Yang Dibahas: Bukan Jenderal! Ini Sosok yang Punya Kuasa Tertinggi dalam Perang AS
Bukan Jenderal! Ini Sosok yang Punya Kuasa Tertinggi dalam Perang AS
Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik antara AS dan Iran kembali menyoroti cara kerja sistem komando militer Amerika Serikat saat krisis memanas di wilayah Timur Tengah. Setiap tindakan militer, mulai dari pengeboman hingga pengoperasian kapal induk, didasari proses pengambilan keputusan yang kompleks, yang melibatkan level politik hingga komando tempur di lapangan.
Struktur Puncak Pentagon
Dalam praktiknya, operasi besar AS biasanya melibatkan pembicaraan politik internal, termasuk dengan Kongres. Setelah itu, rencana dibahas bersama Menteri Pertahanan, yang menjadi pimpinan sipil utama di Departemen Pertahanan. Saat ini, posisi ini dijabat oleh Pete Hegseth, dengan Steve Feinberg sebagai wakilnya. Keduanya berada di puncak struktur kekuasaan Pentagon.
Baca: Garda Revolusi Kuasai Iran: Negara dan Perang Kini di Tangan Militer
Sementara itu, peran strategis militer ditangani oleh Kepala Kepala Staf Gabungan (Joint Chiefs of Staff) bersama para komandan matra. Mereka bertugas menyusun opsi serangan, strategi operasi, serta memastikan kesiapan alutsista dan personel di setiap cabang militer. Tugas ini tidak dilakukan secara mandiri, melainkan didukung oleh para kepala staf dari angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara, dan korps marinir.
Komando Tempur: CENTCOM sebagai Ujung Tombak Operasi ke Iran
Setelah rencana disetujui oleh presiden, pelaksanaan operasi dijalankan oleh combatant commands. Untuk konflik yang melibatkan Iran, komando yang paling relevan adalah U.S. Central Command (CENTCOM). Wilayah tanggung jawabnya mencakup Iran, Teluk Persia, Irak, Suriah, serta jalur pelayaran vital di kawasan tersebut. Komando ini dipimpin oleh Laksamana Brad Cooper.
Baca: Drone Swarm Jadi Masa Depan Perang, Ukraina Jadi Laboratoriumnya
Dari sisi struktur, keputusan politik berasal dari pimpinan sipil, sementara perencanaan militer disusun oleh petinggi angkatan bersama. Di antara mereka, Kepala Staf Angkatan Darat ke-41 adalah Jenderal Randy A. George, Kepala Operasi Angkatan Laut ke-34 adalah Laksamana Daryl Caudle, Kepala Staf Angkatan Udara ke-41 adalah Jenderal Kenneth S. Wilsbach, dan Komandan Korps Marinir adalah Jenderal Eric M. Smith.
Dengan demikian, meskipun jenderal dan laksamana memiliki peran kritis, kuasa tertinggi dalam operasi militer tetap berada di tangan presiden. Dari proses ini, strategi politik diubah menjadi aksi nyata di medan perang, terutama melalui keterlibatan CENTCOM sebagai ujung tombak.
