Turkiye Perkuat Jejaring Strategis dengan SCO di Tengah Pergeseran Arsitektur Global
Ayobantudonasi.com – Presiden Recep Tayyip Erdogan menegaskan kembali komitmen Ankara untuk memperluas kerja sama dengan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) dalam pernyataan yang disampaikan seusai rapat kabinet pada Senin, 7 September. Pernyataan tersebut dirilis oleh kantor Kepresidenan Turkiye dan menandai salah satu sinyal terbaru bahwa negara yang menjembatani dua benua itu terus mencari posisi strategis dalam tatanan geopolitik yang semakin multipolar.
Peran Turkiye sebagai Mitra Dialog
Sejak memperoleh status mitra dialog pada tahun 2010, Turkiye secara bertahap memperdalam keterlibatannya dengan SCO. Status ini memungkinkan Ankara berpartisipasi dalam forum-forum organisasi tanpa memiliki hak suara penuh seperti anggota resmi. Dalam pidato terbarunya, Erdogan menyebut SCO sebagai salah satu organisasi regional yang hubungan dengannya telah mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Organisasi Kerja Sama Shanghai, yang mana kami merupakan mitra dialog, adalah salah satu organisasi regional yang hubungannya dengan kami telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.”
Pernyataan ini bukan sekadar retorika diplomatik. SCO kini mencakup negara-negara yang secara kolektif menyumbang porsi besar populasi dunia dan output ekonomi global, mulai dari Tiongkok dan Rusia hingga India, Iran, serta negara-negara Asia Tengah. Bagi Ankara, yang perekonomiannya sangat bergantung pada perdagangan lintas benua, akses ke pasar-pasar tersebut memiliki nilai strategis yang tidak dapat diabaikan.
Konteks Pertemuan SCO Plus di Bishkek
Sebelum pernyataan kabinet tersebut, Erdogan telah menghadiri pertemuan format “SCO Plus” di Bishkek, ibu kota Kirgizstan, pada 1 September. Format ini dirancang khusus untuk melibatkan mitra-mitra non-anggota dalam diskusi kebijakan organisasi. Dalam forum tersebut, Erdogan secara eksplisit menegaskan kembali tekad Turkiye untuk meningkatkan volume perdagangan dengan negara-negara anggota SCO.
Pertemuan di Bishkek juga menjadi wadah pembahasan mengenai kontribusi SCO terhadap penguatan multipolaritas dunia. Konsep multipolaritas merujuk pada tatanan internasional di mana kekuatan politik dan ekonomi tersebar di beberapa pusat pengaruh, bukan terkonsentrasi pada satu kutub tunggal. Bagi Ankara, dukungan terhadap arsitektur semacam ini sejalan dengan kebijakan luar negeri yang selama ini menekankan kemandirian strategis, meskipun Turkiye tetap menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Dimensi Ekonomi dan Perdagangan
Penekanan Erdogan terhadap peningkatan perdagangan dengan anggota SCO mencerminkan perhitungan ekonomi yang konkret. Negara-negara Asia Tengah, yang menjadi anggota inti SCO sejak pendirian organisasi pada tahun 2001, merupakan pasar yang terus tumbuh dan jalur logistik penting dalam koridor perdagangan utara-selatan. Tiongkok dan Rusia, dua kekuatan terbesar dalam organisasi, juga merupakan mitra dagang utama Turkiye di sektor energi, manufaktur, dan teknologi.
India dan Iran, yang baru memperoleh keanggotaan penuh SCO pada tahun 2023, semakin memperluas cakupan ekonomi organisasi. Bagi Ankara, keterlibatan dengan blok yang kini mencakup lebih dari separuh populasi dunia membuka peluang diversifikasi mitra dagang di luar pasar Eropa yang selama ini mendominasi ekspor Turkiye. Diversifikasi semacam ini dianggap penting untuk mengurangi kerentanan ekonomi terhadap guncangan geopolitik di kawasan Mediterania Timur dan Eropa Timur.
Implikasi bagi Kebijakan Luar Negeri Ankara
Keterlibatan Turkiye dengan SCO sering dibaca sebagai bagian dari strategi “diplomasi multidimensi” yang menjadi ciri khas era Erdogan. Di satu sisi, Ankara mempertahankan aliansi militer dengan NATO dan melanjutkan proses negosiasi keanggotaan Uni Eropa. Di sisi lain, hubungan dengan Rusia, Tiongkok, dan negara-negara Asia Tengah terus diperdalam melalui mekanisme seperti SCO, BRICS, dan forum-forum bilateral.
Pendekatan ini menempatkan Turkiye dalam posisi unik: sebuah negara NATO yang secara aktif berpartisipasi dalam forum-forum yang dipimpin oleh kekuatan-kekuatan non-Barat. Bagi pengamat kebijakan luar negeri, langkah-langkah semacam ini menunjukkan bahwa Ankara berupaya memastikan bahwa kepentingan nasionalnya tidak sepenuhnya bergantung pada satu poros kekuatan saja. Dalam konteks persaingan strategis yang semakin tajam antara blok Barat dan blok non-Barat, kemampuan untuk berinteraksi dengan kedua sisi sekaligus menjadi aset diplomatik yang bernilai tinggi.
Prospek Kerja Sama ke Depan
Dengan Erdogan yang secara terbuka menyebut SCO memiliki “potensi yang cukup besar” untuk kerja sama, dapat diantisipasi bahwa Ankara akan terus mendorong agenda perdagangan, investasi, dan pertukaran budaya dengan anggota organisasi. Pertemuan-pertemuan format SCO Plus di masa mendatang kemungkinan akan menjadi forum utama bagi Turkiye untuk memperdalam keterlibatannya, mengingat status mitra dialog tidak memberikan akses penuh ke mekanisme pengambilan keputusan internal organisasi.
Langkah-langkah ini juga beririsan dengan kepentingan ekonomi negara-negara Asia Tengah yang mencari mitra dagang dan investor di luar lingkaran tradisional mereka. Bagi Ankara, memperluas jejaring perdagangan ke kawasan tersebut bukan hanya soal angka ekspor-impor, melainkan juga soal memperkuat posisi tawar geopolitik di persimpangan antara Eropa, Asia, dan Timur Tengah.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Erdogan?
Erdogan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Erdogan matter?
Erdogan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

