Kebijakan Baru: YKAN beri pelatihan dukung regenerasi pelaku tradisi “sasi” perempuan
YKAN Berikan Pelatihan untuk Regenerasi Tradisi “Sasi” Perempuan
Gianyar, Bali (ANTARA) – Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melaksanakan sejumlah program pelatihan kepada para ibu yang terlibat dalam tradisi dan adat pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, yaitu “sasi”, di Laut Papua Barat Daya. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah menjaga keberlanjutan tradisi tersebut dengan mengajarkan kepada generasi muda. Program ini berlangsung selama setahun, dengan harapan para ibu bisa menjadi pelatih bagi anggota kelompok sasi yang lebih muda.
Pelatihan untuk Membangkitkan Adat Setempat
Manajer Program Kelautan YKAN, Hilda Lionata, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilakukan karena sasi dianggap selaras dengan usaha konservasi alam. “Sasi sudah menjadi bagian dari budaya mereka, adat istiadat yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Maka, mengapa tidak kami perkuat kembali?” ujarnya saat berbicara di tengah acara Pertukaran Pembelajaran Kelompok Sasi Perempuan dari tiga desa di Kabupaten Raja Ampat, yang berlangsung di Desa Ubud, Gianyar, Bali, Jumat.
“Kenapa YKAN meregenerasi sasi, karena kami merasa sasi ini selaras dengan kegiatan konservasi alam. Karena ini sudah jadi darah dagingnya mereka, adatnya mereka, kenapa gak kami bangkitkan kembali,” kata Hilda.
Konten Pelatihan yang Diberikan
Pelatihan yang diberikan mencakup berbagai aspek, seperti aturan pemerintah terkait perdagangan spesies dalam CITES Appendix 2, teknik pengelolaan 101 teripang laut dan lobster, serta metode pengumpulan data tentang keanekaragaman hayati dan kelimpahan. Selain itu, ada juga pelatihan pembukuan arus kas sederhana untuk kelompok, perawatan perahu dan mesin, free dive, monitoring visual dan garis transek, serta penanganan hasil panen dan lobster.
Dari semua materi tersebut, pelatihan yang lebih fokus pada penguatan perempuan adalah 101 teripang laut dan lobster, serta protokol pemanenan berkelanjutan. “Tapi, khusus tahun ini kami ingin memperkuat kemampuan para ibu terlebih dahulu. Nanti di tahun kedua, mereka akan bertugas mengajar kelompok lelaki dan basis clan,” tambah Hilda.
“Jangan sebatas ini. Tetapi, mungkin ada lagi kita bertemu sama-sama begini, juga berbagi pengalaman. Mungkin yang Mama Ribka tidak tahu, dengan begini Mama Ribka jadi tahu, boleh ngomong, tanya-tanya pengalaman Mama Ribka,” ujarnya.
Kelompok Praktik Sasi di Kampung Aduwei
Ketua Kelompok Praktik Sasi dari Kampung Aduwei, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat, Ribka Botot, menyatakan bahwa pelatihan ini memberikan manfaat besar dalam menjaga kelestarian laut dan keragaman biota laut. Menurutnya, regenerasi tradisi sasi penting untuk mencegah penangkapan berlebihan menggunakan alat yang merusak ekosistem.
