya memiliki waktu bermain, tetapi juga belajar membangun hubungan dengan teman sebaya secara alami.