Program Terbaru: Pentagon Akui Tak Ada Bukti Iran Akan Serang AS Lebih Dulu

Pentagon: Tidak Ada Bukti Iran Akan Menyerang AS Terlebih Dahulu

Dalam pertemuan dengan anggota Kongres pada hari Minggu (1/3/2026), Departemen Pertahanan AS mengakui bahwa tidak ada indikasi yang jelas mengenai rencana Iran untuk menyerang negara tersebut lebih dulu. Hal ini bertentangan dengan pernyataan seorang pejabat tinggi pemerintahan yang sebelumnya mengklaim bahwa Iran mengancam pasukan AS di wilayah Timur Tengah.

Kontroversi Terkait Serangan Besar ke Iran

Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran dilakukan sebagai respons terhadap ancaman yang segera mengintai pasukan AS. Seorang sumber mengungkapkan, Trump bersikeras untuk bertindak tanpa mengizinkan pasukan AS di wilayah itu menjadi korban serangan terlebih dahulu.

Pengarahan Pentagon ke Komite Keamanan Nasional

Seorang juru bicara dari Gedung Putih, Dylan Johnson, menjelaskan bahwa pejabat Pentagon memberikan laporan selama lebih dari 90 menit kepada anggota Partai Demokrat dan Republik di berbagai komite keamanan nasional di Senat dan DPR. Menurut dua sumber anonim, para pejabat menekankan bahwa rudal balistik Iran dan pasukan prokemiannya membentuk ancaman nyata, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan Teheran akan menyerang lebih dulu.

Trump Serang Iran: Tujuan dan Kritik

“Operasi ini bertujuan menghentikan Iran dari mengembangkan senjata nuklir, mengendalikan program misilnya, serta menghilangkan ancaman terhadap AS dan sekutunya,” tegas Trump.

Di sisi lain, Partai Demokrat menuduh Trump memulai perang berdasarkan keinginan pribadinya, sehingga menghambat upaya perdamaian yang menurut mediator Oman masih berpotensi menghasilkan hasil positif. Klaim Trump tentang rudal Iran tidak didukung oleh data intelijen AS, menurut sumber yang mengetahui laporan tersebut.

Korban dan Dampak Serangan

Komando Pusat AS mengungkapkan bahwa tiga tentara mati dan lima lainnya terluka parah dalam serangan terhadap Iran. Beberapa tentara juga mengalami cedera ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak. Pada hari yang sama, pesawat militer Netanyahu terbang ke Jerman, disinyalir membawa Perdana Menteri Israel.

Detik-detik Serangan Militer

Sejak Sabtu (28/2/2026), AS dan Israel melakukan serangan masif ke Iran, menewaskan Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah keluarga pemimpin tersebut. Serangan ini mencakup lebih dari 1.000 target, termasuk serangan menggunakan pesawat pembom siluman B-2 yang melempar bom berat 2.000 pon ke fasilitas rudal bawah tanah Iran.

Opini Publik Terhadap Aksi Militer

Survei Reuters/Ipsos pada hari Minggu menunjukkan bahwa 27 persen warga AS mendukung tindakan tersebut, sementara 43 persen menolak dan 29 persen masih ragu.