Aqiqah merupakan salah satu sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran anak. Selain memiliki dimensi spiritual, aqiqah juga menjadi sarana untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama melalui penyembelihan hewan dan pembagian daging kepada orang-orang yang membutuhkan.
Namun demikian, masih banyak umat Islam yang belum memahami secara utuh bagaimana tata cara aqiqah dalam islam dilakukan dengan benar. Artikel ini hadir untuk memberikan panduan lengkap seputar pelaksanaan aqiqah, mulai dari waktu pelaksanaan, jenis hewan, hingga teknis penyajian dan distribusi dagingnya.
Table of Contents
TogglePengertian dan Hukum Aqiqah dalam Islam
Aqiqah secara bahasa berarti “memotong”, sedangkan secara istilah dalam Islam, aqiqah adalah penyembelihan hewan yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran anak. Aqiqah dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menunjukkan kepedulian sosial kepada masyarakat sekitar.
Dalam hal hukum, aqiqah tergolong sebagai sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW sendiri melakukan aqiqah untuk cucunya Hasan dan Husein, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits shahih. Meskipun tidak wajib, namun pelaksanaan aqiqah memiliki banyak keutamaan bagi anak dan orang tuanya.
Waktu Terbaik untuk Melaksanakan Aqiqah
Waktu ideal untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika pada hari ketujuh belum memungkinkan, maka boleh dilakukan pada hari ke-14 atau ke-21. Apabila masih belum mampu, aqiqah bisa dilakukan kapan saja setelah itu sesuai kemampuan.
Pelaksanaan pada hari ketujuh memiliki dasar kuat dalam hadits Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang anak tergadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelihkan pada hari ketujuh, lalu diberi nama dan dicukur rambutnya. Ini menjadi dasar pentingnya memperhatikan waktu pelaksanaan dengan sebaik mungkin.
5 Tata Cara Aqiqah dalam Islam
Berikut ini adalah lima tata cara aqiqah dalam islam yang penting untuk dipahami dan diterapkan secara benar dan sesuai syariat.
1. Menentukan Jumlah Hewan Sesuai Jenis Kelamin Anak
Untuk anak laki-laki disunnahkan menyembelih dua ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor kambing. Hewan yang digunakan harus sehat dan memenuhi syarat layak sembelih seperti pada kurban.
Jika kondisi ekonomi belum memungkinkan, maka menyembelih satu ekor kambing untuk anak laki-laki pun diperbolehkan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memberikan kelonggaran dalam pelaksanaannya, selama tetap mengutamakan niat dan ketulusan hati.
2. Pelaksanaan Penyembelihan
Penyembelihan hewan aqiqah sebaiknya dilakukan setelah waktu subuh dan sebelum waktu maghrib pada hari yang telah ditentukan. Sebaiknya dilakukan oleh orang yang memahami tata cara penyembelihan sesuai syariat.
Orang tua atau wali anak juga boleh ikut menyaksikan atau bahkan melakukannya jika mampu. Dianjurkan pula membaca basmalah dan takbir saat penyembelihan agar ibadah tersebut mendapatkan keberkahan dan keridhaan dari Allah SWT.
3. Mencukur Rambut Anak
Setelah penyembelihan, rambut anak yang diaqiqahi dicukur habis. Hal ini dilakukan sebagai simbol penyucian dan pengharapan doa agar anak tumbuh dalam keberkahan.
Rambut yang telah dicukur dianjurkan untuk ditimbang, dan nilai perak seberat rambut tersebut disedekahkan. Ini merupakan bagian dari bentuk sedekah dan ibadah sosial dalam aqiqah yang turut memberikan manfaat kepada kaum dhuafa.
4. Memberi Nama yang Baik
Pemberian nama biasanya dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan aqiqah, yaitu pada hari ketujuh kelahiran. Dianjurkan memberikan nama yang baik, mengandung doa, serta tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Nama merupakan bagian dari identitas yang akan dibawa seumur hidup. Oleh karena itu, dalam Islam, pemberian nama bukan hanya perkara administratif, tetapi juga mencerminkan harapan dan doa dari orang tua kepada anak.
5. Memasak dan Membagikan Daging Aqiqah
Berbeda dengan kurban, daging aqiqah disunnahkan untuk dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan. Daging yang sudah dimasak kemudian dibagikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan orang-orang yang membutuhkan.
Pelaksanaan aqiqah juga dapat menjadi momen kebersamaan dan berbagi yang menyenangkan. Dalam praktiknya, membagikan daging aqiqah bisa dilakukan dalam bentuk acara syukuran atau makan bersama. Anda juga bisa menyertakan amalan lain seperti sedekah di hari yang utama seperti disebutkan dalam amalan terbaik di hari jumat yang bisa mendatangkan keberkahan tambahan pada acara aqiqah tersebut.
Nilai Sosial dan Spiritualitas dari Aqiqah
Aqiqah tidak hanya menjadi wujud rasa syukur kepada Allah atas kelahiran anak, tetapi juga mengandung nilai sosial yang kuat. Dalam pembagiannya, orang tua diajarkan untuk menyebarkan kebahagiaan dengan memberi kepada orang lain, terutama yang membutuhkan.
Selain itu, aqiqah juga mengajarkan prinsip tanggung jawab spiritual terhadap anak sejak awal kelahirannya. Ini merupakan bentuk pengenalan anak terhadap nilai-nilai ibadah dan berbagi dalam Islam sejak dini.
Kesimpulan
Tata cara aqiqah dalam islam bukan hanya sekadar ritual penyembelihan hewan, tetapi mencakup serangkaian amalan yang penuh makna dan keberkahan. Dari pemilihan hewan, waktu pelaksanaan, mencukur rambut anak, pemberian nama, hingga pembagian daging yang dimasak, semuanya dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Melalui aqiqah, umat Islam diajak untuk merefleksikan rasa syukur dengan cara berbagi dan menjaga nilai-nilai spiritual dalam keluarga. Dengan menjalankan tata cara aqiqah dalam islam secara benar, diharapkan anak akan tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan doa dan keberkahan. Maka dari itu, penting bagi setiap orang tua Muslim untuk memahami dan melaksanakan aqiqah dengan kesungguhan dan niat yang tulus.
FAQ
1. Apa hukum aqiqah dalam Islam?
Aqiqah hukumnya sunnah muakkadah, sangat dianjurkan bagi umat Islam sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak.
2. Berapa jumlah hewan aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan?
Anak laki-laki disunnahkan dua ekor kambing, sedangkan perempuan satu ekor kambing.
3. Bolehkah aqiqah dilakukan setelah hari ketujuh kelahiran?
Ya, aqiqah boleh dilakukan setelah hari ketujuh jika kondisi belum memungkinkan.
4. Apakah daging aqiqah harus dimasak sebelum dibagikan?
Ya, sunnahnya daging aqiqah dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada masyarakat.
5. Bolehkah orang tua menyembelih sendiri hewan aqiqah?
Boleh, asalkan paham tata cara penyembelihan yang sesuai dengan syariat Islam.















