Kemendikdasmen Dorong Literasi 3S sebagai Pilar Menuju Indonesia Emas 2045
Ayobantudonasi.com – Peringatan Hari Aksara Internasional yang digelar secara daring melalui kanal YouTube Kemendikdasmen di Jakarta Pusat pada Selasa menjadi momentum bagi pemerintah untuk menegaskan kembali komitmen penguatan literasi nasional. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti hadir membuka acara tersebut dan menyampaikan bahwa kerangka literasi yang ia sebut sebagai konsep 3S—Sesama, Semusta, dan Sejahtera—merupakan landasan strategis dalam membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan menuju visi Indonesia Emas 2045.
Adaptasi Tema Global UNESCO ke Konteks Nasional
Konsep 3S yang dipaparkan Mu’ti bukan konstruksi baru yang berdiri sendiri. Ia merupakan adaptasi langsung dari tema literasi global yang ditetapkan UNESCO untuk tahun berjalan, yakni literacy for the people, the planet and prosperity. Dengan menerjemahkan tema tersebut ke dalam bahasa kebijakan domestik, pemerintah berupaya menjembatani agenda internasional dengan kebutuhan nyata satuan pendidikan di Indonesia. Mu’ti menegaskan bahwa arah kebijakan ini selaras dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto, terutama pada poin penguatan pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
“Penguatan literasi ini sejalan dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Literasi adalah fondasi bagi Indonesia Emas 2045, bangsa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter peduli lingkungan dan sejahtera.”
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa literasi, dalam kerangka yang dimaksud, tidak lagi dibatasi pada kemampuan membaca dan menulis semata. Ia diperluas menjadi kapasitas untuk memahami realitas sosial, membaca dinamika lingkungan, mengolah informasi ekonomi, serta mengambil tindakan konkret demi perbaikan kehidupan bersama. Di era di mana perubahan sosial berlangsung cepat, krisis iklim semakin nyata, teknologi digital merambah setiap sendi kehidupan, dan kecerdasan artifisial mulai mengubah lanskap pengetahuan, kemampuan berpikir kritis dan reflektif menjadi prasyarat bagi setiap warga negara.
Tiga Pilar: Sesama, Semesta, Sejahtera
Mu’ti merinci makna operasional dari masing-masing pilar 3S. Pilar pertama, Sesama, menekankan prinsip inklusivitas pendidikan: tidak ada satu pun individu yang boleh tertinggal dari akses kesempatan belajar. Pilar kedua, Semesta, mengaitkan pengetahuan dengan tanggung jawab ekologis melalui literasi iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan aksi keberlanjutan yang terukur. Pilar ketiga, Sejahtera, mengarahkan pembelajar pada penguasaan kecakapan hidup, literasi finansial, kewirausahaan, serta keterampilan digital yang memungkinkan mereka bekerja, berkarya, dan meningkatkan kualitas hidup secara mandiri.
“Sesama berarti kita semua berusaha agar tidak ada seorang pun yang tertinggal dari kesempatan belajar. Semesta berarti kita semua berusaha agar pengetahuan mampu menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui literasi iklim, konservasi, dan aksi keberlanjutan yang nyata. Sejahtera berarti kita semua berusaha bagaimana memiliki kecakapan hidup, literasi finansial, kewirausahaan, dan keterampilan digital untuk mampu bekerja, berkarya, dan hidup lebih baik lagi.”
Pendekatan ini menempatkan satuan pendidikan, komunitas lokal, dan masyarakat luas sebagai aktor bersama dalam satu payung gerakan yang ringkas namun kontekstual. Dengan demikian, pesan literasi tidak berhenti pada ruang kelas, melainkan merembes ke dalam praktik sosial sehari-hari.
Sikap Pembelajar di Era Informasi
Mu’ti menambahkan bahwa keberhasilan program penguatan literasi sangat bergantung pada perubahan sikap pembelajar itu sendiri. Ia menyerukan pembelajaran yang mendalam, kritis, dan menyenangkan—bukan sekadar menghafal kata, melainkan memahami apa yang terjadi di sekitar. Pembelajar diharapkan menjadi pembaca yang baik, pendengar yang baik, sekaligus penulis yang baik, dengan kemampuan menilai, memilih, dan memilah informasi secara bertanggung jawab.
“Belajar yang reflektif, belajar yang kontekstual, dan belajar yang menggembirakan. Kita tentu saja berusaha menjadi pembaca yang baik, menjadi pendengar yang baik, sekaligus menjadi penulis yang baik.”
Perspektif UNESCO: Literasi sebagai Hak Fundamental
Dalam kesempatan yang sama, Santosh Khatri selaku Chief of Education UNESCO Regional Office in Jakarta menegaskan bahwa literasi merupakan hak asasi manusia sekaligus landasan bagi setiap individu untuk belajar dan berpartisipasi aktif dalam masyarakat global. Ia mengingatkan bahwa di tengah banjir informasi digital, penguatan literasi tidak lagi sekadar soal menyediakan akses. Tantangan sesungguhnya terletak pada memastikan setiap orang mampu menilai kredibilitas informasi, memilih sumber yang sahih, serta menggunakan teknologi digital secara aman dan bertanggung jawab.
“Itulah sebabnya, pengetahuan yang kuat mengenai literasi sangat penting pada era digital dan AI. Itulah juga sebabnya UNESCO memilih tema untuk Hari Literasi Internasional tahun ini literacy for the people, the planet and prosperity.”
Implikasi dan Arah Kebijakan
Penempatan konsep 3S sebagai fondasi kebijakan pendidikan membawa konsekuensi praktis yang luas. Bagi kurikulum, ia menuntut integrasi konten literasi iklim, literasi finansial, dan keterampilan digital ke dalam pembelajaran lintas mata pelajaran. Bagi guru, ia menggeser peran dari penyampai informasi menjadi fasilitator berpikir kritis. Bagi masyarakat, ia membuka ruang partisipasi yang lebih luas dalam agenda keberlanjutan dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Visi Indonesia Emas 2045, yang menargetkan transformasi ekonomi dan sosial dalam dua dekade ke depan, tidak dapat tercapai tanpa fondasi literasi yang kokoh. Tanpa kemampuan membaca dunia secara kritis, generasi mendatang akan rentan terhadap disinformasi, ketimpangan ekonomi, dan degradasi lingkungan. Dengan demikian, penguatan literasi 3S bukan sekadar program sektoral, melainkan investasi jangka panjang terhadap kapasitas kolektif bangsa untuk menghadapi kompleksitas abad ke-21.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Mendikdasmen?
Mendikdasmen is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Mendikdasmen matter?
Mendikdasmen matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

