Mengatasi Masalah: Di Balik Narasi “Perang Akhir Zaman”: Potensi Eskalasi Rekrutmen Teroris di Tengah Konflik Iran Israel
Di Balik Narasi “Perang Akhir Zaman”: Potensi Eskalasi Rekrutmen Teroris di Tengah Konflik Iran-Israel
JAKARTA, KOMPAS.com – Konflik antara Iran dan Israel memanas setelah serangan rudal yang dilancarkan Israel pada 28 Februari 2026 mengakibatkan kematian Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya. Sebagai respons, Iran mengirim rudal ke berbagai lokasi militer Amerika Serikat, termasuk wilayah di Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, dan Qatar. Perhatian internasional fokus pada Timur Tengah, di mana eskalasi pertarungan ini memaksa negara-negara mengambil sikap berbeda, ada yang mengecam, ada juga yang ingin menjadi mediator perdamaian.
Di tengah ketegangan global ini, muncul narasi kuat di media sosial tentang “perang akhir zaman.” Beberapa teori eskatologi dan tagar terkait kiamat mulai meramaikan diskursus. Meski secara umum narasi ini sering muncul dalam pembicaraan umat beragama, Patria—mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Jemaah Islamiyah—menilai ada sudut pandang yang lebih dalam dalam konteks rekrutmen teroris.
Konflik Timur Tengah dan Tantangan Gerakan Terorisme
Dalam wawancara dengan Kompas.com pada Minggu (1/3/2026), Patria memaparkan bahwa konflik besar sering dipakai sebagai alat untuk menyebarkan ideologi terorisme. Ia menunjukkan contoh dari Revolusi Suriah 2011, di mana narasi akhir zaman digunakan oleh kelompok-kelompok radikal. Meski konflik tersebut berakhir, narasi tersebut tetap menjadi pemicu bagi keinginan merekrut anggota baru.
“Mengaitkan peristiwa dunia hari ini dengan peristiwa akhir zaman itu sudah mulai sejak lama, dan jawaban utamanya itu semuanya tidak ada yang bisa memastikan,” ujarnya.
Patria juga mengingatkan bahwa narasi ini dapat menarik perhatian siapa saja, baik dari kalangan terdidik maupun yang kurang ajar. Faktor ekonomi sosial, seperti kemiskinan, menjadi pendorong bagi seseorang untuk bergabung dengan kelompok teroris. Bahkan, tokoh-tokoh teroris berasal dari latar belakang ekonomi yang stabil.
Kerentanan seseorang terhadap narasi ini, menurut Patria, berada pada ranah individu, pemikiran kritis, literatur yang luas, dan kecerdasan emosional spiritualnya. “Jadi kerentanan seseorang untuk masuk kepada narasi seperti ini itu tidak serta merta memang terkait dengan satu aspek saja,” tambahnya.
Konteks Rekrutmen Teroris di Indonesia
Kini, di tengah perang besar di Timur Tengah, Patria memperkirakan bahwa narasi “perang akhir zaman” bisa kembali dipakai untuk membangun kembali gerakan teroris di Indonesia. Ia menekankan bahwa kelompok-kelompok radikal memanfaatkan kebingungan geopoltik sebagai sarana merekrut anggota baru.
“Kalau itu disalahgunakan untuk memobilisir atau merekrut orang, nah itu yang mungkin juga, terutama bagi kelompok-kelompok radikal yang belum mendapatkan pencerahan. Itu sangat mungkin dan masih menjadi cara yang paling menarik, paling efektif untuk menarik merekrut anggota baru,” ucapnya.
Dalam konteks ini, anggota DPR menyetujui tundaan umrah sebagai langkah mengamankan jemaah. Sementara Dubes Iran menyatakan kesiapan negaranya untuk melawan, lebih siap dari perang yang berlangsung dalam 12 hari. Selain itu, Kaesang menyampaikan harapan kepada Ketum MUI dan para kyai agar perang Iran vs Israel-AS segera berakhir.
Patria mengingatkan bahwa efek dari narasi ini bisa menjangkau siapa pun, termasuk orang-orang yang sebelumnya tidak terlibat dalam gerakan teroris. “Korban narasi perang akhir zaman menuju gerakan terorisme ini bisa menyangkut siapa saja,” jelasnya.
