Yang Dibahas: Pernyataan Trump Redam Gejolak Harga Minyak Dunia, Brent Turun ke Level US$98
Pernyataan Trump Redam Gejolak Harga Minyak Dunia, Brent Turun ke Level US$98
Harga minyak mentah global terpaksa menurun setelah mencapai puncak empat tahun terakhir. Pernyataan dari Presiden AS, Donald Trump, yang menyinggung kemungkinan perang antara AS-Israel dan Iran berakhir “sangat segera” berhasil mendinginkan suasana pasar. Sebelumnya, harga minyak Brent sempat melonjak melewati US$100 per barel, pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Minyak Brent bahkan mencapai titik tertinggi US$119,50 pada perdagangan Senin lalu, namun akhir pekan ini terpaksa merosot hingga US$98,96 per barel. Dalam wawancara dengan CBS News, Trump menyatakan konflik di Iran “sudah sangat lengkap, hampir selesai”. Kalimat ini langsung berdampak pada sentimen pasar, yang sebelumnya terpukul karena ketakutan akan gangguan pasokan.
“Kapal-kapal mulai bergerak melalui Selat (Hormuz). Saya berpikir untuk mengambil alih kendali wilayah tersebut,” ujar Trump.
Langkah Trump berdasarkan analisis bahwa Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% kebutuhan minyak dunia. Pernyataan agresifnya tentang upaya menjamin stabilitas jalur pasokan ini dinilai sebagai sinyal positif bagi pelaku pasar. Selat Hormuz sebelumnya disebut sebagai penyebab gangguan terbesar dalam sejarah distribusi energi oleh lembaga riset Rapidan Energy.
Sumber internal mengungkapkan Trump sedang mempertimbangkan pengurangan sanksi minyak terhadap Rusia. Tujuannya adalah menekan harga komoditas global. Meski harga mulai stabil, ketegangan di lapangan masih terjadi. Produksi minyak di Irak turun hingga 70%, sementara Kuwait dan Uni Emirat Arab juga memangkas pasokan karena keterbatasan ruang penyimpanan akibat hambatan di Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengingatkan kapal tanker tetap waspada. “Selama situasi belum aman, saya pikir semua tanker dan navigasi maritim harus sangat berhati-hati,” tambahnya kepada CNBC.
Para menteri energi G7 berencana menggelar pertemuan virtual pada Selasa pagi untuk membahas peningkatan pasokan darurat. Menteri Energi AS, Chris Wright, menilai lalu lintas kapal di Selat Hormuz akan pulih segera setelah ancaman terhadap kapal dihilangkan. “Kita tidak lama lagi akan melihat dimulainya kembali lalu lintas kapal secara reguler melalui Selat Hormuz,” pungkasnya.
