Bisnis

Legislator dorong pemerintah bangun pendingin ikan untuk nelayan

WhatsApp-Image-2026-09-08-at-13.48.49

Infrastruktur Rantai Dingin: Kunci Mengubah 15 Juta Ton Ikan Menjadi Nilai Ekspor Nyata

Ayobantudonasi.com – Setiap tahun Indonesia menghasilkan sekitar 15 juta ton ikan dari gabungan perikanan tangkap dan budidaya. Angka itu menempatkan negeri ini di jajaran produsen perikanan terbesar dunia. Namun di balik skala produksi yang masif tersebut, tersimpan persoalan struktural yang selama ini menggerogoti pendapatan nelayan dan melemahkan posisi Indonesia di pasar internasional: rendahnya pemanfaatan sistem rantai dingin. Saat ini, kurang dari 12 persen dari total produksi perikanan nasional yang tersentuh oleh infrastruktur pendinginan dan penyimpanan berstandar. Sisanya—lebih dari 87 persen—mengalir tanpa perlindungan suhu yang memadai, sehingga mutu produk turun drastis sebelum mencapai meja konsumen atau pelabuhan ekspor.

Kondisi inilah yang menjadi sorotan tajam Prof Rokhmin Dahuri, anggota Komisi IV DPR RI, yang secara terbuka mendesak pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur pendinginan dan penyimpanan ikan. Dorongan tersebut tidak berdiri sendiri; ia terikat erat dengan keberhasilan program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), yang bertujuan mengangkat taraf hidup komunitas pesisir melalui pengelolaan hasil tangkapan yang lebih bernilai tambah.

Dampak Ganda: Ekonomi, Kesehatan, dan Daya Saing Ekspor

Rokhmin menegaskan bahwa degradasi mutu ikan bukan sekadar persoalan teknis di dermaga. Ketika kualitas produk turun, konsekuensinya berlapis. Harga jual merosot, bahkan ikan menjadi tidak laku di pasar lokal. Lebih jauh, produk yang tidak memenuhi standar keamanan pangan mengancam kesehatan konsumen dan sekaligus menurunkan daya tarik Indonesia di mata pembeli luar negeri.

“Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita.”

Pernyataan itu menggarisbawahi satu fakta: tanpa rantai dingin yang berfungsi, Indonesia akan terus terjebak sebagai pemasok bahan mentah bernilai rendah, sementara negara-negara tetangga yang telah menginvestasikan infrastruktur pasca-panen meraup margin keuntungan dari produk olahan.

Rantai Dingin yang Menyeluruh, Bukan Parsial

Rokhmin menekankan bahwa penguatan cold chain system tidak boleh berhenti pada satu titik. Ia harus mencakup seluruh alur: dari kapal atau lokasi produksi, tempat pendaratan dan pengumpulan, fasilitas penyimpanan, tahap pengolahan, jaringan distribusi, hingga produk tiba di tangan konsumen. Setiap mata rantai yang lemah akan menjadi titik kegagalan yang membatalkan upaya di segmen lain.

Dengan cakupan yang demikian luas, investasi infrastruktur menjadi prasyarat mutlak. Tanpa intervensi negara—baik melalui anggaran langsung maupun insentif kebijakan—nelayan kecil tidak akan mampu menanggung biaya pendinginan secara mandiri. Di sinilah peran pemerintah sebagai penyedia regulasi, alokasi anggaran, dan ekosistem kebijakan yang mendukung keberlanjutan operasional fasilitas tersebut.

Energi Surya sebagai Tulang Punggung Teknologi Rendah Emisi

Salah satu arah pengembangan yang Rokhmin tekankan adalah pemanfaatan teknologi efisien dan rendah emisi, khususnya energi surya. Indonesia, dengan posisi geografis di khatulistiwa, memiliki ketersediaan radiasi matahari yang melimpah sepanjang tahun. Pemanfaatan energi terbarukan ini dapat diterapkan secara bertahap pada kapal perikanan, cold storage, refrigerator, maupun cool box di tingkat komunitas.

“Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon yang harus dimanfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari.”

Gagasan penggunaan energi surya di sektor perikanan bukan hal baru bagi Rokhmin sendiri. Ia menginisiasi langkah-langkah awal sejak menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004, antara lain melalui kerja sama riset dengan Institut Teknologi Bandung dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Pengalaman itu menjadi landasan bagi usulannya agar pengembangan teknologi pendinginan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi operasional nyata di sentra-sentra perikanan, bukan sekadar adopsi model yang dirancang untuk konteks berbeda.

Alih Teknologi dan Penguatan Industri Nasional

Rokhmin mengakui bahwa tidak semua komponen teknologi rantai dingin dapat diproduksi di dalam negeri dalam waktu dekat. Kerja sama dengan perusahaan asing tetap terbuka. Namun, ia menegaskan bahwa setiap kolaborasi harus menghasilkan manfaat konkret bagi ekonomi domestik: transfer teknologi, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), penciptaan nilai tambah, dan penyerapan tenaga kerja lokal.

“Manfaat kerja sama dengan luar negeri itu harus segera kita raih, yaitu manfaat alih teknologi, manfaat nilai tambah harus jatuh di kita, dan manfaat tenaga kerja juga harus di kita. Jangan sampai kita hanya impor gelondongan, tidak ada komponen satu pun yang diproduksi di dalam negeri.”

Ketegasan ini penting mengingat sejarah panjang Indonesia dalam mengimpor peralatan perikanan secara utuh tanpa membangun kapabilitas manufaktur lokal. Tanpa mekanisme yang memastikan transfer pengetahuan, investasi asing berisiko menjadi sekadar transaksi satu arah yang tidak meninggalkan jejak penguatan industri domestik.

Pendekatan Pentaheliks: Kolaborasi Lintas Sektor

Skala tantangan rantai dingin melampaui kapasitas satu lembaga saja. Rokhmin mengusulkan pendekatan pentaheliks yang melibatkan lima pilar sekaligus: pemerintah, industri swasta, akademisi dan peneliti, komunitas nelayan beserta pelaku usaha perikanan, serta media. Masing-masing memegang fungsi spesifik. Pemerintah menyediakan kerangka regulasi dan dukungan fiskal. Industri menyuntikkan teknologi dan modal. Akademisi mendorong inovasi berbasis riset. Komunitas nelayan berperan sebagai pengguna sekaligus penerima manfaat langsung. Media memperluas edukasi publik agar masyarakat memahami pentingnya mutu produk perikanan dan mendukung kebijakan terkait.

Keberhasilan program KNMP, pada akhirnya, tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan infrastruktur pasca-panen yang andal. Tanpa pendinginan yang memadai, ikan yang ditangkap dengan susah payah akan kehilangan sebagian besar nilainya sebelum mencapai pasar. Membangun rantai dingin yang komprehensif, berbasis energi bersih, dan didukung kolaborasi lintas sektor bukan lagi pilihan—ia adalah prasyarat agar Indonesia bertransformasi dari sekadar produsen volume menjadi pemain bernilai tambah tinggi dalam perdagangan perikanan global.

Frequently Asked Questions

What is Legislator dorong pemerintah bangun pendingin ikan?

Legislator dorong pemerintah bangun pendingin ikan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Legislator dorong pemerintah bangun pendingin ikan matter?

Legislator dorong pemerintah bangun pendingin ikan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.